facebook twitter instagram

~ Beartopia ~

  • Home
  • Psychology
  • Joylada
    • Sweat & Tears
    • Freerunning Estafet
    • Pangeran Kuda Putih VS Mr. Cat
Oleh: Faridfirmansyah*
Jangan terburu senang saat melihat anak anda pada usia 3 tahun sudah mahir membaca, menulis , ataupun berhitung. Karena kepandaian tersebut bisa membuat anak jenuh dikemudian hari. Tepatnya saat materi tersebut mulai disampaikan pada saat sekolah dasar. Perkembangan jaman hingga pesatnya memang seolah membuat kita wajib mengikutinya. Karena itu, waktu bermain anak-anak sering dirampas lalu diganti dengan seabrek kegiatan belajar. Mulai lesmusik, les bahasa, hingga les kumon. 
Belajar beragam hal sejak dini memang lebih cepat diserap anak dibandingkan saat usia remaja. namu kecenderungan ini tidak selamanya baik untuk anak, karena bisa saja yang terjadi adalah sebaliknya. yakni anak justru jenuh. “Ketika jenuh sudah muncul, anak akan malas". Tutur psikolog pendidikan farid firmansyah.
Apalagi pendidikan sekarang bisa dimulai sejak usia 2 tahun. Seperti memasukkan anak dalam kelompok bermain (KB)serta pos PAUD terpadu (PPT).”Tidka masalah memasukkan anak ke KB atau PPT, namun tetap  jangan pernah menuntut mereka untuk bisa menulis, membaca atau berhitung.” Lanjut pria yang juga guru konseling di SD Muhammadiyah 4 Surabaya ini.
Belajar dalam  PPT jauh berbeda saat belajar di TK atau SD pengajaran untuk anak usia dini cukup dengan bermain. Nah disinilah dituntut untuk memodifikasi pengajaran spy lebih menyenangkan . yakni dengan cara membuat pengajaran melalui permainan yang bertema. Seperti  meronce serta mengenal  lingkungan sekitar dengan alat peraga. Kegiatan bermain sambil belajar inilah yang ampuh merangsang  motorik halus dan motoric kasar. Tanpa bisa menganal huruf dan abjad,”di TK inilah anak-anak baru boleh dikenalkan huruf”, jelasnya.
Farid tidak memungkiri kondisi anak-anak yang semakin dituntut untuk menonjol. Hingga materi dalam sekolah dasar sekarang pun tidak lagi belajar membaca melainkan langsung kemateri. “kekhawatiran inilah yang membuat orang tua cenderung membuat kegiatan  untuk anak-anaknya,” ujar penulis buku Jurus Ampuh Bertarung dengan Anak ini.
Namun, ia mengingatkan dalam sebuah pembelajaran tumbuh kembang anak haruslah bertahap. Tidak boleh langsung diberondong.”Anak pasti bisa jika memang dipaksakan, namun emosinya akan terganggu dikemudian hari,tuturnya.
Misalnya, pada usia 6 tahun tepat mengajarkan anak untuk membaca dan menulis. Di sisi lain anak sudah mahiritulah yang akhirnya membuat anak jenuh dan malas karena sudah pernah mempelajarinya. “itu juga karena kebutuhan anak bermain anak masih kurang,”  tegasnya.
Sehingga, hingga usia 9 tahun , anak tidak bisa membaca, menulis atau berhitung adalah hal yang lumrah. Tumbuh kembang masing-masing anak yang berbeda ini juga sangat kurang diperhatikan. Karena anak –anak tidak bisa dianggap pintar kalau sudah bisa membaca, menulis maupun berhitung.” Masih banyak kecerdasan lainnya yang harus diperhatikan,” tuturnya.
Salah satunya adalah kemampuan bercerita, menggambar dan olah raga. Semua merupakan bagian dari kecerdasan.”Hasil observasi saya, anak yang lama dalam menyelesaikan tugasnya itu belum tentu bodoh,”tandasnya. (Dimuat dalam kolom DUNIA PAUD, Harian Seput



 
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Komunikasi yang terjalin antara ibu dan ayah dengan anak sering kali tidak berjalan
selaras.  Padahal,  ketidakselarasan  komunikasi  ini  selanjutnya  dapat  berdampak  pada
perilaku  anak  di  masyarakat.  Anak  bisa  mencari  pelarian  yang  salah  di  luar  rumah
(lingkungan) karena anak merasa ibu dan ayahnya tidak dapat mengerti permasalahan yang
dihadapinya.  Ketidakselarasan  komunikasi  antara  ibu-ayah  dan  anak  biasanya  disebabkan
adanya perbedaan dunia  anak dengan dunia orang dewasa. Tentunya bukan anak yang harus
menyesuaikan, melainkan ibu-ayahlah yang seharusnya memahami.
Ibu  dan  ayah  tercinta,  sebelumnya  mari  kita  lihat  sebuah  data  survei  yang
menggemparkan dari KOMNAS Perlindungan Anak Indonesia terhadap anak-anak SMP dan
SMU di 12 kota besar di indonesia, tahun 2007 tentang perilaku menyimpang pada remaja.
Dari 4.500 anak SMP dan SMU, 3.000 di antaranya mengaku sudah tidak perawan! Bahkan,
ada pula (21,2%) yang pernah menggugurkan kandungan!
Para  pakar  pendidikan  menyimpulkan,  sebagian  besar  hal  ini  terjadi  awalnya
disebabkan oleh kurangnya komunikasi ibu-ayah dengan anak sejak usia dini, yang kemudian
terkumpul  dan  membesar.  Pengakuan  dari  salah  seorang  anak  mengungkap  bahwa  mereka
melakukan  hal  itu  tanpa  sepengetahuan  orangtuanya,  selain  itu  beberapa  melakukannya
karena  merasa  kurang  diperhatikan  oleh  orangtuanya.  Kurangnya  komunikasi  antara  ibu ayah dengan anaknya membuat anak merasa kurang diperhatikan sehingga mereka mencari
sumber perhatian dan kasih sayang yang lain.
Sebagai orangtua, kita merasa sudah memberikan perhatian dan kasih sayang cukup.
Sering kali kita tidak mau menyadari kesalahan kita dan cenderung lebih menyalahkan anak
atas perbuatannya tersebut. Hingga akhirnya bisa berakibat fatal dan hal ini tentu akan
sangat merugikan kita maupun anak.
Apakah komunikasi itu?
Secara  umum  komunikasi  adalah  proses  penyampaian  pesan  atau  pertukaran  katakata/gagasan dan perasaan, di antara dua orang atau lebih.
Pada  anak  usia  dini,  berbicara  adalah  salah  satu  contoh  dari  bentuk  komunikasi.
Contoh lainnya, seorang bayi berusia 3 bulan menangis keras, ibunya datang menghampiri
dan  memeriksa  popok  bayi  yang  ternyata  basah.  Tangisan  si  bayi  merupakan  bahasa
komunikasi yang digunakannya untuk menyampaikan pesan.  Mengapa diperlukan komunikasi
dengan anak sejak usia dini?
Anak usia dini memiliki karakteristik yang unik. Mereka berpikir konkret (nyata) dan
lebih percaya dengan apa yang mereka lihat daripada yang mereka dengar. Ibu dan ayah
yang memiliki keterampilan berkomunikasi akan mamputi :
1.  Mengenali anak-anak dengan lebih baik lagi
2.  Mengetahui keinginan dan minat anak;
3.  Dapat menjelaskan suatu pengetahuan, nilai agama, nilai moral, nilai sosial pada anak
dengan cara yang lebih mudah;
4.  Menjadi lebih percaya diri dalam berkomunikasi sehingga menjadi berhasil guna.
5.  Pentingnya komunikasi bagi anak usia dini:
6.  Mampu mengembangkan kecerdasan bahasa.
7.  Mampu belajar tentang pengetahuan sekitarnya.
8.  Mampu membangun kecerdasan sosial emosional.
9.  Mampu menjalin hubungan kekeluargaan, mengembangkan kepercayaan diri dan harga
diri anak.
10.  Mampu meningkatkan kecerdasan berpikir anak untuk membedakan benar salah.
11.  Mengembangkan kepedulian terhadap lingkungan dan alam sekitar.
12.  Mengenalkan pada Tuhan Maha Pencipta.
13.  Sebagai alat untuk menyelesaikan masalah.
Karakteristik anak usia dini dalam berkomunikasi :
1.  Anak berkomunikasi dengan menggunakan kata-kata dan isyarat tubuhnya.
2.  Kemampuan bahasa anak terus didorong untuk membantu anak dalam mengungkapkan
keinginan dan menjalin hubungan dengan orang lain.

Awal Kata dan Kalimat Pada Komunikasi Anak Usia Dini
Kata-kata pertama adalah ucapan seorang anak setelah mampu bicara dengan orang
lain.  Kata-kata pertama merupakan  cara  seorang  anak  untuk menyampaikan  pesan  kepada
orang lain, biasanya dianggap sebagai proses perkembangan bahasa yang dipengaruhi oleh
kematangan  kecerdasan.  Kematangan  kecerdasan  tersebut  biasanya  ditandai  dengan
kemampuan anak usia dini untuk menyusun kata dalam berbicara. Kemampuan ini akan terus
berkembang jika anak usia dini sering berkomunikasi atau berinteraksi2 dengan orang lain.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Kepribadian Anak : Sanguinis, Melankolis, Korelis dan Phlegmatis
Kunci keberhasilan orang tua dalam mendidik anak adalah dengan mengenali kepribadian anak terlebih dulu. Dengan mengetahui kepribadian sang anak, maka akan lebih mudah bagi orang tua untuk memahami anak dan menentukan bagaimana cara mendidiknya. Setiap anak adalah pribadi yang berbeda dan mempunyai karakter serta kepribadiannya masing – masing. Tidak ada kepribadian anak yang sama persis satu dengan lainnya, setiap anak itu mempunyai keunikan tersendiri.
Pengertian Kepribadian
            Kepribadian bisa didefinisikan sebagai keseluruhan sifat, tingkah laku dan sikap yang mencerminkan watak seseorang, caranya berbuat dan berperilaku, berpikir, termasuk aspek fisik dan mental, cara berinteraksi serta tujuan hidup yang ditunjukkan dalam hidupnya sehari – hari. Ada beberapa faktor yang menunjang pembentukan kepribadian anak yaitu:
1.  Sifat Bawaan atau Genetik
          Beberapa aspek dari kepribadian adalah merupakan hasil dari bawaan atau sesuatu yang diwariskan dalam satu keturunan. Misalnya, sifat – sifat dan potensi seorang anak akan menunjukkan beberapa kesamaan dengan orang tuanya atau keluarganya yang lain. Bisa juga karakteristik sifat seseorang akan melewati beberapa generasi sebelum muncul kembali pada keturunannya yang lain.
2.  Pendidikan
          Sangat penting bagaimana pendidikan yang diterima seorang anak juga dapat mempengaruhi pembentukan kepribadiannya. Pendidikan dalam segala aspek termasuk pendidikan keluarga akan memperkuat konsep diri anak dan pola penyesuaian terhadap kehidupannya sehari – hari yang sedang berkembang. Peran keluarga dalam pendidikan anak juga berfungsi untuk mengarahkan anak dalam ilmu yang ia dapat.
3.  Lingkungan
          Pergaulan sosial anak juga dapat mempengaruhi perkembangan kepribadiannya. Dalam lingkungan dimana anak tumbuh, orang – orang dan tempat tinggalnya akan memberikan pengaruh kepada kepribadian anak yang sedang terbentuk. Misalnya pergaulan dengan keluarganya yang lain, teman sebaya, guru, dan orang dewasa lainnya, ini akan menjadi suatu cara belajar dalam pendidikan karakter anak. Anak akan mempelajari pola interaksi sosial dari lingkungannya dengan dikontrol oleh keluarga. Fungsi lembaga keluarga adalah untuk melakukan kontrol sosial kepada anak.

4.  Pengasuhan Orang Tua
          Pengaruh orang tua tentu saja sangat besar kepada anak untuk pentingnya pendidikan karakter anak, karena orang tualah yang paling dekat dengan anak dalam kesehariannya. Peran orang tua dalam mendidik anak juga turut berperan membentuk kepribadian anak, karena anak akan hidup sesuai arahan orang tua, dan menganut nilai – nilai yang juga dianut orang tua. Sehingga anak akan mendasarkan caranya berpikir dan tindakannya pada nilai – nilai tersebut. Anak akan meniru dan mendasarkan tindakan serta cara berpikir kepada teladan yang diberikan keluarganya.
5.  Perkembangan Anak
          Pada setiap tahap perkembangan anak juga akan ada perkembangan secara mental dan fisik. Tahap perkembangan anak ini akan mempengaruhi kepribadian anak juga, karena anak belajar untuk menghadapi segala sesuatu dalam hidupnya dengan reaksi yang berbeda – beda. Ia akan belajar mengatasi berbagai macam permasalahan sesuai tahap perkembangan usianya dan kemampuan fisiknya, juga mulai mempelajari peran anak dalam keluarga.

Tipe Kepribadian Dasar
Ada beberapa tipe kepribadian yang bisa terlihat pada seorang anak berdasarkan teori Hipocrates-Galenus yaitu kepribadian yang berdasarkan pada empat cairan tubuh, yaitu:
•      Sifat kering yang terdapat dalam chole atau empedu kuning.
•      Sifat basah terdapat dalam empedu hitam atau melanchole.
•      Sifat dingin terdapat dalam phlegma atau lendir.
•      Sifat panas terdapat dalam sanguis atau darah.
Galenus menyatakan bahwa keempat cairan tersebut ada di dalam tubuh, dan jika salah satu lebih dominan dari cairan yang lain, maka cairan itu akan dapat membentuk kepribadian seseorang. Beberapa sifat atau temperamen manusia didasarkan pada teori cairan tubuh ini adalah:

1. Sanguinis atau kepribadian populer
Anak yang mempunyai tipe kepribadian yang populer atau sanguinis adalah anak yang periang dan penuh energi. Mereka biasanya mudah bergaul dan senang bicara. Jika berada pada lingkungan atau tempat baru, anak sanguinis tidak akan merasa canggung, bahkan mereka akan menjadi anak yang paling cepat beradaptasi dan menemukan kenalan baru disaat anak lain masih menyesuaikan diri. Ciri – ciri utama anak dengan kepribadian sanguinis adalah:
•      Anak ini punya kecenderungan populer dan disukai banyak orang.
•      Segala perubahan emosinya terbuka dan transparan, mudah berubah – ubah.
•      Karena sifatnya yang energik, anak sanguinis biasanya mempunyai rentang konsentrasi yang rendah.
•      Punya kecenderungan emosional, tidak teratur dan sensitif.
•      Senang menolong orang lain, tetapi agak sulit untuk diandalkan sepenuhnya.
•      Punya rasa ingin tahu yang besar, tetapi sulit menetapkan prioritas.
•      Hanya antusias pada suatu hal pada awalnya saja, kemudian kehilangan minat.
•      Agak sulit bersikap disiplin karena perhatiannya mudah terpecah pada hal lain.
Anak sanguinis biasanya selalu mencari dan memerlukan persetujuan dari orang tua dan orang terdekatnya, karena itu cara menjadi orang tua yang baik bagi anak sanguinis adalah melakukan pendekatan yang penuh kasih sayang, perhatian dan pembicaraan yang bersifat pribadi.

2. Melankolis atau Si Sempurna
Kepribadian melankolis adalah tipe yang bisa dibilang berlawanan dengan anak sanguinis, karena anak melankolis biasanya serba teratur dan ingin serba sempurna. Oleh sebab itu mereka rata – rata adalah seorang anak yang pemikir. Ciri – cirinya anak yang punya kepribadian melankolis adalah:
•      Berkegiatan dengan rapi, teratur, punya jadwal dan pola yang mereka tetapkan sendiri.
•      Senang memikirkan semuanya secara mendalam. Anak melankolis adalah seorang penganalisa dan pengamat yang baik. Mereka senang pada fakta – fakta dan data yang mendukung fakta tersebut.
•      Jika mengungkapkan pendapatnya, itu berarti apa yang dia katakan adalah hasil pemikiran mendalam dan analisanya.
•      Anak melankolis selalu ingin segala sesuatunya berjalan sempurna. Mereka akan terganggu jika rutinitasnya terputus.
•      Dengan sifat selalu ingin sempurna, terkadang mereka menetapkan standar diri sendiri yang terlalu tinggi, bahkan seringkali kecewa dan depresi karena terlalu kritis kepada diri sendiri.
Si melankolis selalu membutuhkan dukungan dan kepekaan yang baik dari orang tuanya. Mereka membutuhkan peran ayah dalam keluarga dan peran ibu dalam keluarga untuk lebih peka terhadap kebutuhannya memerlukan ruang tersendiri untuk bisa menjalankan cara berpikir analitisnya. Pendekatan yang tepat dari orang tua yaitu dengan selalu menunjukkan penghargaan terhadap upaya mereka untuk mengejar kesempurnaan akan sesuatu yang mereka lakukan.

3. Koleris atau Kepribadian Kuat
Anak yang mempunyai kepribadian koleris adalah anak yang berorientasi pada sasaran atau tujuan secara alami. Mereka selalu berusaha memegang kendali dan mengharapkan pengakuan atas prestasinya dari orang lain. Ciri – ciri anak koleris adalah:
•      Mereka punya disiplin diri dan kemampuan untuk maju dengan tekad yang kuat.
•      Senang menerima tantangan dan tugas yang sulit karena ia tegas dan tangkas dalam mengerjakan sesuatu.
•      Terlahir dengan kemampuan sebagai seorang pemimpin sejati.
•      Mereka cenderung bersikap dominan dan kurang mempertimbangkan perasaan orang lain.
•      Karena senang mengatur dan mengendalikan, mungkin akan ada beberapa temannya yang merasa tidak nyaman dan menjauh.
Mendidik anak koleris tidak bisa dengan cara memberikan perintah dan mengatur, itu akan menjadi penyebab anak melawan orang tua. Orang tua dapat mendidiknya dengan mengarahkan mereka agar bisa lebih mempunyai sifat toleransi kepada orang lain yang sifatnya tidak sama dengannya.
4. Phlegmatis atau Juru Damai
Anak dengan kepribadian phlegmatis adalah anak yang bisa menyeimbangkan dirinya sendiri. Mereka akan merasa cukup puas dengan keadaannya sendiri dan tidak merasa perlu untuk mengikuti kehebohan ketiga karakter kepribadian lainnya. Bagi anak koleris, si phlegmatis ini mungkin akan terlihat lamban dan menguji kesabaran mereka. Berikut ciri – ciri anak phlegmatis:

•      Mereka tidak pernah mau mempersoalkan hal – hal yang sepele. Itu sebabnya ketika suasana agak kacau, mereka lebih suka berdiam diri dan mengamati.
•      Anak phlegmatis tidak suka pertengkaran atau konflik, mereka suka kedamaian dan ketentraman. Karena itu ia akan mencoba menghindarinya atau menyelesaikannya dengan jalan damai.
•      Mereka tidak menyukai resiko, tantangan atau kejutan apapun. Itu sebabnya mereka akan butuh waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri.
•      Dapat bekerja dengan baik di bawah tekanan walaupun mereka tidak menyukainya. Terkadang kekurangan motivasi, karena itu mereka membutuhkan pemimpin yang kuat.
•      Cenderung menarik diri, namun mereka senang berada di tengah orang banyak. Tidak pernah banyak bicara namun bisa mengucapkan hal yang tepat di saat yang tepat.
Orang tua dapat menerapkan pendekatan yang penuh persahabatan dan tanpa ancaman, serta memberikan contoh yang baik yang bisa diamati oleh anak sebagai cara mHYPERLINK "http://cintalia.com/kehidupan/anak-anak/cara-mendidik-anak-laki-laki"endidik anak laki – laki dan anak perempuan yang phlegmatis. Berikan tugas yang mudah dan memerlukan penyelesaian sederhana terlebih dulu pada awalnya. Beri tahukan juga kewajiban anak di rumah yang sesuai dengan sifat anak phlegmatis.
Jika orang tua mengetahui seperti apa tipe kepribadian anaknya, hal ini akan memudahkan mereka untuk mengetahui dan memahami cara mendidik anak yang tepat dan cara mendidik anak yang baik. Dengan mengetahui bagaimana cara memperlakukan anak sesuai tipe kepribadiannya, maka orang tua akan dengan mudah menggali potensi anak dan mengendalikan kekurangan anak agar dapat membentuk mereka menjadi pribadi yang utuh dan positif saat dewasa.

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Labels

Analisis Kasus Antropobiologi Antropologi Budaya Asesmen Kepribadian Asesmen: Observasi dan Wawancara Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Cerita Rakyat Cerpen Filosofi Filsafat Grafologi HRD Ilmu Kesehatan Mental & Psikopatologi Intervensi Dasar Kelompok dan Komunitas Intervensi Dasar Organisasi Jurnal Ketamansiswaan Kewarganegaraan Kode Etik Psikologi Kuliner Metode Penelitian Kualitatif Metode Penelitian Kuantitatif Parenting Pend. Agama Islam Pendidikan Pancasila Pengembangan Skala Psikologi Pengembangan Tes Prestasi Penyakit Kulit Perilaku Konsumen Psikodiagnostika Psikologi Psikologi Abnormal Psikologi Analitis Psikologi Eksperimen Psikologi Emosi Psikologi Faal Psikologi Forensik Psikologi Industri dan Organisasi Psikologi Kepemimpinan Psikologi Kepribadian Psikologi Kesukaran Belajar Psikologi Kewirausahaan Psikologi Klinis Psikologi Kognitif Psikologi Komunikasi Psikologi Konseling Psikologi Orhius Psikologi Pelatihan dan Pengembangan Psikologi Pendidikan Psikologi Perkembangan Psikologi Seni Psikologi Sosial Psikologi Teknologi dan Informasi Psikologi Transpersonal Psikologi Ulayat (Indigenous Psychology) Psikologi Umum Psikometri Puisi Review Jurnal Sosiologi Statistika Statistika Inferensial Tes Psikologi Tips & Trik Umum

Popular Posts

  • Modul Interpretasi-Tes Grafis (DAP-BAUM-HTP-Wartegg)
  • Pandangan Teoritis Tentang Tingkah Laku Abnormal
  • KRIMINALITAS
  • Tipe Tipe Komunikasi
  • Mengahiri Konseling (TERMINASI)

Time

Translate

About me

Anak pertama dari empat bersaudara, dilahirkan 23 tahun lalu di Kabupaten Polewali Mandar pada tanggal 04 April 1996 yang akhirnya memiliki dua suku yaitu suku Mandar dan Jawa.

Punya hobi bermain game online, menulis dan memasak. Suka traveling walau kantong tipis. Bercita-cita jadi dokter hewan dan psikolog. Si Pleghmatis yang kadang Koleris. Si cuek yang menyukai romantis. Si tukang nangis yang suka marah-marah. Si nekat yang takut sendirian. Si cadel yang susah untuk ngucapin p atau f dan juga r.

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum da...
  • ►  2019 (251)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Maret (8)
    • ►  Februari (241)
Diberdayakan oleh Blogger.
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by BeautyTemplates