facebook twitter instagram

~ Beartopia ~

  • Home
  • Psychology
  • Joylada
    • Sweat & Tears
    • Freerunning Estafet
    • Pangeran Kuda Putih VS Mr. Cat
Sengaja bersikap, berperilaku (termasuk mode busana) yang secara nyata menonjolkan dan membuka bagian-bagian tubuh yang diketahui mengundang birahi. Kalau diketahui karakteristik pria lebih merupakan gejala badaniah yang didorongoleh gemuruh seks yang dangkal, sementara wanita cenderung memberikan peluang, maka meskipun pria sebagai sumber inisiatif penekan dalam melakukan serentetan pendekatan seks melalui pegangan tangan, ciuman, memeluk dan mencumbu; bukan berartisebagai satu-satunya pihak yang bertanggungjawab, tetapi pihak wanita juga menentukan tingkat intimitas batas kepantasanhubungan seks mereka. 

Oleh karena itu dalam perkembangan hubungan intim itu, lagi-lagi pihak wanita menyerah dan mengizinkan pria untuk memenuhi tuntutan seksnya, lantaran iapun sesungguhnya mempunyai deru-gelora nafsu seks tersendiri. Sebab bila puncak birahikeduanya telah seimbang, maka hampir tak ada orang yang sanggup menolak keinginan hubungan seksnya, baik dengan alasan-alasanrasional maupun alasan-alasan moral, dosa ataupun sanksi sosial. Dalam perburuan seks, kaum pria cenderung bersifat lebih independen dan interaktif dalam posisi meminta dan menekan (memaksa), sehingga tanpa disadari terjadi eksploitasi perilaku seks yang kemudian mengaburkan makna cinta dan seks. Pihak wanita sendiri memberikan reaksi seks dalam posisi terikat (dependen) dan tak mampu menolak tuntutan seks. 

Keterikatan wanita dalam perilaku seks masa kini cenderung salah kaprah menanggapi makna mitos cinta sejati yang berarti "rela memberikan segalanya". Hal ini justeru diartikan sebagai proses kompromi seks yang saling merelakan segala yang berharga demi sebuah kenikmatan seks. Oleh karena itu nilai pengorbanan, harga diri dan penyesalan, akibat hubungan seks tersebut semaksimal mungkin ditiadakan. Artinya kebebasan seks cenderung dipandang sebagai perilaku pemuasan nafsu yang melahirkan kenikmatan belaka, dan melupakan realitas negatif akibat dari seks itu sendiri. Perilaku seks bebas, tak terkecuali perselingkuhan kaum pria danwanita berumah tangga, dipandang sebagai kesenangan hidup tanpa ikatan, sehingga patut dijadikan kebutuhan permanen. 

Resiko perilaku seks bebas, seperti kehamilan dan tercemarnya nama baik keluarga tidak lagi menakutkan, disamping karena peristiwa ini sudah biasa terjadi, juga karena kehamilan dapat dicegah melalui kebebasan penggunaan kontrasepsi (paling tidak, kondom sutra). Kebiasaan seks bebas dapat mengakibatkan orang semakin tidak mampu menahan birahinya yang sewaktu-waktu mendesak, tidak mustahil terjadi perkosaan di mana-mana sebagaimana diketahuicenderung meningkat, baik kuantitas maupun kualitasnya. 

Dari segi sosial-psikologis, perilaku seks bebas dianggap tidak mendatangkan beban tanggungjawab yang besar, dan tidak pula dirasakan sebagai pencemaran terhadap tradisi adat dan moral. Tentang kemungkinan terjadi depresi karena perasaan berdosa, penyesalan atau rasa takut terjangkitnya penyakit kelamin, semuanya tidak termasuk dalam perhitungan. Persepsi masyarakat terhadap perilaku seks cenderung menghalalkan seks atas dasar argumen saling suka, saling cinta, dan saling membutuhkan. 

Kondisi semacam ini mengisyaratkan suatu pengakuan terhadap penyelewengan hubungan (love affair) atau perselingkuhan, baik sebelum atau sesudah menikah. Kondisi ini kemudian menempatkan posisi hubungan intimitas seks manusia mendekati persamaannya dengan perilaku seks pada binatang. Meskipun perilaku seks semacam ini masih tersembunyi, akan tetapi secara realistik diam-diam diakui, terutama bagi mereka yang tak mampu menahan nafsu seksnya dalam jangka waktu tertentu. Mungkin karena kesepian, atau karena terperangkap dalam perkawinan yang tak bahagia,bisa juga karena ingin menikmati sensasi seks di luar rutinitas rumah tangga. 

Gejala ini kemudian mendorong timbulnya gerakan sosial (social movement) dari kolektifitas kelompok untuk menegakkan pola perilaku seks bebas. Meskipun secara terselubung dalam jangka waktu tertentu, tetapi lama kelamaan akan membawa perubahan perilaku yang diakui oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai suatu kelaziman. Sepanjang hubungan seks itu masih dalam kerangka jaminan kepentingan bersama dengan sedikit mungkin beban tanggungjawab atas syarat-syarat kontrak sosialnya, maka selama itu pula rutinitas hubungan seks akan berlangsung sebagai suatu kelaziman dalam kehidupan masyarakat. 

Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang ideal, tentu semua tindakan itu dapat dikategorikan sebagai jalan pintas yang mengotorkan jiwa, pikiran dan fisik, karena mau tak mau ada perasaan taklayak, kotor, berdosa dan pengaruh negatifnya, baik terhadap hubungan perkawinan maupun terhadap masa depan remaja. Semua tindakan itu dapat menurunkan kesucian dan kemulyaan perkawinan, di samping dapat merusak sumber daya generasi muda. Perilaku seks bebas dapat membentuk struktur kemasyarakatan dalam status social yang rendah dalam kehidupan masyarakat.

Upaya Mengatasi dan Mencegah Perilaku Seks Bebas Remaja

Ada beberapa upaya yang harus dilakukan dalam mengatasi dan mencegah perilaku seks bebas di kalangan remaja, yaitu sebagai berikut :

  1. Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun. 
  2. Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. contohnya: kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita dia telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas tersebut. 
  3. Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani. 
  4. Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll. 
  5. Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah. 
  6. Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman kepercayaannya. 
  7. Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif. Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya. 
  8. Anda sebagai orang tua harus menjadi tempat CURHAT yang nyaman untuk anak anda, sehingga anda dapat membimbing dia ketika ia sedang menghadapi masalah. 
  9. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini. 
  10. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama. k.Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja. 
  11. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul. 
  12. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik bebarapa kesimpulan, sebagai berikut: 1.Populernya seks pra-nikah di kalangan remaja, karena adanya tekanan dari teman-teman, lingkungan atau mungkin pasangan sendiri. 2.Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya perilaku seks bebas adalah krisis identitas dan kurangny control diri. 3.Upaya untuk mengatasi dan mencegah perilaku seks bebas yaitu orang tua harus memberi kasih sayang dan perhatian kepada anak-anak remaja, adanya pengawasan yang tidak mengekang, bimbingan kepribadian dan pendidikan agama.

Saran-Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis menyarankan beberapa hal berikut, kepada: 1.Para orang tua untuk memberi kasih sayang, pengawasan intensif dan perhatian, pendidikan kepribadian dan pendidikan agama yang cukup bagi bagi anak remajanya sehingga terhindar dari perilaku seks bebas. 2.Para remaja untuk tidak melakukan dan terjun kedunia pergaulan bebas dan seks bebas, tetapi memperbanyak aktifitas-aktifitas, baik di sekolah maupun di rumah.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masa remaja adalah masa yang penuh gejolak, masa yang penuh dengan berbagai pengenalan dan petualangan akan hal-hal yang baru sebagai bekal untuk mengisi kehidupan mereka kelak. Di saat remajalah proses menjadi manusia dewasa berlangsung. Pengalaman manis, pahit, sedih, gembira, lucu, bahkan menyakitkan mungkin akan dialami dalam mencari jati diri. Rasa ingin tahu dari remaja kadang-kadang kurang disertai dengan pertimbangan rasional akan akibat lanjut dari suatu perbuatan (Jufri, 2005).
Alan Guttmacher Institute, suatu lembaga penelitian kesehatan nonprofit, melaporkan bahwa berdasarkan data terakhir (2003), sekitar 60 persen kelahiran anak di kalangan remaja di dunia adalah kehamilan yang tidak diharapkan. Satu diantara remaja usia 19 tahun tidak mempunyai akses untuk mendapat kontrasepsi. Lebih dari dua pertiga wanita di negara berkembang mendapat pendidikan kurang dari sembilan tahun.
Ditemukan juga bahwa remaja putri di negara berkembang yang terpaksa keluar dari sekolah, sudah melakukan hubungan seks di bawah usia 20 tahun, menikah muda dan tidak pernah menggunakan kontrasepsi. Oleh sebab itu, menurut para ahli, hanya dengan pendidikanlah untuk dapat menyelamatkan remaja putri di seluruh dunia.
Masih di negara berkembang, banyak wanita sudah mempunyai anak pertama pada usia di bawah 18 tahun, sementara wanita-wanita di desa dengan pendidikan tidak menyukai kontrasepsi, dan hampir semuanya terpaksa melahirkan dan menemui resiko kehamilan yang cukup gawat. Namun masalah ini sebenarnya bukan urusan negara berkembang saja. Di Amerika Serikat, tujuh diantara 10 remaja yang melahirkan adalah kelahiran yang tidak diinginkan (Anonim, 2003).
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh 3 orang sosiolog di Bowling Green University menunjukkan bahwa lebih dari setengah wanita dewasa yang pernah “tidur” dengan pria yang baru dikenal ataupun sekedar teman biasa, tidak mengambil langkah-langkah pencegahan. Dibandingkan dengan sekitar seperempat gadis yang dikategorikan memiliki pasangan tetap dan menggunakan kontrasepsi.Penelitian tersebut meneliti 1.600 wanita muda yang melakukan hubungan seks pertama kali sebelum berusia 18 tahun.
Di Indonesia, jumlah remaja yang berusia 10-24 tahun mencapai 65 juta orang atau 30 persen dari total penduduk. Sekitar 15-20 persen dari remaja usia sekolah di Indonesia sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah. Setiap tahunnya 15 juta remaja perempuan usia 15-19 tahun melahirkan. Hingga Juni 2006 telah tercatat 6332 kasus AIDS dan 4527 kasus HIV positif di Indonesia, dengan 78,8 persen dari kasus-kasus baru yang dilaporkan berasal dari usia 15-29 tahun.
Diperkirakan bahwa terdapat sekitar 270.000 pekerja seks perempuan yang ada di Indonesia, dimana lebih dari 60 persen adalah berusia 24 tahun atau kurang, dan 30 persen berusia 15 tahun atau kurang. Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia, dimana 20 persen diantaranya adalah aborsi yang dilakukan oleh remaja (Okanegara, 2007).
Suatu angka menakjubkan menyebutkan bahwa 51,5% remaja melakukan hubungan seksual di tempat kos. Ditambah lagi, Lembaga Swadaya Masyarakat Sahabat Anak dan Remaja Indonesia (Sahara Indonesia menyebutkan bahwa 44,8% mahasiswa PTN dan PTS serta remaja di Bandung telah melakukan hubungan seks hampir sebagian besar di wilayah rumah kos mereka (Eva, 2004).

B.     Rumusan Masalah

1.      Apa Pengertian Seks ?
2.      Apa Pengertian Remaja dan Perilaku Seksual?
3.      Bagaimana Pengaruh Negatif Penyimpangan Seks Terhadap Pelakunya ?
4.      Bagaimna Upaya Mengatasi dan Mencegah Perilaku Seks Bebas Remaja ?

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Seks
Seksualitas adalah perilaku keseluruhan seseorang yang menunjukkan ia laki-laki atau wanita. Perilaku seksual yang normal adalah yang dapat menyesuaikan diri, bukan saja dengan tuntutan masyarakat, tetapi juga dengan kebutuhan diri sendiri (dan pasangannya bila sudah menikah) dalam hal mencapai kebahagiaan dan pertumbuhan, juga dapat meningkatkan kemampuan mengembangkan kepribadiannya menjadi lebih baik.Seksualitas dalam arti luas adalah semua aspek badaniah, psikologis, dan sosiobudaya yang berhubungan langsung dengan seks dan hubungan seks manusia.Seksologi adalah ilmu yang mempelajari segala aspek ini.Maka, seks juga bio-psiko-sosio-kultural-spritual, karena itu pendidikan terhadap seks harus holistic pula. Bila dititkberatkan hanya pada salah satu aspek saja, maka akan terjadi gangguan keseimbangan dalam hal ini pada individu atau padamasyarakat dalam jangka pendek atau jangka panjang.
Untuk mengerti seksualitas manusia, baik yang normal maupun abnormal, perlu dimilki latar belakang pengetahuan bukan saja psikiatri dan ilmu perilaku, tetapi juga anatomi dan daal sexual serta kebudayaan dan agama.

B.     Remaja dan Perilaku Seksual
Secara psikologis, masa remaja adalah usia dimana individu berintegrasi dengan masyarakat dewasa, yaitu usia dimana anak tidak lagi merasa dibawah tingkat orang – orang yang lebih tua melainkan berada dalam tingkatan yang sama, terutama dalam masalah hak. Integrasi dalam masyarakat dewasa mempunyai banyak aspek efektif, kurang lebih berhubungan dengan masa puber.Seperti, perubahan intelektual yang mencolok. Transformasi intelektual yang khas dari cara berpikir remaja ini, dapat memungkinkan seorang remaja untuk mencapai integrasi dalam hubungan sosial orang dewasa, yang pada kenyataannya hal tersebut merupakan ciri khas yang umum dari periode perkembangan ini.
Perkembangan pada masa remaja digambarkan sebagai the onset of pubertal growth spurt (masa kritis dari perkembangan biologis) serta the maximum growth age. Perbedaan permulaan pemasakan tanda-tanda seksual yang muncul ditandai oleh munculnya (Monks, Knoers, dan Siti Rahayu, 2004) : permasalahan seksual, permulaan pemasakan seksual, serta urutan gejala pemasakan seksual.
Secara fisik perkembangan remaja pada masa seperti ini ditandai dengan percepatan pertumbuhan fisik yang dimulai dari pembentukan hormon mamotropik dan hormon gonadotropik (kelenjar seks).Kelenjar ini mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ciri-ciri seks primer dan sekunder.Sedangkan kematangan organ seksual ditandai dengan tumbuhnya payudara, tumbuh rambut di ketiak, dan kemaluan, mimpi basah, menstruasi, dan juga timbulnya rangsangan-rangsangan seksual.Sedangkan secara psikologis perkembangannya ditandai dengan timbulnya rasa keingintahuan yang tinggi mengenai seks dan seksualitas.Pemenuhan keingintahuan yang tinggi ini diperoleh dari membahas dengan teman sebaya, buku-buku, majalah, internet, serta melakukan eksplorasi seksualitas dengan onani, masturbasi, hingga intercourse dengan lawan jenis (Santrock, 2006).Masa pembentukan inilah yang selanjutnya membuat perbedaan-perbedaan yang khas antara remaja laki-laki dan perempuan (Rita, 2008).
Masa remaja menjadi masa transisi dimana individu merupakan makhluk aseksual menjadi seksual.Kematangan hormonal serta menguatnya karakteristik seksual primer dan sekunder diikuti pula perkembangan emosionalnya.Selama masa peralihan ini diikuti perkembangan secara biologis dari masa anak-anak menuju dewasa dini.Pada masa transisi seperti ini menjadi rawan terhadap meningkatnya aktifitas seksual aktif maupun pasif. Pada masa ini impuls-impuls dorongan seksual (sexdrive) mengalami peningkatan dan pada saat tersebut rasa ketertarikan remaja untuk merasakan kenikmatan seksual meningkat (Mahati, 2001; Gusmiarni,2000; Aminudin, dkk: 1997).
Perilaku seksual sendiri dipahami sebagai bentuk perilaku yang muncul karena adanya dorongan seksual atau kegiatan mendapatkan kesenangan organ seksual melalui berbagai perilaku.Namun pemahaman pengertian mengenai perilaku seksual yang selama ini yang berkembang di masyarakat hanya berkutat seputar penetrasi dan ejakulasi (Wahyudi, 2000).Dalam kondisi tertentu remaja cenderung memiliki dorongan seks yang kuat. Namun kompensasi dari dorongan rasa ini terhadap lawan jenis,  remaja kurang memiliki kontrol diri yang baik dan terlebih disalurkan melalui kanalisasi yang tidak tepat. Perilaku semacam ini rawan terhadap timbulnya masalah-masalah baru bagi remaja. Banyak ditemukan remaja melakukakan penyaluran dorongan yang tidak sesuai dengan apa yang menjadi norma masyarakat setempat ataupun diwujudkan melalui ekspresi seksual yang kurang sehat. Dorongan ini rawan terhadap munculnya pelecehan seksual.Perilaku seks yang kurang sehat itu jarang disadari remaja dan selanjutnya menimbulkan kerugian terhadap remaja itu sendiri.
Kerugian dari perilaku seksual tidak sehat ini menurut Tizar Rahmawan (2010) sebagai berikut:
1.      Remaja yang memiliki perilaku seks yang tidak sehat beresiko besar untuk gagal dalam pendidikan sekolah.
2.      Remaja yang memiliki perilaku seks yang tidak sehat beresiko mendapatkan sorotan tajam, cemoohan, bahkan sanksi lebih keras dari masyarakat. Jika hal ini sampai terjadi, citra buruk akan melekat pada remaja yang bersangkutan dan tentu manjadi hambatan dalam penyesuaian sosialnya.
3.      Remaja yang memiliki perilaku seks yang tidak sehat beresiko untuk mengalami kehamilan. Kehamilan yang tidak diharapkan tentu merugikan kedua belah pihak baik pihak laki-laki dan terutama pihak perempuan.
4.      Remaja yang memiliki perilaku seks yang tidak sehat beresiko tinggi terinfeksi penyakit menular seksual.

C.    Pengaruh Negatif Penyimpangan Seks Terhadap Pelakunya
Penyimpangan seks selain mempunyai hukum haram juga mempunyai pengaruh yang negatif pada pelakunya, diantaranya:
1.      Pengaruh Terhadap Jiwa adalah goncangan batin yang ada pada diri seorang yang melakukan penympangan seks, bila ia merasakan kelainan-kelainan insting seksnya.
2.      Pengaruh Terhadap daya fikir atau kerja otak, sehingga tidak dapat berfikir secara abstrak, minat terhadap sesuatu amat kurang sehingga membuat lemahnya otak.
3.      Pengaruh Terhadap Mental yakni terjadinya sesuatu syndrome mental disebut “Neurasthenia” (penyakit lemah syahwat). Juga depresi mental, akibat suka menyendiri serta mudah tersinggung, sehingga tidak dapat merasakan bahagianya hidup.
Dampak seks bebas bagi kesehatanadalah :
1.      Hamil di luar nikah
2.      Aborsi
3.      Penyakit psikologis
4.      Penyakit menular seksual diantaranya HIV/AIDS, gonorea, jengger ayam, virus herpes, sifilis, HPV (human papiloma virus)

D.    Upaya Mengatasi dan Mencegah Perilaku Seks Bebas Remaja
Ada beberapa upaya yang harus dilakukan dalam mengatasi dan mencegah perilaku seks bebas di kalangan remaja, yaitu sebagai berikut :
1.      Perlunya kasih sayang dan perhatian dari orang tua dalam hal apapun.
2.      Adanya pengawasan dari orang tua yang tidak mengekang. contohnya: kita boleh saja membiarkan dia melakukan apa saja yang masih sewajarnya, dan apabila menurut pengawasan kita dia telah melewati batas yang sewajarnya, kita sebagai orangtua perlu memberitahu dia dampak dan akibat yang harus ditanggungnya bila dia terus melakukan hal yang sudah melewati batas tersebut.
3.      Biarkanlah dia bergaul dengan teman yang sebaya, yang hanya beda umur 2 atau 3 tahun baik lebih tua darinya. Karena apabila kita membiarkan dia bergaul dengan teman main yang sangat tidak sebaya dengannya, yang gaya hidupnya sudah pasti berbeda, maka dia pun bisa terbawa gaya hidup yang mungkin seharusnya belum perlu dia jalani.
4.      Pengawasan yang perlu dan intensif terhadap media komunikasi seperti tv, internet, radio, handphone, dll.
5.      Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah.
6.      Perlunya pembelanjaran agama yang dilakukan sejak dini, seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman kepercayaannya.
7.      Kita perlu mendukung hobi yang dia inginkan selama itu masih positif untuk dia. Jangan pernah kita mencegah hobinya maupun kesempatan dia mengembangkan bakat yang dia sukai selama bersifat Positif. Karena dengan melarangnya dapat menggangu kepribadian dan kepercayaan dirinya.
8.      Anda sebagai orang tua harus menjadi tempat CURHAT yang nyaman untuk anak anda, sehingga anda dapat membimbing dia ketika ia sedang menghadapi masalah.
9.      Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
10.  Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama. k.Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
11.  Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
12.  Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik bebarapa kesimpulan, sebagai berikut:
1.      Populernya seks pra-nikah di kalangan remaja, karena adanya tekanan dari teman-teman, lingkungan atau mungkin pasangan sendiri.
2.      Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya perilaku seks bebas adalah krisis identitas dan kurangny control diri.
3.      Upaya untuk mengatasi dan mencegah perilaku seks bebas yaitu orang tua harus memberi kasih sayang dan perhatian kepada anak-anak remaja, adanya pengawasan yang tidak mengekang, bimbingan kepribadian dan pendidikan agama.

B.     Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis menyarankan beberapa hal berikut, kepada:
1.      Para orang tua untuk memberi kasih sayang, pengawasan intensif dan perhatian, pendidikan kepribadian dan pendidikan agama yang cukup bagi bagi anak remajanya sehingga terhindar dari perilaku seks bebas.
2.      Para remaja untuk tidak melakukan dan terjun kedunia pergaulan bebas dan seks bebas, tetapi memperbanyak aktifitas-aktifitas, baik di sekolah maupun di rumah.




DAFTAR PUSTAKA

Sarwono, S.W. 2002. Psikologi Remaja. Edisi Revisi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Feist, Jess.Theories of Personality. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2008.
Hurlock, Elizabeth. Psikologi Perkembangan.Erlangga
http://himikaung.wordpress.com/dampak-seks-bebas-bagi-kesehatan
http://www.zaharuddin.net/index.php?option=com_content&task=view&id=282&Itemid=89
.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

 BUTA WARNA

A.    Pengertian
Buta warna adalah suatu kelainan yang disebabkan ketidakmampuan sel-sel kerucutmata untuk menangkap suatu spektrum warna tertentu akibat faktor genetis.
Buta warna merupakan kelainan genetik / bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anaknya, kelainan ini sering juga disebaut sex linked, karena kelainan ini dibawa olehkromosom X. Artinya kromosom Y tidak membawa faktor buta warna. Hal inilah yang membedakan antara penderita buta warna pada laki dan wanita. Seorang wanita terdapat istilah 'pembawa sifat' hal ini menujukkan ada satu kromosom X yang membawa sifat buta warna. Wanita dengan pembawa sifat, secara fisik tidak mengalami kelalinan buta warna sebagaimana wanita normal pada umumnya. Tetapi wanita dengan pembawa sifat berpotensi menurunkan faktor buta warna kepada anaknya kelak. Apabila pada kedua kromosom X mengandung faktor buta warna maka seorang wanita tsb menderita buta warna.
Saraf sel di retina terdiri atas sel batang yang peka terhadap hitam dan putih, serta sel kerucut yang peka terhadap warna lainnya. Buta warna terjadi ketika syaraf reseptor cahaya di retina mengalami perubahan, terutama sel kerucut.

B.     Mekanisme buta warna
Untuk memahami bagaimana buta warna bekerja, Anda pertama kali harus memahami komponen-komponen mata yang menggabungkan untuk memberikan gambar yang Anda lihat. Anda mungkin akrab dengan komponen seperti retina, iris, lensa, kornea etc. Menggabungkan bagian-bagian yang terakhir untuk fokus dan proyek gelombang cahaya ke retina. Disfungsi dalam hasil kornea sightedness pendek atau panjang sightedness etc; Namun penyebab buta warna terletak di retina.
Retina yang bertanggung jawab untuk melewati cahaya apa pun informasi yang itu tiba di bawah saraf optik ke otak. Retina terdiri dari kedua ‘batang’ dan ‘kerucut’ sel. Sel-sel batang sangat sensitif terhadap cahaya, dalam kenyataannya lebih dari 100x sensitif seperti sel-sel kerucut. Sel batang menjadi aktif dalam kondisi cahaya rendah dan biasanya dalam penglihatan tepi. Demonstrasi sederhana ini adalah untuk pergi ke luar pada awan-free berikutnya malam dan melihat bintang-bintang. Jika Anda melihat langsung ke arah mereka, Anda mungkin tidak melihat banyak, tetapi jika Anda mencoba untuk mempelajari visi periferal Anda, Anda akan menemukan bahwa jauh lebih terang terdeteksi, karena ini adalah di mana fungsi sel batang. Akan tetapi, sel-sel batang tidak ada hubungannya dengan apakah seseorang buta warna, seluruh kegiatan yang terjadi dengan sel kerucut!


C.    Klasifikasi 

1. Trikromasi
Yaitu mata mengalami perubahan tingkat sensitivitas warna dari satu atau lebih sel kerucut pada retina. Jenis buta warna inilah yang sering dialami oleh orang-orang. Ada tiga klasifikasi turunan pada trikomasi:
·      Protanomali, seorang buta warna lemah mengenal merah
·      Deuteromali, warna hijau akan sulit dikenali oleh penderita
·      Trinomali (low blue), kondisi di mana warna biru sulit dikenali penderita.
2. Dikromasi
    Yaitu keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Ada tiga klasifikasi    turunan:
Protanopia, sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat kecerahan warna merah atau perpaduannya kurang
Deuteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau
Tritanopia, sel kerucut warna biru tidak ditemukan.
3. Monokromasi
Monokromasi sebenarnya sering dianggap sebagai buta warna oleh orang umum. Kondisi ini ditandai dengan retina mata mengalami kerusakan total dalam merespon warna. Hanya warna hitam dan putih yang mampu diterima retina.

D.    Penyebab
a. kongenital, bersifat resesif terkait dengan kromosom X
b. resesif, bila ada kelainan pada makula dan saraf optic


E.     Patofisiologi
Buta warna adalah kondisi yang diturunkan secara genetik. Dibawa oleh kromosom X pada perempuan, buta warna diturunkan kepada anak-anaknya. Ketika seseorang mengalami buta warna, mata mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang dibutuhkan untuk mata berfungsi dengan normal.
Pada bagian tengah retina, terdapat photoreceptor atau cone (seperti kantung) yang memungkinkan kita untuk bisa membedakan warna. Photoreceptor ini terdiri dari tiga pigmen warna ; yaitu merah, hijau dan biru. Gangguan persepsi terhadap warna terjadi apabila satu atau lebih dari pigmen tersebut tidak ada atau sangat kurang. Mereka dengan persepsi warna normal disebut Trichromats. Mereka yang mengalami defisiensi salah satu pigmen warna disebut dengan Anomalous Trichromats. Type ini adalah yang paling sering ditemukan. Sedangkan mereka yang sama sekali tidak memiliki salah satu dari pigmen warna itu disebut drichromat.

F.     Tanda dan Gejala
Tanda seorang mengalami buta warna tergandung pada beberapa factor; apakah kondisinya disebabkan factor genetik, penyakit, dan tingkat buta warnanya; sebagian atau total. Gejala umumnya adalah kesulitan membedakan warna merah dan hijau (yang paling sering terjadi), atau kesulitan membedakan warna biru dan hijau (jarang ditemukan).Gejala untuk kasus yang lebih serius berupa; objek terlihat dalam bentuk bayangan abu-abu (kondisi ini sangat jarang ditemukan), dan penglihatan berkurang.
Gangguan persepsi warna dapat dideteksi dengan menggunakan table warna khusus yang disebut dengan Ishuhara Test Plate. Pada setiap gambar terdapat angka yang dibentuk dari titik-titik berwarna. Gambar digantung di bawah pencahayaan yang baik dan pasien diminta untuk mengidentifikasi angka yang ada pada gambar tersebut. Ketika pada tahap ini ditemukan adanya kelainan, test yang lebih detail laggi akan diberikan.

G.    Pemeriksaan Penunjang
1. oftalmoskop
Suatu alat dengan system pencahayaan khusus, untuk melihat bagian dalam mata terutama retina dan struktur terkaitnya
2. tes penglihatan warna
salah satu test uji buta warna

a. uji ishihara
dengan memakai sejumlah lempeng polikromatik yang berbintik, warna primer dicetak diatas latar belakang mosaic bintik-bintik serupa dengan aneka warna sekunderyang membingungkan, bintik-bintik primer disusun menurut pola (angka atau bentuk geometric) yang tidak dapat dikenali oleh pasien yang kurang persepsi warna
b. uji pencocokan benang
pasien diberi sebuah gelendong benang dan diminta untuk mengambilgelendong yang warnanya cocok dari setumpuk gelendong yang berwarna-warni
3. tes sensitivitas kontras
Adalah kesanggupan mata melihat perbedaan kontras yang halus, dimana pada pasien dengan gangguan pada retina, nervus optikus atau kekeruhan media mata tidak sanggup melihat perbedaan kontras tersebut

4. tes elektrofisiologik
a. elektroletingrafi (ERG)
untuk mengukur respon listrik retina terhadap kilatan cahaya bagian awal respon flash ERG mencerminkan fungsi fotoreseptor sel krucut dan sel batang
b. elektro okulografi (EOG)
untuk mengukur potensial korneoretina tetap. Kelainan EOG terutama terjadi pada penyakit secara dipus mempengaruhi epitel pigmen retina dan fotoreseptor

H.    Pengobatan

Tidak ada pengobatan atau tindakan yang dapat dilakukan untuk mengobati masalah gangguan persepsi warna. Namun penderita buta warna ringan dapat belajar mengasosiasikan warna dengan objek tertentu.
Untuk mengurangi gejala dapat digunakan kacamata berlensa dengan filter warna khusus yang memungkinkan pasien melakukan interpretasi kembali warna




Sumber: :
http://jurnalbidandiah.blogspot.com/2012/04/definisi-buta-warna-mekanisme-tanda.html#ixzz3aTCzQsXm

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Labels

Analisis Kasus Antropobiologi Antropologi Budaya Asesmen Kepribadian Asesmen: Observasi dan Wawancara Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Cerita Rakyat Cerpen Filosofi Filsafat Grafologi HRD Ilmu Kesehatan Mental & Psikopatologi Intervensi Dasar Kelompok dan Komunitas Intervensi Dasar Organisasi Jurnal Ketamansiswaan Kewarganegaraan Kode Etik Psikologi Kuliner Metode Penelitian Kualitatif Metode Penelitian Kuantitatif Parenting Pend. Agama Islam Pendidikan Pancasila Pengembangan Skala Psikologi Pengembangan Tes Prestasi Penyakit Kulit Perilaku Konsumen Psikodiagnostika Psikologi Psikologi Abnormal Psikologi Analitis Psikologi Eksperimen Psikologi Emosi Psikologi Faal Psikologi Forensik Psikologi Industri dan Organisasi Psikologi Kepemimpinan Psikologi Kepribadian Psikologi Kesukaran Belajar Psikologi Kewirausahaan Psikologi Klinis Psikologi Kognitif Psikologi Komunikasi Psikologi Konseling Psikologi Orhius Psikologi Pelatihan dan Pengembangan Psikologi Pendidikan Psikologi Perkembangan Psikologi Seni Psikologi Sosial Psikologi Teknologi dan Informasi Psikologi Transpersonal Psikologi Ulayat (Indigenous Psychology) Psikologi Umum Psikometri Puisi Review Jurnal Sosiologi Statistika Statistika Inferensial Tes Psikologi Tips & Trik Umum

Popular Posts

  • Modul Interpretasi-Tes Grafis (DAP-BAUM-HTP-Wartegg)
  • Pandangan Teoritis Tentang Tingkah Laku Abnormal
  • KRIMINALITAS
  • Tipe Tipe Komunikasi
  • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask
    Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask

Time

Translate

About me

Anak pertama dari empat bersaudara, dilahirkan 23 tahun lalu di Kabupaten Polewali Mandar pada tanggal 04 April 1996 yang akhirnya memiliki dua suku yaitu suku Mandar dan Jawa.

Punya hobi bermain game online, menulis dan memasak. Suka traveling walau kantong tipis. Bercita-cita jadi dokter hewan dan psikolog. Si Pleghmatis yang kadang Koleris. Si cuek yang menyukai romantis. Si tukang nangis yang suka marah-marah. Si nekat yang takut sendirian. Si cadel yang susah untuk ngucapin p atau f dan juga r.

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum da...
  • ►  2019 (251)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Maret (8)
    • ►  Februari (241)
Diberdayakan oleh Blogger.
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by BeautyTemplates