facebook twitter instagram

~ Beartopia ~

  • Home
  • Psychology
  • Joylada
    • Sweat & Tears
    • Freerunning Estafet
    • Pangeran Kuda Putih VS Mr. Cat

MAKALAH
PENGEMBANGAN INDIGENOUS PSYCHOLOGY DI INDONESIA
Disusun Untuk Memenuhi Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Indigenous Psychology



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………..         i

DAFTAR ISI ………………………………………………………………..          ii

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ………………………………………………………         1
B.     Rumusan Masalah …………………………………………………...        1

BAB II PEMBAHASAN
A.    Landasan Ilmiah Pengembangan Indigenous
 Psychology di Indonesia …………………………………………….         2
B.     Indigenous Psychology dalam Konteks Indonesia …………………        3
C.    Perkembangan Indigenous Psychology di
Indonesia: Kontribusi Universitas Gadjah Mada ………………….        4

BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan ………………………………………………………….          6

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………..       7
 
BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Indigenous psychology merupakan pandangan psikologi yang berdasarkan asal pribumi dan memiliki pemahaman berdasarkan fakta-fakta  atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat.  Pendekatan mendukung pembahasan mengenai pengetahuan, keahlian, kepercayaan yang dimiliki seseorang serta mengkajinya dalam bingkai kontekstual yang ada. Teori, konsep, dan metodenya dikembangkan secara indigenous disesuaikan dengan fenomena psikologi yang ada. Tujuan utama dari pendekatan indigenous psyshcology adalah untuk menciptakan ilmu pengetahuan yang lebih teliti, sistematis, universal yang secara teoritis maupun empiris yang dapat dibuktikan.
Kemunculan Indigenous psychology tidak lepas dari kebimbangan peniliti psikologi dari Asia yang belajar psikologi di Barat, ketika mereka kembali dan mencoba untuk mengembangkan psikologi di negaranya, mereka menjumpai banyak kesulitan dan mulai mempertanyakan kembali validitasm, universalitas, dan aplikabilitas dari teori-teori psikologi. Indigenous psychology menyajikan suatu pendekatan dimana muatannya (makna, nilai, dan kepercayaan) bersifat kontekstual (keluarga, sosial, budaya, dan ekologi) secara eksplisit menggabungkannya dalam suatu penelitian.


Rumusan Masalah
1.      Bagaimana landasan pengembangan Indigenous Psychology di Indonesia ?
2.      Menjelaskan bagaimana Indigenous Psyhcology dalam konteks Indonesia ?
3.      Bagaimana perkembangan Indigenous Psychology di Indonesia dalam kontribusi Universitas Gadjah Mada ?



BAB II
PEMBAHASAN

Landasan Ilmiah Pengembangan Indigenous Psychology di Indonesia
Implentasi konsep dan teori  psikologi mainstream di Indonesia menyalahi kodrat manusia Indonesia yang bhinneka tunggal ika. Mental manusia yang menjadi focus kajian psikologi tidak serta merta terbentuk dengan sendirinya secara universal, melainkan bersifat kontekstual yang salah satunya dideterminasi oleh factor kultural. Pada konteks Indonesia, nilai-nilai kuktural tidak hanya mengakar kuat pada historis yang dimanifestasikan dalam kehidupan bermasyarakat hingga kini, melainkan juga menampilkan wajah masyarakat heterogen yang multicultural.
Gagasana Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan multicultural bernuansa nasionalis dan bersifat universal pancadharma. Apabila ditinjau secara filosofis, universalitas pancadharma dapat di pahami sebagai formulasi Ki Hadjar Dewantara untuk membangun model pendidikan Indigenous.  Dengan kata lain, sekolah Taman Siswa merupakan wujud indigenisasi system pendidikan Barat yang gagal diimplementasikan di Indonesia. Demikian halnya dengan upaya indigenisasi psikologi mainstream, bahwa pancadharma dapat menjadi asas pengembangan Indigous Psychologi di Indonesia.  Pengembangan indigenous psychology di Indonesia dapat dilakukan dengan mengonversi strategi Trikon yang ditawarkan Ki  Hadjar Dewantara dalam mengembangkan pendidikan berbasis kebudayaan, yang di antaranya kontinuitas, konsentrsitas, dan konvergensi.



Berdasarkan konversi Trikon Ki Hadjar Dewantara, maka pengembangan indigenous psychology di Indonesia dapat dilakukan dengan tiga strategi, yaitu :
1.      Pengembangan wacana dalam riset sistematis merupakan eksplorasi pemikiran-pemikiran kontekstual  Indonesia sehingga dapat dikembangkan menjadi konsep atau teori psikologi yang indigenous.
2.      Pengembangan riset yang berbasis tema merupakan eksplorasi unsur-unsur kultural atau religious di Indonesia, baik berupa ajaran agama, system adata, terminology daerah, maupun symbol-simbol kebudayaan.
3.      Pengembangan riset sintesis psikolgi yang mainstream denga psikologi local merupakan komparasi konsep atau teori Barat-Amerika atau Asia dengan konsep teori local Indonesia.

Indigenous Psychology dalam Konteks Indonesia
Indigenisasi psikologi di Indonesia masih menjadi tanda tanya bagi sebagian akademisi. Keraguan akan urgensi indigenisasi psikologi ini dapat dilatarbelakangi kurangnya perhatian akademisi psikologi untuk melihat budaya sebagai konteks pada penelitian yang dilkakuan. Budaya pada Indonesia merupakan salah satu bahasan penting yang ikut mendeterminasi mental manusia Indonesia. Kenyataan ini tidak terlepas pada fakta historis Indonesia sebagai integrasi dari berbagai bangsa-budaya yang heterogen. Keunikan pengembangan  indigenous psychology di Indonesia seharusnya juga berbeda dengan yang dikembangkan Negara lain.
Di Indonesia, budaya dan agama menjadi unsur paling menonjol. Apabila kembali melihat jejak historis yang lebih jauh, kekuatan budaya dan agama memang dibangun ratusan tahun sebelum Indoseia merdeka bahkan sebelum masa kolonialisme Belanda. Kerajaan-kerajaan pada waktu itu, baik yang dibangun diatas fondasi kultural seperti Majapahit ataupun fondasi agama seperti samudra Pasai, semuanya mempresentasikan bangsa-bangsa yang otonom dan independen. Maka tidak heran jika hingga saat ini manusia Indonesia lebih mempresentasikan budaya dan agamanya dari pada keindonesiaannya. Pengembangan indigenous psychology perlu dilakukan pada konteks Indonesia dan bukan pada konteks budaya tertentu, mengingat bahwa Bhineka Tunggal Ika tidak dipandang sebagai “ketunggalikaan yang bhinneka“ melainkan sebagai “kebhinekaan yang tunggal”.
Keunikan corak manusia berimplikasikan terhadap pengembangan indigenous psychology di Indonesia. Pertama, kondisi ini mempertajam skeptic terhadap relevan dan implementasi psikologi mainstream pada masyarakat non-Barat, khususnya Indonesia yang multicultural. Kedua, indigenous psychology yang memandang budaya sebagai konteks perlu disesuaikan dengan konteks Indonesia. Artinya, pengembangan indigenous psychology tidak cukup jika hanya mengkaji satu masyarakat tertentu.
Pengembangan indigenous psychology di Indonesia perlu dilakukan secara sistematuis dan terstandar, bukan dilakukan secara sporadis segabai gerakan otonom dari daerah-daerah tertentu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melibatkan subjek/responden penelitian yang mewakili setiap wilayah Indonesia, atau para peneliti melakukan kolaborasi dengan peneliti lain di berbagai wilayah Indonesia untuk mengkaji satu konsep psikologi tertentu, sehingga temuan penelitian dapat dikatan indigenous yang mempresentasikan manusia di Indonesia.
              Beberapa kajian indigenous psychology di Indonesia memang telah didokumentasikan namun masih belum teruji oleh kebhinnekaan manusia Indonesia. Kajian-kajian tersebut terhitung sebagai temuan indigenous local yang mempresentasikan manusia didearah tertentu saja. Pengembangan indigenous psychology di Indonesia cukup sulit dilakukan. Hal ini tidak hanya dilatarbelakangi oleh kebhinekaan manusia Indonesia, melainkan juga oleh factor geografis Indonesia sebagai Negara kepulauan yang relative luas. Namun, hal ini bukan factor yang mematahkan semangat gerekan indigenisasi psikologi di Indonesia, melainkan dipandang sebagai salah satu corak indigenisasi yang berbeda dengan Negara lain.

Perkembangan Indigenous Psychology di Indonesia: Kontribusi Universitas Gadjah Mada
Pergerakan indigenous psychology di Indonesia baru terdengar dan mulai populer dalam satu decade terakhir. Padahal secara historis, kesadaran indigenisasi psikologi di Indonesia telah muncul bahkan jauh lebih awak dari pada pergerakan indigenisasi di Filipina dan Taiwan. Adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ketika perintisan pendirian fakultas psikologi pada 1950 hingga 1960-an sudah terdahulu menggunakan istilah indigenous dalam psikologi, yaitu ilmu djiwa sebagai salah satu mata kuliah fakultas Psikologi UGM. Ilmu djiwa merupakan mata kuliah psikologi yang didasari konsep dan nilai Jawa Kuno.
Penggunaan istilah indigenous psychology di Indonesia cukup bervariasi. Beberapa ahli psikologi di Indonesia masing-masing menawarkan terminology dan konsep yang berdekatan dengan indigenous psychology. Ada tiga istilah yang memiliki kedekatan makna dengan indigenous psychology, yaitu :
1.      Psikologi pribumi, memberikan dikotomi antara pribumi dan non-pribumi. Penyebutan psikologi dengan istilah ini akan menimbulkan isu disparitas rasial terutama dengan etnis Tionghoa dan Arab.
2.      Psikolgi Ulayat, yang dalam kamus Besar Bahasa Indonesia ulayat  berarti hak atau wilayah, umunya digunakan dalam pembahasan mengenai hukum dan hak-hak yang diatur oleh nilai adat.
3.      Psikologi Nusantara, disebabkan karena istilah nusantara lebih merujuk pada keragaman suku bangsa serta wilayah kepulauan Indonesia.
Instutusionalisasi gerakan indigenous psychology di Indonesia melalui pendirian pusat penelitian di beberapa universitas yang tersebar diberbagai kawasan memiliki dua tujuan utama. Pertama, agar gerakan indigenisasi psikologi di Indonesia menjadi terstruktur dengan adanya lembaga yang menaunginya. Kedua, memudahkan proses koordinasi dan kerjasama penelitian antara satu pusat penelitian dengan yang lainnya.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Indigenous psychology muncul dari budaya setempat, berupa tingkah laku keseharian dipahamai dan diinterpresetasi dalam kerangka pemahaman budaya setempat dan didesain untuk orang-orang setempat. Perkembangan psikologi indigenous di Indonesia dapat dibangun melalui proses indigenisasi yang diwarnai oleh etnik yang ada di Indonesia sebagai sumber pengetahuan budaya setempat.
Indiginius psikologi di Indonesia merupakan tugas besar yang membuthkan kerja sama dari berbagai akademisi maupun praktisi psikologi di Indonesia. Upaya tersebut tidak cukup apabila hanya dilakukan oleh pusat-pusat riset indigenous psychology yang terbesar di Indonesia, melainkan juga membutuhkan, melainkan juga membutuhkan andil para pelajar psikologi yang pada gilirannya akan melakukan penelitian. Dengan demikian maka indigenous psychology di Indonesia dapat terus dikembangkan dari, oleh, dan untuk orang Indonesia baik untuk keperluan akademis maupun praktis.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Indigenous psychology merupakan  pandangan psikologi yang berdasarkan asal pribumi dan memiliki pemahaman berdasarkan fakta-fakta  atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat.  Pendekatan mendukung pembahasan mengenai pengetahuan, keahlian, kepercayaan yang dimiliki seseorang serta mengkajinya dalam bingkai kontekstual yang ada. Teori, konsep, dan metodenya dikembangkan secara indigenous disesuaikan dengan fenomena psikologi yang ada. Tujuan utama dari pendekatan indigenous psyshcology adalah untuk menciptakan ilmu pengetahuan yang lebih teliti, sistematis, universal yang secara teoritis maupun empiris yang dapat dibuktikan.
Kemunculan Indigenous psychology tidak lepas dari kebimbangan peniliti psikologi dari Asia yang belajar psikologi di Barat, ketika mereka kembali dan mencoba untuk mengembangkan psikologi di negaranya, mereka menjumpai banyak kesulitan dan mulai mempertanyakan kembali validitasm, universalitas, dan aplikabilitas dari teori-teori psikologi. Indigenous psychology menyajikan suatu pendekatan dimana muatannya (makna, nilai, dan kepercayaan) bersifat kontekstual (keluarga, sosial, budaya, dan ekologi) secara eksplisit menggabungkannya dalam suatu penelitian.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana landasan pengembangan  Indigenous Psychology di Indonesia ?
2.      Menjelaskan bagaimana Indigenous Psyhcology dalam konteks Indonesia ?
3.      Bagaimana perkembangan Indigenous Psychology di Indonesia dalam kontribusi Universitas Gadjah Mada ?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Landasan Ilmiah Pengembangan Indigenous Psychology di Indonesia
Implentasi konsep dan teori  psikologi mainstream di Indonesia menyalahi kodrat manusia Indonesia yang bhinneka tunggal ika. Mental manusia yang menjadi focus kajian psikologi tidak serta merta terbentuk dengan sendirinya secara universal, melainkan bersifat kontekstual yang salah satunya dideterminasi oleh factor kultural. Pada konteks Indonesia, nilai-nilai kuktural tidak hanya mengakar kuat pada historis yang dimanifestasikan dalam kehidupan bermasyarakat hingga kini, melainkan juga menampilkan wajah masyarakat heterogen yang multicultural.
Gagasana Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan multicultural bernuansa nasionalis dan bersifat universal pancadharma. Apabila ditinjau secara filosofis, universalitas pancadharma dapat di pahami sebagai formulasi Ki Hadjar Dewantara untuk membangun model pendidikan Indigenous.  Dengan kata lain, sekolah Taman Siswa merupakan wujud indigenisasi system pendidikan Barat yang gagal diimplementasikan di Indonesia. Demikian halnya dengan upaya indigenisasi psikologi mainstream, bahwa pancadharma dapat menjadi asas pengembangan Indigous Psychologi di Indonesia.  Pengembangan indigenous psychology di Indonesia dapat dilakukan dengan mengonversi strategi Trikon yang ditawarkan Ki  Hadjar Dewantara dalam mengembangkan pendidikan berbasis kebudayaan, yang di antaranya kontinuitas, konsentrsitas, dan konvergensi.
Berdasarkan konversi Trikon Ki Hadjar Dewantara, maka pengembangan indigenous psychology di Indonesia dapat dilakukan dengan tiga strategi, yaitu :
1.      Pengembangan wacana dalam riset sistematis merupakan eksplorasi pemikiran-pemikiran kontekstual  Indonesia sehingga dapat dikembangkan menjadi konsep atau teori psikologi yang indigenous.
2.      Pengembangan riset yang berbasis tema merupakan eksplorasi unsur-unsur kultural atau religious di Indonesia, baik berupa ajaran agama, system adata, terminology daerah, maupun symbol-simbol kebudayaan.
3.      Pengembangan riset sintesis psikolgi yang mainstream denga psikologi local merupakan komparasi konsep atau teori Barat-Amerika atau Asia dengan konsep teori local Indonesia.

B.     Indigenous Psychology dalam Konteks Indonesia
Indigenisasi psikologi di Indonesia masih menjadi tanda tanya bagi sebagian akademisi. Keraguan akan urgensi indigenisasi psikologi ini dapat dilatarbelakangi kurangnya perhatian akademisi psikologi untuk melihat budaya sebagai konteks pada penelitian yang dilkakuan. Budaya pada Indonesia merupakan salah satu bahasan penting yang ikut mendeterminasi mental manusia Indonesia. Kenyataan ini tidak terlepas pada fakta historis Indonesia sebagai integrasi dari berbagai bangsa-budaya yang heterogen. Keunikan pengembangan  indigenous psychology di Indonesia seharusnya juga berbeda dengan yang dikembangkan Negara lain.
Di Indonesia, budaya dan agama menjadi unsur paling menonjol. Apabila kembali melihat jejak historis yang lebih jauh, kekuatan budaya dan agama memang dibangun ratusan tahun sebelum Indoseia merdeka bahkan sebelum masa kolonialisme Belanda. Kerajaan-kerajaan pada waktu itu, baik yang dibangun diatas fondasi kultural seperti Majapahit ataupun fondasi agama seperti samudra Pasai, semuanya mempresentasikan bangsa-bangsa yang otonom dan independen. Maka tidak heran jika hingga saat ini manusia Indonesia lebih mempresentasikan budaya dan agamanya dari pada keindonesiaannya. Pengembangan indigenous psychology perlu dilakukan pada konteks Indonesia dan bukan pada konteks budaya tertentu, mengingat bahwa Bhineka Tunggal Ika tidak dipandang sebagai “ketunggalikaan yang bhinneka“ melainkan sebagai “kebhinekaan yang tunggal”.
Keunikan corak manusia berimplikasikan terhadap pengembangan indigenous psychology di Indonesia. Pertama, kondisi ini mempertajam skeptic terhadap relevan dan implementasi psikologi mainstream pada masyarakat non-Barat, khususnya Indonesia yang multicultural. Kedua, indigenous psychology yang memandang budaya sebagai konteks perlu disesuaikan dengan konteks Indonesia. Artinya, pengembangan indigenous psychology tidak cukup jika hanya mengkaji satu masyarakat tertentu.
Pengembangan indigenous psychology di Indonesia perlu dilakukan secara sistematuis dan terstandar, bukan dilakukan secara sporadis segabai gerakan otonom dari daerah-daerah tertentu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara melibatkan subjek/responden penelitian yang mewakili setiap wilayah Indonesia, atau para peneliti melakukan kolaborasi dengan peneliti lain di berbagai wilayah Indonesia untuk mengkaji satu konsep psikologi tertentu, sehingga temuan penelitian dapat dikatan indigenous yang mempresentasikan manusia di Indonesia.
              Beberapa kajian indigenous psychology di Indonesia memang telah didokumentasikan namun masih belum teruji oleh kebhinnekaan manusia Indonesia. Kajian-kajian tersebut terhitung sebagai temuan indigenous local yang mempresentasikan manusia didearah tertentu saja. Pengembangan indigenous psychology di Indonesia cukup sulit dilakukan. Hal ini tidak hanya dilatarbelakangi oleh kebhinekaan manusia Indonesia, melainkan juga oleh factor geografis Indonesia sebagai Negara kepulauan yang relative luas. Namun, hal ini bukan factor yang mematahkan semangat gerekan indigenisasi psikologi di Indonesia, melainkan dipandang sebagai salah satu corak indigenisasi yang berbeda dengan Negara lain.

C.    Perkembangan Indigenous Psychology di Indonesia: Kontribusi Universitas Gadjah Mada
Pergerakan indigenous psychology di Indonesia baru terdengar dan mulai populer dalam satu decade terakhir. Padahal secara historis, kesadaran indigenisasi psikologi di Indonesia telah muncul bahkan jauh lebih awak dari pada pergerakan indigenisasi di Filipina dan Taiwan. Adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) yang ketika perintisan pendirian fakultas psikologi pada 1950 hingga 1960-an sudah terdahulu menggunakan istilah indigenous dalam psikologi, yaitu ilmu djiwa sebagai salah satu mata kuliah fakultas Psikologi UGM. Ilmu djiwa merupakan mata kuliah psikologi yang didasari konsep dan nilai Jawa Kuno.
Penggunaan istilah indigenous psychology di Indonesia cukup bervariasi. Beberapa ahli psikologi di Indonesia masing-masing menawarkan terminology dan konsep yang berdekatan dengan indigenous psychology. Ada tiga istilah yang memiliki kedekatan makna dengan indigenous psychology, yaitu :
1.      Psikologi pribumi, memberikan dikotomi antara pribumi dan non-pribumi. Penyebutan psikologi dengan istilah ini akan menimbulkan isu disparitas rasial terutama dengan etnis Tionghoa dan Arab.
2.      Psikolgi Ulayat, yang dalam kamus Besar Bahasa Indonesia ulayat  berarti hak atau wilayah, umunya digunakan dalam pembahasan mengenai hukum dan hak-hak yang diatur oleh nilai adat.
3.      Psikologi Nusantara, disebabkan karena istilah nusantara lebih merujuk pada keragaman suku bangsa serta wilayah kepulauan Indonesia.
Instutusionalisasi gerakan indigenous psychology di Indonesia melalui pendirian pusat penelitian di beberapa universitas yang tersebar diberbagai kawasan memiliki dua tujuan utama. Pertama, agar gerakan indigenisasi psikologi di Indonesia menjadi terstruktur dengan adanya lembaga yang menaunginya. Kedua, memudahkan proses koordinasi dan kerjasama penelitian antara satu pusat penelitian dengan yang lainnya.



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Indigenous psychology muncul dari budaya setempat, berupa tingkah laku keseharian dipahamai dan diinterpresetasi dalam kerangka pemahaman budaya setempat dan didesain untuk orang-orang setempat. Perkembangan psikologi indigenous di Indonesia dapat dibangun melalui proses indigenisasi yang diwarnai oleh etnik yang ada di Indonesia sebagai sumber pengetahuan budaya setempat.
Indiginius psikologi di Indonesia merupakan tugas besar yang membuthkan kerja sama dari berbagai akademisi maupun praktisi psikologi di Indonesia. Upaya tersebut tidak cukup apabila hanya dilakukan oleh pusat-pusat riset indigenous psychology yang terbesar di Indonesia, melainkan juga membutuhkan, melainkan juga membutuhkan andil para pelajar psikologi yang pada gilirannya akan melakukan penelitian. Dengan demikian maka indigenous psychology di Indonesia dapat terus dikembangkan dari, oleh, dan untuk orang Indonesia baik untuk keperluan akademis maupun praktis.



Daftar Pustaka

Faturochman, dll. 2017. Memahami dan Mengembangkan INDIGENOUS PSYCHOLOGY. Pustaka Timur. Yogyakarta : Celeban Timur.
 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Pada tahun awal, penelitian lintas-budaya dilakukan oleh para peneliti dari barat dengan tujuan untuk membuktikan bahwa teori atau temuan mereka berlaku umum di masyarakat yang hidup di budaya lain. Alat ukur yang biasa digunakan untuk meneliti adalah alat ukur yang dikembangkan dan digunakan di negara si peneliti, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa setempat. Hasilnya dibawa pulang dan dibandingkan dengan hasil penelitian di negaranya. Bila hasilnya berbeda maka disimpulkan bahwa perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan budaya dari mana sampel penelitian berasal. Dengan semakin banyaknya penelitian lintas-budaya dan sikap kritis dari para peneliti, semakin disadari bahwa penelitian lintas-budaya yang baik tidaklah sesederhana itu.       

B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian lintas-budaya ?
2. Bagaimana hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu lainnya?
3. Apa saja tipe studi lintas budaya ?
4. Bagaimana penentuan budaya dan subjek ?
5. Alat ukur yang bagiaman yang digunakan ?

C. Tujuan
Untuk membuktikan bahwa teori atau temuan berlaku umum di masyarakat yang hidup di budaya lain.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Lintas Budaya
Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik, mengenai hubungan-hubungan diantara budaya psikologis dan sosio-budaya, ekologis dan ubahan biologis, serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam budaya-budaya tersebut. Dengan memperluas metodologi penelitian untuk mengenali variasi budaya dalam perilaku, bahasa dan makna, berusaha untuk memperluas dan mengembangkan psikologi. Karena psikologi sebagai disiplin akademis yang dikembangkan terutama di Amerika Utara, beberapa psikolog menjadi khawatir bahwa konstruksi diterima sebagai universal tidak sebagai invarian seperti yang diasumsikan sebelumnya, terutama karena banyak usaha untuk mereplikasi percobaan penting dalam budaya lain telah mendapatkan berbagai keberhasilan.
B. Hubungan Antara Psikologi Lintas Budaya dengan Ilmu Lainnya
Hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu lain dapat dikatakan seperti simbiosis mutualisme, yaitu saling membantu, saling mengisi satu sama lain. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku hubungan antar individu, dan antar individu kelompok dalam berperilaku sosial. Melihat pengertian sosiologi jelas hubungan psikologi lintas budaya dan sosiologi amat erat, lalu seiring berjalannya waktu kita lebih mudah mengatakan psikologi lintas budaya karena kita melihat hubungan yang erat antara kedua ilmu tersebut.
C. Tipe studi Lintas Budaya
Dua jenis di sebelah kiri menekankan uji hipotesis. Studi pertama berusaha agar hasil penelitian dari satu kelompok (biasanya di Barat) dapat digeneralisasikan ke kelompok lain di Barat ataupun non-Barat. Pada jenis yang kedua yaitu studi yang berdasarkan teori, faktor budaya merupakan kerangka kerja teoritis. Pada dua jenis penelitian yang di sebelah kanan, uji hipotesis tidak merupakan tujuan. Studi tentang perbedaan psikologi merupakan studi yang paling banyak dilakukan. Studi tentang validasi eksternal berusaha mengekplorasi makna dan penyebab perbedaan lintas-budaya dengan bantuan faktor eksternal.
                                                                                               
Orientasi
Pertimbangan faktor konteks      uji hipotesis                          Eksplorasi
Tidak                                          Dapat digeneralisasi       Perbedaan Psi
Ya                                                          Berdasarkan teori         Validasi Eksternal

D. Penentuan budaya dan subyek
1. Penentuan budaya
- Pemilihan sampel berdasarkan kemudahan (convenient sampling). Dalam hal ini peneliti memilih budaya tertentu karena adanya faktor kemudahan dan bukan karena adanya pertanyaan teoritis yang ingin di jawab.
- Pemilihan sampel secara sistematis. Peneliti memilih budaya dengan berpedoman pada teori atau hipotesis tertentu.
- Penentuan sampel secara acak dalam jumlah besar. Cara ini biasanya digunakan peneliti untuk mengevaluasi apakah benar suatu struktur atau teori dapat dianggap bersifat universal.
            2. Penentuan Subyek
Kelompok budaya yang akan dibandingkan harus memiliki latar belakang yang kurang lebih sama.
E. Isu Metodologi Dalam Psikologi Lintas-Budaya
            Isu yang mengemuka tentang hubungan antara psikologi dan budaya yang kemudian muncul dalam gerakan psikologi lintas budaya antara lain didorong oleh pemahaman baru tentang realitas pertemuan budaya.  Globalisasi kapitalisme yang merupakan arus utama di dunia dewasa ini pada dasarnya telah mengakibatkan penyempitan dunia. Wilayah dunia seolah semakin mengecil. Tidak jelas lagi batas-batas antar negara dalam arti kultural. Ditambah lagi dengan pesatnya pemakaian teknologi cyber yang luar biasa menjadikan seolah-olah dunia adalah satu adanya. Fenomena demikian membawa konsekuensi berupa adanya pertemuan orang atau bangsa yang tidak hanya bersifat orang perorang tetapi lebih dari itu adalah pertemuan antar budaya. Sebagian kalangan dinilai sebagai gerak maju peradaban yang  di satu sisi harus dihadapi dan dijalani kalau tidak ingin dikatakan sebagai komunitas yang tertinggal dan terkesan mengisolasi diri, sementara itu di sisi yang lain dampak dari kesemuanya itu adalah terjadinya persoalan benturan budaya. Persoalan yang tidak sederhana ini tidak hanya menuntut adanya pemecahan atau resolusi. Lebih dari itu perlu penyikapan yang sehat yang berangkat dari kesadaran dan pemahaman individu dan masyarakat akan adanya keberagaman budaya yang pada gilirannya menuntut kompetensi mereka dalam beradaptasi, menerima perbedaan, membangun hubungan yang luas, mengatasi konflik yang berakar pada perbedaan budaya. Isu tentang hubungan antar budaya atau lintas budaya merupakan persoalan yang pelik dan kompleks. Tidak saja karena kemungkinan benturan atau gegar budaya yang ditimbulkan tetapi terlebih-lebih lagi ketika memasuki era global yang meniscayakan pentingnya pergaulan antar budaya lintas bangsa ini, menimbulkan ekses yang  mengancam jati diri budaya lokal. Wacana tentang budaya lokal versus global menguatkan hal tersebut. Budaya lokal akan hilang tertelan budaya global merupakan contoh kecemasan yang selama ini dirasakan oleh sebagian anggota masyarakat yang peduli terhadap identitas budayanya. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi dari peristiwa tersebut. Antara lain misalnya ada budaya tertentu yang pendukungnya lebih memilih menghindari konflik dengan jalan menghindari budaya tertentu dengan pertemuan dengan pendukung budaya yang lain dan hanya berdiam di kawasan budayanya sendiri. Dengan demikian terkesan lebih bersikap tinggal atau berdiam dalam kawasan budayanya sendiri. Sepintas terkesan bahwa dengan hanya mengembangkan interaksi pergaulan di lingkungan sendiri akan menjadikan warga masyarakat pendukung budaya tersebut lebih aman dan terhindar dari konflik apalagi gegar budaya akibat bertemu dengan budaya lain. Contoh kasus misalnya negara tertentu yang  sama sekali tidak mengizinkan beroperasinya sistem internet karena takut akan dampak negatifnya bagi warganya. Namun apabila kita cermati, ternyata penyikapan yang demikian itu ternyata tidak menguntungkan bagi perkembangan yang sehat bagi suatu budaya. Masyarakat pendukung budaya tersebut menjadi ekslusif dan terisolasi. Mereka kehilangan peluang memperoleh akses informasi dan wacana yang berkembang di dunia internasional  yang sesungguhnya menjadi kunci untuk tetap eksis dalam pergaulan antar bangsa. Mereka ini akhirnya hanya akan menjadi ”katak dalam tempurung” dan kehilangan kesempatan untuk belajar dan mengaktualisasikan diri secara lebih baik.
Padahal budaya yang maju adalah budaya yang mau dan siap membuka diri terhadap perubahan termasuk perubahan akibat pertemuan dengan budaya lain.
Contoh-contoh ini menjadi indikasi kehancuran sebuah kebudayaan yang dimulai dari pergeseran nilai-nilai budaya di kalangan kaum muda remaja kita.

F. Alat ukur
            Alat ukur yang digunakan harus memiliki makna yang sama pada budaya yang akan diteliti. Tes Intelegensi yang kelihatan pasti mengukur aspek yaang sama dari sampel yang diteliti tidak lepas dari kesulitan. Sebaliknya bila tes intelegensi yang digunakan pada penelitian ini menggunakan bahan – bahan alami yang lebih banyak ditemukan dalam konteks negara berkembang, maka sempel yang berasal dari negara maju justru memperoleh skor yang lebih rendah dibandingkan sampel yang dibesarkan di negara berkembang.
-          Kesetaraan ( Equivalence) : kesetaraan merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian lintas-budaya karena suatu perbandingan lintas budaya hanya dpat dilakukan bila data yang dikumpulkan di budaya yang berbeda memang setara atau dapat dibandingkan.         
      
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Lintas Budaya dekat sekali dengan isu-isu otonomi daerah, pluralisme ada multikulturalisme yang sedang hangat saat ini. Itu tidak hanya mengandung unsur-unsur
kelokalan tapi juga bisa dikategorikan studi hubungan internasional apabila levelnya adalah internasional dan lintas negara.
Lintas Budaya adalah studi ilmiah tentang perilaku manusia dan proses mental, termasuk variabilitas dan invarian, di bawah kondisi budaya yang beragam. Melalui memperluas metodologi penelitian untuk mengenali variasi budaya dalam perilaku, bahasa dan makna, ia berusaha untuk memperpanjang, mengembangkan dan mengubah psikologi.

B. Daftar Pustaka
Setiadi, B.N. (1999). Peranan Psikologi Lintas Budaya Dalam
Mengembangkan Psikologi di Indonesia. Pengantar dalam  berry, J.W, Poortinga, Y.H, Segall, M.H. dan Dasen, P.R. (Ed). Psikologi Lintas Budaya: Riset dan Aplikasi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Labels

Analisis Kasus Antropobiologi Antropologi Budaya Asesmen Kepribadian Asesmen: Observasi dan Wawancara Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Cerita Rakyat Cerpen Filosofi Filsafat Grafologi HRD Ilmu Kesehatan Mental & Psikopatologi Intervensi Dasar Kelompok dan Komunitas Intervensi Dasar Organisasi Jurnal Ketamansiswaan Kewarganegaraan Kode Etik Psikologi Kuliner Metode Penelitian Kualitatif Metode Penelitian Kuantitatif Parenting Pend. Agama Islam Pendidikan Pancasila Pengembangan Skala Psikologi Pengembangan Tes Prestasi Penyakit Kulit Perilaku Konsumen Psikodiagnostika Psikologi Psikologi Abnormal Psikologi Analitis Psikologi Eksperimen Psikologi Emosi Psikologi Faal Psikologi Forensik Psikologi Industri dan Organisasi Psikologi Kepemimpinan Psikologi Kepribadian Psikologi Kesukaran Belajar Psikologi Kewirausahaan Psikologi Klinis Psikologi Kognitif Psikologi Komunikasi Psikologi Konseling Psikologi Orhius Psikologi Pelatihan dan Pengembangan Psikologi Pendidikan Psikologi Perkembangan Psikologi Seni Psikologi Sosial Psikologi Teknologi dan Informasi Psikologi Transpersonal Psikologi Ulayat (Indigenous Psychology) Psikologi Umum Psikometri Puisi Review Jurnal Sosiologi Statistika Statistika Inferensial Tes Psikologi Tips & Trik Umum

Popular Posts

  • Modul Interpretasi-Tes Grafis (DAP-BAUM-HTP-Wartegg)
  • Pandangan Teoritis Tentang Tingkah Laku Abnormal
  • KRIMINALITAS
  • Tipe Tipe Komunikasi
  • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask
    Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask

Time

Translate

About me

Anak pertama dari empat bersaudara, dilahirkan 23 tahun lalu di Kabupaten Polewali Mandar pada tanggal 04 April 1996 yang akhirnya memiliki dua suku yaitu suku Mandar dan Jawa.

Punya hobi bermain game online, menulis dan memasak. Suka traveling walau kantong tipis. Bercita-cita jadi dokter hewan dan psikolog. Si Pleghmatis yang kadang Koleris. Si cuek yang menyukai romantis. Si tukang nangis yang suka marah-marah. Si nekat yang takut sendirian. Si cadel yang susah untuk ngucapin p atau f dan juga r.

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum da...
  • ►  2019 (251)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Maret (8)
    • ►  Februari (241)
Diberdayakan oleh Blogger.
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by BeautyTemplates