facebook twitter instagram

~ Beartopia ~

  • Home
  • Psychology
  • Joylada
    • Sweat & Tears
    • Freerunning Estafet
    • Pangeran Kuda Putih VS Mr. Cat

Karake’ lette
Dahulu kala kerajaan Balanipa, Mandar, Sulawesi Barat tengah dilanda petaka. Bala tentara kerajaan Gowa menyerang dengan jumlah pasukan yang besar. Sementara Balanipa hanya memiliki sedikit pasukan perang mengingat Balanipa hanyalah kerajaan kecil yang selama ini hidup dengan damai, tanpa ada peperangan. Setelah melalui berbagai musyawarah, diputuskanlah untuk diadakan sayembara agar para pemuda bersedia menjadi prajurit. Kelak jika kemenangan sudah di tangan, mereka akan mendapatkan hadiah yang tidak sedikit jumlahnya. Pengumuman segera disebarkan ke seluruh pelosok negeri. Semua pemuda di wilayah Balanipa ikut ambil bagian. Tak hanya tertarik pada hadiah yang dijanjikan, mereka juga tergerak untuk membela tanah airnya dari serangan musuh.

Di suatu kampung, di lereng gunung, tinggallah seorang laki-laki setengah baya yang cacat kakinya sehingga tidak bisa berjalan. Dia juga ingin mengikuti sayembara itu. Para pemuda di sekitarnya tertawa mengejek. Mereka mengatakan bahwa tidak mungkin lelaki tua itu mengikuti sayembara, mengingat sayembara itu hanya untuk para tobarani (pemberani). Bukan untuk lelaki tua yang cacat kedua kakinya. Mendengar ejekan tersebut lelaki tua itu diam saja. sepertinya, dia tak mungkin mengikuti sayembara itu. Apalagi ikut pasukan perang melawan kerajaan Gowa. Ketika dia menyampaikan niatnya untuk mendaftarkan diri kepada punggawa Balanipa, jawaban yang sama pun dia terima. Punggawa kerajaan juga mengejeknya dan menyuruh dia kembali ke rumah karena nanti malah akan merepotkan pasukan yang lainnya. Akhirnya lelaki tua itupun pulang dan tidak jadi mengikuti sayembara tersebut.

Sayembara pun digelar. Dipilihlah pemuda-pemuda yang kuat, tangkas dan gagah berani untuk bergabung dengan pasukan Balanipa. Mreka diatih dengan berbagai keterampilan pedang dan strategi perang. Setelah persiapan secukupnya, mereka segera akan diberangkatkan ke medan perang. Dengan menggunakan bermacam-macam senjata, seperti tombak, pedang dan panah. Mereka berangkat ke Teluk Mandar tempat bala tentara Kerajaan Gowa akan mendarat.

Akhirnya hari itu tiba. Tampak pasukan Kerajaan Gowa datang dari laut hendak merapat ke dermaga pelabuhan Mandar. Pasukan Balanipa segera bersiap. Ketika pasukan Kerajaan Gowa mulai turun dari kapal, serentak pasukan Balanipa menyerang. Terjadilah pertempuran sengit. Mereka saling serang dengan senjata andalannya. Pasukan Balanipa bertempur dengan gagah berani. Keinginan membela tanah airnya dari serangan musuh semikian kuat. Deikian juga pasukan dari Gowa yang dipimpin sendiri oleh Raja Gowa. Mereka begitu berhasrat untuk menguasai kerajaan Balanipa.

Oleh karena jumah pasukan yang jauh lebih banyak, lebih kuat, dan lebih terlatih, pasukan Kerajaan Gowa mulai menguasai keadaan. Prajurit dari Balanipa mulai kocar-kacir. Banyak pemuda-pemuda yang gugur mempertahankan tanah airnya. Pada akhirnya, Panglima Perang Kerajaan Balanipa memutuskan untuk mundur ke Kota Raja, lalu melapor ke Raja Balanipa, kemudian menyusun strategi berikutnya. Sementara itu, Raja Gowa sangat senang karena telah memeperoleh kemenangan di Teluk Mandar. Untuk sementara dia memutuskan beristirahat dulu sebelum menyerang kota Raja Balanipa.

Raja Balanipa yang mendengar laporan panglima perangnya sangat gusar. Pasukannya telah kalah dan begitu banyak pemuda yang gugur di medan perang. Sementara itu tak banyak agi pemuda yang bisa diandalkan untuk berperang. Bagaimana caranya utnuk dapat mengalahkan pasukan kerajaan Goawa yang begitu kuat? Bagaimanapun, dia takkan menyerah. Lebih baik mati daripada menyerahkan tanah Mandar ke orang Gowa. Pada saat genting itu muncullah lelaki dengan cacat kaki menghadap Raja Balanipa.

Di hadapan raja, lelaki tersebut mengenalkan dirinya dengan nama I Karake’lette dan bermaksud ingin ikut berperang melawan Raja Gowa. Raja yang mendengar, tertawa terbahak-bahak. Bagaimana mungkin oran gcacat seperti itu dapat berperang melawan musuh yang begitu kuat. Namun I karake’lette kelihata bersungguh-sunggu ingin membantu raja Balanipa. Tak tampak keraguan di wajahnya. Raja lalu menanyakan apa yang di inginkan lelaki tersebut jika ia menang melawan Raja Gowa. I karake’lette tidak meminta apapun, dia hanya ingin menunjukkan bakti dan cintanya kepada tanah Balanipa.

Akhirnya Raja Balanipa setuju. Berangkatlah I Karake’lette ke Teluk Mandar. Sesampainya di sana, dia menyelinap masuk ke atas kapal yang ditumpangi oleh Raja Gowa yang tengah berpesta pora. Dia segera mendekat ke singgasana Raja Gowa. Raja Gowa dan pengawalnya terkejut melihat kehadiran I Karake’lette. Di hadapan Raja Gowa I Karake’lette menantangnya untuk bertanding. Jika Raja Gowa menang, maka dia dapat mengambil seluruh isi kerajaan Balanipa. Namun, jika tidak, Raja Gowa harus segera angkat kaki dari wilayah Balanipa dan tidak boleh kembali lagi ke tanah Balanipa.

Raja Gowa sangat marah mendengar tantangan tersebut. Namun dia tidak menolak tantangan itu. Di pikirnya lelaki cacat itu tak mungkin memenangkan pertarungan apapun melawannya. I Karake’lette segera mengeluarkan dua buah jeruk nipis dan sebilah keris dari sakunya. Jika Raja Gowa dapat membelah dua jeruk nipis yang di lemparkan I Karake’lette maka raja Gowa yang menjadi pemenang. Namun, jika I Karake’lette yang berhasil membelah dua jeruk tersebut maka dirinyalah yang menjadi pemenang. Raja Gowa setuju dengan aturan main pertarungan itu.

Seketika i Karake’lette melemparkan jeruk nipis itu dan disambut ayunan keris Raja Gowa. Namun sayang, sabetan keris meleset, tidak mengenai jeruk nipis itu sama sekali. sebaliknya lemparan jeruk nipis dari Raja Gowa bisa ditebas oleh I Karake’lette dan terbeah jadi dua. Raja Gowa tahu dia telah kalah. Pertarungan tadi telah dimenangkan oleh I Karake’lette. Raja Gowa sangat marah, dia ingkar janji, lalu menyerang I Karake’lette. I Karake’lette menghindar dengan gesit. Dia berbalik menyerang sehingga

Raja Gowa tertusuk oleh keris I Karake’lette dan tewas seketika.
I Karake’lette segera keluar kapal dan kembali ke Kota Raja Balanipa. Sementara itu, pasukan Kerajaan Gowa yang kehilangan rajanya ketakuan dan segera angkat kaki dari Teluk Mandar. Sesampainya di kota I Karake’lette disambut meriah oleh rakyat Kerajaan Balanipa dan rajanya. Mereka berterima kasih karena telah diselamatkan oleh I Karake’lette, seorang lelaki cacat kaki yang ternyata punya kesaktian yang tidak terduga. Sebagai hadiah Raja Balanipa mengangkat I Karake’lette menjadi punggawa kerajaan dan memberikan sebidang tanah yang luas untuk I Karake’lette dan anak cucunya.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Tokoh :
1. Narator                          : Dian                                8. Patih               : Irsad
2. Lutung Kasarung          : Manggala                        9. Pengawal 1     : Hardiyanto
3. Raja                               : Rudi                                10. Pengawal 2   : Nur
4. Ratu                              : Jeni                                  11. Rakyat          : Yuli
5. Purbararang                   : Bella                                12. Dayang         : Avi
6. Purbasari                       : Rina                                 13. Penyihir 1     : Huda
7. Indrajaya                       : Eko                                  14. Penyihir 2     : Unik

Sutrada dan Penulis Naskah : Neda

LUTUNG KASARUNG
Narator    :“Alkisah pada zaman dahulu kala di Pulau Jawa ada sebuah kerajaan yang dipimpin oleh seorang Raja yang bijaksana, beliau dikenal sebagai Prabu Tapak Agung. Prabu Tapak Agung mempunyai seorang istri yang dikaruniai dua orang putri yang kini sudah dewasa dan sangat cantik jelita. Akan tetapi, sifat kedua putrinya sangatlah berbeda. Kedua putri tersebut bernama Purbararang dan adiknya Purbasari lulur mandi. Hingga akhirnya pada suatu hari, sang ratu Prabu merasa cemas karena usia sang raja prabu sudah terlalu tua untuk memimpin kerajan di negeri ini.”

*Intro*

#Adegan 1
(Di kamar)
Ratu Prabu   : “(sambil memegang bahu )Kanda, sepertinya usiamu sudah tua untuk memimpin kerajaan ini.  Bagaimana jika kita serahkan saja kerajaan ini kepada salah satu putri kita?”
Raja Prabu    : “(sambil batuk) Ukhukhuk.. Kamu benar Dinda, sebaiknya kita serahkan tahta ini kepada Purbasari putri bungsu kita.”
Ratu Prabu   : “Tapi bagaimana dengan Purbararang? (dengan wajah bingung).”
Raja Prabu    : “Hem.. Kita sudah merawat mereka sejak kecil, jadi kita sudah tahu sifat-sifat mereka. Dan menurutku Purbasarilah yang pantas untuk meneruskan tahtaku.”

#Adegan 2
Narator       :  “Prabu Tapak Agung dan ratu keluar dari kamarnya untuk memberitahu kedua putrinya.”
Raja Prabu    : “Dayang kemarilah! Panggillah kedua putriku kemari!”
Dayang         : “Enggih Tuan, kula bade mlebet untuk memanggil Tuan Putri.”(Dayang bergegas memanggil Purbararang dan Purbasari)
Narator       : “ Purbararang dan Purbasari pun menghadap kepada Ayahandanya.”
Purbasari      : “Ada apa Ayahanda memanggil kami berdua kemari?”
Raja Prabu   : “Begini putriku, usia Ayah sudah semakin tua untuk memimpin kerajaan ini. Ayah akan menyerahkan tahta ini kepada Purbasari.”
Purbararang  : “APA..! Ayah akan menyerahkan tahta kerajaan ini kepada Purbasari, semantara aku adalah anak sulungmu. Ayah tidak adil” (dengan wajah memerah)
Indrajaya      : “Ya ayahanda, seharusnya Purbararang yang menjadi penerusmu!”
Purbasari      :  “Mohon ampun ayahanda. Tetapi, bukankah sebaiknya yang mewarisi tahta kerajaan ini adalah kakanda Purbararang? Karena ia lebih pantas dibandingkan ananda.”
Raja Prabu   :“Tidak bisa, keputusanku sudah bulat.”
Narator       :  “Kemarahan yang memuncak membuat Purbararang menangis dan meninggalkan  ruangan.”
Raja Purba    : “Patih, beritakanlah pada seluruh pelosok negeri bahwa Purbasari akan menjadi ratu di kerajaan ini!”
Patih             : “Baik, paduka raja!”
#Adegan 3
Patih             :  “Pengumuman, Paduka raja sudah mewariskan tahta kerajaannya kepada putri Purbasari. Dan seminggu lagi akan diadakan penobatan putri Purbasari.”
Rakyat          :  (Merasa senang) “Wah, akhirnya yang terpilih adalah putri Purbasari. Kerajaan ini akan senantiasa tentram.”

#Adegan 4
Narator        :  “Sebelum penobatan Purbasari menjadi seorang Ratu, Purbararang sangat bingung dan risau ia pun mempunyai niat mencelakai adiknya. Ia bersama tunangannya pergi untuk mencari seorang penyihir di tengah hutan dengan harapan dapat membantunya dalam menjalankan niat jahat Purbararang menggagalakan penobatan Purbasari sebagai seorang Ratu kerajaan.”
Purbararang  : “Kakang, ayo cepatan jalannya.” (sambil menarik tangan Indrajaya)
Indrajaya      : “Sabar Dinda, ini sedang jalan.” (dengan nada sedikit marah)
Sampailah mereka ditengah hutan, mereka pun menemukan rumah para penyihir dan bergegas menemui para penyihir tersebut.
Penyihir 2     : “Pasti mereka mempunyai niatan buruk karena telah mendatangi kita.”
Penyihir 1     : (tertawa) “Hihihi.. Sedang apa kalian datang kemari?”
Purbararang  :  “Hai penyihir!, bisakah kamu menyihir Purbasari menjadi jelek.”
Penyihir 1     : “Jangankan merubahnya jadi jelek, membuatnya matipun kami bisa. Ha .. ha .. ha”
Penyihir 2     :  (tertawa)“Tentu bisa tuan putri, kita adalah penyihir yang dapat menyihir apapun, tapi…… Apa imbalan untuk kami?”
Purbararang  : “Aku akan memberimu emas yang banyak yang penting Purbasari menjadi jelek.”
Penyihir 1     :  “Baiklah kalau seperti itu tuan putri!”“(Tertawa).”
Penyihir 2     : (sambil memberikan ramuan yang telah yang dibuatnya)“Ini, berikan ramuan ini kepada Purbasari. Dia akan mengalami kulit yang membusuk.”
Purbararang  : (tersenyum pahit lalu tertawa) “Terima kasih, Ini ada kepingan emas untuk kalian.”
Penyihir 2     : “Tapi kami tidak mau bertanggung jawab dan ikut campur dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ha..ha..ha..
Setelah mendapatkan ramuan itu Purbararang dan Indrajaya bergegas pulang menuju kerajaan.
#Adegan 5
            (Di dapur)
Haripun sudah mulai gelap, tiba waktunya untuk makan malam bagi keluarga kerajaan. Dayang pun menyiapkan makanan untuk santapan makan malam.
Purbasari      : “Dayang..sudah siapkah makanannya?” (dengan nada lembut)
Dayang         : “Enggih putri, sebentar lagi makanannya siap. Tungguhlah sebentar.”
Purbararang  : “Sebentar, aku akan membantu dayang untuk menyiapkan makanan.” (tersenyum sok manis)
Tanpa sepengetahuan Dayang, Purbararang memberikan ramuan yang diberikan para penyihir.  Dan Purbararang membawakan makanan menuju meja makan.

Purbararang  : “Silahkan dinikmati adikku.” (sembari menyajikan makanan didepan meja makan Purbasari)
Purbasari      : “ Terima kasih Kak.” (tersenyum manis)
Mereka pun menikmati hidangan makan malam. Hingga keesokan harinya, di seluruh Kerajaan terdengar heboh bau amis yang menusuk hidung. Ternyata bau amis dan busuk tersebut berasal dari kamar Purbasari.

Raja Prabu    : “Pengawal bau amis dan busuk apakah ini?” (sambil menutupi hidungnya)
Pengawal 1   : “Bau ini berasal dari kamar Purbasari, Raja.”
Ratu Prabu   : “Tidak mungkin!  Bau ini berasal dari kamar Purbasari.  Purbasari adalah putri yang bersih dan wangi.” (sambil mengoceh)
Patih             : “Iya sudah mari kita kesana untuk membuktikannya yang mulia.”
#Adegan 6
Semakin dekat menuju kamar Purbasari, semakin tercium aroma amis dan busuk dari Purbasari. Sampai-sampai keluarga kerajaan pun hampir tidak kuat untuk mencium aromanya.

Purbararang  : “Lihat ayahanda, masa ayahanda menunjuk orang yang terkutuk seperti itu sebagai pemegang tahtamu.”
Ratu prabu   :“Apa yang telah terjadi pada dirimu putriku!”(menangis lalu mendekap purbasari)
Purbararang  :  “Orang yang terkutuk seperti dia tidak pantas menjadi seorang ratu!.”
Raja Prabu    : “Betul putriku, pengawal cepat bawa dia pergi dari kerajaan ini sebelum rakyat mengetahui hal ini!.”
Purbasari      : “Ayah, ibu,  jangan usir aku, aku juga tidak tahu apa yang terjadi padaku. (menangis).”
Raja Prabu: “Berhenti menangis putriku, pengawal cepat seret dia!.”
Pengawal 2   : “Baik tuanku, akan saya laksanakan!.”
Purbararang dan Indrajaya: “(Tertawa senang).”
           
Sang pengawal serta Patih pun membawa Putri Purbasari ke hutan yang jauh dari pemukiman rakyat.

#Adegan 7
 (Di hutan)
Sampailah mereka di hutan. Sang Patih dan para pengawal membuat rumah dari bambu untuk tempat tinggal Purbasari.

Patih             : “Purbasari, tinggallah kau disini! Paman akan mengirim persedian makanan untukmu. Jagalah dirimu disini baik-baik. Penderitaan ini akan segera berakhir. Bersabarlah! (sembari menepuk pundak Purbasari pelan)
Purbasari      : “Iya Paman terima kasih atas semuanya. Pergilah! Aku tahu kau pasti tidak kuat mencium bau busuk badanku ini.” (dengan wajah sedih)
            Sang Patih pun pergi kembali ke istana. Di tengah hutan belantara, Purbasari hidup dengan damai yang ditemani oleh berbagai macam hewan. Diantara hewan tersebut ada seekor kera berbulu hitam yang misterius. Tetapi kera tersebut yang paling perhatian kepada Purbasari. Lutung kasarung namanya, iaselalu menggembirakan Purbasari dengan mengambilkan bunga –bunga yang indah serta buah-buahan bersama teman-temannya.
Lutung Kasarung:   “(Muncul dari semak-semak). Tuan putri……. Jangan takut, nama saya……… Lutung Kasarung. Saya hhanya ingin berteman …….. dengan tuan putri…….”
Purbasari      :  “Baiklah, aku akan berteman denganmu.”

            Pada saat malam bulan purnama, Lutung Kasarung bersikap aneh. Ia berjalan ke tempat yang sepi lalu bersemedi. Ia sedang memohon sesuatu kepada Dewata. Tidak lama kemudian, tanah di dekat Lutung merekah dan terciptalah sebuah telaga kecil, airnya jernih sekali. Airnya mengandung obat yang sangat harum. Dan keesokan harinya Lutung Kasarung menemui Purbasari dan memintanya untuk mandi di telaga tersebut.

Lutung Kasarung  :  “Tuan putri, mandilah di telaga ini.”(sambil menarik tangan Purbasari menuju telaga)
Purbasari                 : “Apa manfaatnya bagiku?” (pikir Purbasari)
Lutung Kasarung    : “Ceburkan dirimu!.”
Purbasari                 : “Baiklah akan kuturuti kemauanmu.”
            Akhirnya Purbasari menceburkan dirinya ke telaga. Tak lama setelah Ia menceburkan dirinya. Sesuatu terjadi pada kulitnya. Kulitnya menjadi bersih seperti semula dan ia menjadi cantik kembali. Purbasari sangat terkejut dan gembira ketika ia bercermin ditelaga tersebut.
Purbasari      : (kaget)“Wahh……. Apa yang terjadi padaku….. aku kembali seperti semula. Lutung terima kasih.”
Lutung Kasarung: “Ya putri sama-sama.”

Setelah beberapa bulan penobatan Purbararang sebagai ratu di kerajaan, Purbararang memutuskan untuk melihat adiknya di hutan. Ia pergi bersama tunangannya dan pengawalnya. Ketika sampai di hutan, ia akhirnya bertemu dengan adiknya dan saling berpandangan. Purbararang tak percaya melihat adiknya kembali seperti semula.

Purbararang  : “Apa? Kenapa kau bisa berubah seperti dulu lagi?” (sambil wajah kebingungan)
Purbasari      : “Tidak perlu kau tahu, bagaimana aku bisa kembali seperti ini. Yang jelas dengan aku yang seperti ini, aku bisa kembali  melanjutkan amanat yang telah Ayahanda berikan kepadaku untuk memimpin kerajaan.”
*intro*
Purbararang  : “Tidak! Tidak bisa, akulah sang ratu. Aku sudah dinobatkan sebagai ratu beberapa bulan yang lalu!”  (dengan nada tinggi)
Purbasari      : “Tentu saja bisa, ini adalah amanat Ayahanda dan tidak ada yang bisa menentang amanat Ayahanda.
Purbararang  : “Baiklah, bagaimana jika kita adu ketampanan tunangan kita?” (Sambil menarik Iengan Indrajaya) “Mana tunanganmu?”
Purbasari      : (kebingungan, kemudian tanpa sadar Ia menarik Lutung Kasarung) “Ini, inilah tunanganku. (tanpa ragu)
Purbararang dan Indrajaya :(tertawa terbahak-bahak melihat Purbasari membawa sang Lutung)
Purbararang  : “Jadi monyet itu tunanganmu?”
Purbasari      : (diam dan membisu)
Dengan seketika, saat Purbararang dan Indrajaya tertawa terbahak-bahak. Tiba-tiba mereka terkejut melihat sesosok Lutung yang berubah menjadi pangeran tampan.
Lutung Kasarung: “Akulah wujud asli dari seekor lutung. Dan aku akan segera menikahi Purbasari.”
Purbararang           : “ Apa tidak mungkin!” (dengan wajah heran)
Lutung Kasarung  : “Tidak akan ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kau tahu? Aku adalah seorang pangeran dari Kayangan yang dikutuk.
Purbasari               : “Apa kau seorang pangeran?” (dengan wajah kaget)
Lutung Kasarung  : “Ya aku adalah seorang pangeran. Dan kutukanku kini berakhir ketika seorang gadis mencintaiku dengan hati yang tulus. Dan gadis itu adalah kau Purbasari. (sambil menunjuk Purbasari)
Purbararang           : “Apa? Lalu untuk apa aku memasukan racun kedalam makanan Purbasari, jika akhirnya dia menemukan kebahagiannya. Ini tak adil!” (dengan nada marah)

Patih dan pengawal yang mendengar semua percakapan mereka terlihat terkejut.
Mereka pun pulang menuju kerajaan. Sesampainya di kerajaan Raja memberikan hukuman kepada Purbararang dan Indrajaya.
#Adegan 8
 (Di aula kerajaan)
Beberapa bulan kemudian, pesta pernikahan  dan penobatan Purbasari menjadi Ratu digelar dengan meriah.
Lutung Kasarung  : “Purbasari, maukah kau menikah denganku menjalani hari-hari dengan bahagia bersamaku?”  (sambil memegang tangan Purbasari)
Purbasari               : “Tentu Pangeran, aku bersedia kau persunting.” (tersenyum bahagia)
Lutung Kasarung    : (mencium tangan Purbasari)
Patih                      : “Dengan ini kalian resmi menjadi pasangan suami istri.”
Raja Prabu             :”Kalian sekarang sudah resmi menjadi sepasang Raja dan Ratu. Semoga kalian hidup bahagia.”
Rakyat                   : (tepuk tangan)

Akhirnya Purbasari dan Lutung Kasarung hidup bahagia didalam kerajaan. Semuanya berbahagia. Sedangkan Purbararang dan Indrajaya menerima hukuman yang setimpal. Demikian drama cerita rakyat Lutung Kasarung yang dapat kami persembahkan. Terima kasih. (semuanya menundukan badan)


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Labels

Analisis Kasus Antropobiologi Antropologi Budaya Asesmen Kepribadian Asesmen: Observasi dan Wawancara Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Cerita Rakyat Cerpen Filosofi Filsafat Grafologi HRD Ilmu Kesehatan Mental & Psikopatologi Intervensi Dasar Kelompok dan Komunitas Intervensi Dasar Organisasi Jurnal Ketamansiswaan Kewarganegaraan Kode Etik Psikologi Kuliner Metode Penelitian Kualitatif Metode Penelitian Kuantitatif Parenting Pend. Agama Islam Pendidikan Pancasila Pengembangan Skala Psikologi Pengembangan Tes Prestasi Penyakit Kulit Perilaku Konsumen Psikodiagnostika Psikologi Psikologi Abnormal Psikologi Analitis Psikologi Eksperimen Psikologi Emosi Psikologi Faal Psikologi Forensik Psikologi Industri dan Organisasi Psikologi Kepemimpinan Psikologi Kepribadian Psikologi Kesukaran Belajar Psikologi Kewirausahaan Psikologi Klinis Psikologi Kognitif Psikologi Komunikasi Psikologi Konseling Psikologi Orhius Psikologi Pelatihan dan Pengembangan Psikologi Pendidikan Psikologi Perkembangan Psikologi Seni Psikologi Sosial Psikologi Teknologi dan Informasi Psikologi Transpersonal Psikologi Ulayat (Indigenous Psychology) Psikologi Umum Psikometri Puisi Review Jurnal Sosiologi Statistika Statistika Inferensial Tes Psikologi Tips & Trik Umum

Popular Posts

  • Modul Interpretasi-Tes Grafis (DAP-BAUM-HTP-Wartegg)
  • Pandangan Teoritis Tentang Tingkah Laku Abnormal
  • KRIMINALITAS
  • Tipe Tipe Komunikasi
  • Mengahiri Konseling (TERMINASI)

Time

Translate

About me

Anak pertama dari empat bersaudara, dilahirkan 23 tahun lalu di Kabupaten Polewali Mandar pada tanggal 04 April 1996 yang akhirnya memiliki dua suku yaitu suku Mandar dan Jawa.

Punya hobi bermain game online, menulis dan memasak. Suka traveling walau kantong tipis. Bercita-cita jadi dokter hewan dan psikolog. Si Pleghmatis yang kadang Koleris. Si cuek yang menyukai romantis. Si tukang nangis yang suka marah-marah. Si nekat yang takut sendirian. Si cadel yang susah untuk ngucapin p atau f dan juga r.

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum da...
  • ►  2019 (251)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Maret (8)
    • ►  Februari (241)
Diberdayakan oleh Blogger.
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by BeautyTemplates