facebook twitter instagram

~ Beartopia ~

  • Home
  • Psychology
  • Joylada
    • Sweat & Tears
    • Freerunning Estafet
    • Pangeran Kuda Putih VS Mr. Cat

Wasiat Todilaling Tentang Kepemimpinan

“Madondong duambongi anna matea’ mau ana’u mau appou, da muannai dai’ dipe’uluang mua’ mato’dori kedo-kedona, masu’angi pulu-pulunna, apa iyamo tu’u namarrupu-ruppu’ banua”


Artinya: besok atau lusa jika saya meninggal dunia, sekalipun anak atau cucu saya, jangan diangkat menjadi pemimpin kalau ia bertutur kasar dan berperagai tidak terpuji karena manusia seperti itulah yang bakal menghacurkan Negeri. (Local Wisdom, Muh. Idham Khalid Bodi, 2008)


Pasang (petuah) singkat di atas adalah gambaran kearifan lokal kita terkait persoalan kepemimpinan di jazirah Mandar pada masa lalu. Pasang tersebut diungkapkan oleh raja pertama Balanipa, Imanyambungi (Todilaling) sekitar abad ke 16 Masehi. Pasang yang cukup singkat namun sarat akan makna dan nilai kearifan hidup, sebuah pasang yang juga di dalamnya tersimpan karakter demokrasi lokal yang berorientasi pada upaya terciptanya tatanan kehidupan sosial yang mala’bi (bermartabat).


Demikian juga, dalam pasang tersebut, tersirat makna sikap keterbukaan yang tentunya sangat terkait dengan nilai-nilai subtansi demokrasi politik yang tidak terjebak dalam sistem feodalisme kekuasaan dan mengharuskan adanya sistem kepemimpinan secara temurun-temurun, akan tetapi lebih pada penekanan nilai dan karakter seorang pemimpin yang akan dipilih. Berdasarkan petuah tersebut, menurut hemat kami, jauh sebelum demokrasi menjadi wacana trasnasional dalam era modernisasi, makna demokrasi secara subtansi telah membumi dan menjadi kesadaran historis masyarakat Mandar Sulawesi Barat.


Meski pasang tersebut bersifat internal (hanya berlaku di internal kerajaan Balanipa), tapi secara subtansi, pasang ini mampu menginspirasi konsep kepemimpinan di jazirah Mandar pada masa itu, dan bahkan sampai saat ini. Inti dari Pasang ini mewasiatkan kepada kita agar hati-hati dalam memilih seorang pemimpin, sebab pemimpinlah yang akan menentukan arah perjalanan sebuah daerah atau bangsa, kesalahan dalam memilih seorang pemimpin akan berbuah malapetaka bagi sebuah bangsa/daerah.


Wasiat Kebangsaan
Krisis yang terjadi di bangsa kita dewasa ini, bukan hanya disebabkan oleh krisis ekonomi akan tetapi juga krisis kepemimpinan yang berbanding lurus dengan moralitas bejat (korupsi) serta kepedulian sosial yang mulai menipis dikalangan pemimpin bangsa ini, sehingga, menurut Yongki Karman, Negara ini diperhadapkan pada lahirnya sosok pemimpin yang tidak punya kepedulian sosial, yaitu pemimpin yang tidak bersedia melayani dan menderita bersama rakyat.


Pada hakekatnya kepemimpinan tidak hanya dimaknai secara teologis, dimana kepemipinan merupakan amanah Ilahiah yang diwakilkan Tuhan kepada rakyat, akan tetapi lebih dari pada itu, ia menjadi bahagian dari harga diri (siri’). Siri’ harus mampu menjadi pijakan hidup bagi seorang pemimpin, atau dalam artian seorang pemimpi harus merasa malu (masiri’) ketika ia tidak mampu memberikan apa yang terbaik untuk rakyatnya, seorang pemimpin harus merasa masiri’ ketika ia tidak bisa berbuat adil dan jujur kepada rakyatnya.
Lewat petuahnya, Todilaling telah mengingatkan kepada kita untuk tidak memilih seorang pemimpin yang berkarakter kasar (otoriter), tutur kata yang kasar, tidak punya kepedulian sosial dan rasa nasionalisme, sebab model seperti ini yang akan membawa malapetaka bagi sebuah daerah (bangsa).


Mencintai tanah air dan rakyat adalah merupakan wujud dari nilai-nilai luhur kepemimipinan yang harus dikedepankan bagi setiap pemimpin. Sebab kemajuan sebuah daerah atau bangsa tidaklah diukur dari sejaumana pembangunan gedung-gedung mewah berdiri tegak yang tidak jarang dibangun diatas tangisan dan kemelaratan hidup rakyatnya, akan tetapi diukur dari saujauh mana kesejahteraan dan kehidupan rakyat terpenuhi, dan tentunya ini juga merupakan bahagian dari wasiat kebangsaan yang di tuturkan oleh Todilaling kepada segenap pemimipin di tanah Mandar Sulbar.


Memilih Pemimpin
Dalam perkembangan sosial politik mutakhir, berpolitik adalah upaya untuk menciptakan presepsi, kesan, dan citra bagi masyarakat untuk kepentingan seorang kandidat. Melalui media dan baliho yang terpampang di sepanjang jalan, dibarengi dengan senyum khas yang penuh dengan nuangsa politik, presepsi, kesan dan citra itu diproduksi. Padahal bisa jadi motivasi mereka untuk maju menjadi pemimpin hanya sebatas mobilitas sosial demi perbaikan status sosial dan ekonomi, sehingga kepemimpinan hanya beorientasi pada kekuasaan serta bagaimana menggunakan kekekuasaan untuk memenuhi ambisi kehidupan materialnya.


Olehnya itu, dalam memilih seorang pemimpin, paling tidak kita harus mengedepangkan tiga pilar, yaitu: pertama; Kepantasan(naratan), hal ini menjadi penting, sebab banyak orang yang berambisi menjadi pemimpin, tapi pada kenyataanya ia tidak pantas, olehnya itu meminjam pendapat Mario Teguh, kepantasan menjadi tolak ukur utama untuk memilih seorang pemimpin.


Kedua; Mampu menyinari (naindo), tentunya karakter seorang pemimpin haruslah mampu memberi cahaya terang bagi kehidupan rakyat, pemimpin harus mampu menyinari atau mengayomi rakyatnya baik dari aspek ekonomi, politik, budaya, hukum dan pendidikan, sebab hal ini yang paling mendasar untuk terpenuhi bagi kepentingan rakyat secara menyeluruh.


Ketiga: Diandalkan (dipattuangan), seorang pemimpin harus mampu diandalkan dalam segala lini kehidupan yang tentunya sangat terkait dengan kelansungan hidup rakyatnya, seperti terbukanya lapangan kerja, kesejahteraan rakyat yang berdasar pada keadilan sosial, pemberantasan korupsi, pendidikan murah bagi kaum miskin, kemajuan sektor pertanian yang nota bene menjadi fondasi kehidupan rakyat, serta adanya kebebasan dan jaminan dalam menjalangkan nilai-nilai kearifan budaya dan agama yang menjadi hak setiap individu.


Ketiga pilar ini, menurut hemat kami terkait dengan pesan yang juga cukup pilosofis di tanah Mandar, sebagaimana yang tulis oleh Muh. Idham Khalid Bodi dalam karyanya Local Wisdom, ia menuliskan “Naiyya mara’dia tammatindoi dibongi, tarrarei diallo namandandang mata dimamatanna daung ayu, dimalimbongna rura, dimadinginna lita’ diayarianna banne rupa tau anna diattepuanna agama, (seorang penguasa, tidak boleh tidur nyenyak di malam hari, tidak boleh berdiam diri di waktu siang, tetapi ia harus senantiasa memperhatikan hijau suburnya daun kayu, dalam dangkalnya tebat, aman tentramya Negara, berkembang biaknya manusia, dan lahirnya kemantapan kehidupan beragama). Inilah salah satu bentuk sinkronisasi pasang kepemimpinan yang diwariskan secara turun temurun di daerah Mandar dan sebagai bentuk implementasi dari kepedulian sosial pemimpinnya.


Olehnya itu, Menjelang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Barat, penting kiranya untuk merefleksikan kembali pasang diatas sebagai landasan atau cara pangdang kita dalam memilih sorang pemimpin yang bakal menahkodai pemerintahan di Sulbar lima tahun kedepan. Mudah-mudahan dengan landasan nilai-nilai kearifan lokal tersebut, makna provinsima’labi’ yang merupakan visi utama perjuangan pembentukan provinsi Sulawesi Barat mampu menemukan ruangnya.


Pada akhirnya, provinsi mala’bi (bermatabat) selain ditentukan oleh pilihan rakyatnya, juga hanya bisa terwujud ketika provinsi Sulbar dipimpin oleh orang-orang yang mala’bi’, mala’bi kedzo-kedzona anna mala’bi pau-paunna. Selamat menentukan pilihan semoga mampu menemukan pemimpin yang

http://suaibprawono.blogspot.co.id/2011/06/wasiat-todilaling-tengtang-kepemimpinan.html
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

A. KASUS ECHO
Pemecatan 5000 Pegawai dari Perusahaan Tri-Energi
         Perusahaan Tri-Energi sebuah perusahaan minyak mempunyai persediaan sekitar 5000 karyawan sebagai hasil kegiatan penarikan selama periode kekurangan tenaga kerja. Perusahaan mengantisipasikan bahwa pasar tenaga kerja akan semakin ketat. Oleh karenanya perusahaan memutuskan mempersiapkan diri dengan penarikan kelompok pekerja agar kebutuhan yang diantisipasi dapat terpenuhi.
         Setelah mempekerjakan karyawan ekstra, perusahaan pada dekade selanjutnya secara continue mengotomatisasikan fasilitas-fasilitas produksinya selama periode tersebut, meskipun kapasitas produksi berlipat ganda, perusahaan akibat otomatisasi hanya memerlukan jauh lebih sedikit karyawan untuk mengoperasikan fasilitas-fasilitas. Jadi keadaan menjadi berbalik dari antisipasi perusahaan yaitu bahwa 5000 karyawan yang telah terlanjur ditarik tak pernah lagi seluruhnya dibutuhkan.
         Perusahaan menganjurkan untuk mempekerjakan 5000 karyawan itu, dan membuat masyarakat berpendapat bahwa sekali diterima bekerja seorang karyawan yang melaksanakan pekerjaan dengan memuaskan dapat mengharapkan untuk tetap mempertahankan pekerjaannya, bagaimanapun juga Tri-Energi kemudian mengalami masalah dengan rendahnya harga dipasaran dan laba yang didapat turun sampai tingkat yang kurang memuaskan, direktur utama, Jhonny Bolang, mempertimbangkan pemberhentian 5000 karyawan yang tak pernah diperlukan, tak satupun memenuhi syarat atau perlu dipertahankan sampai pensiun, dia sadar bahwa banyak posisi manager dapat dihilangkan karena secara potensial angkatan kerja akan lebih kecil.
         Berdasarkan kutipan dari referensi di atas, menurut pendapat saya, Jhonny Bolang harus memberhentikan pegawainya yang memang tidak pantas dipertahankan, karena jika terus mempertahankan pegawainya yang sudah tak patut dipertahankan akan berdampak pada perusahaan yang semakin terpuruk oleh minimnya laba yang didapat atas hasilnya tersebut, namun beberapa karyawan harus dipertahankan, mengingat fasilitas otomatisasi tidak bisa berjalan sendiri tanpa adanya operator yang ahli mempergunakan fasilitas otomatisasi tersebut, sehingga beberapa pegawai yang masih layak untuk dipertahankan sebaiknya tidak untuk diberhentikan. Cara mencegah situasi ini sebaiknya perlu untuk menganalisa dan mengambil kebijakan lainnya, seperti diadakan sistem “Kontrak” dan bekerja sama dengan perusahaan lainnya untuk merekrut dan saling tukar pegawai yang dirasa cocok ataupun dengan pelatihan “Training” untuk para pegawai tersebut untuk bisa mengoperasikan fasilitas otomatisasi tersebut, agar ia bisa mencegah memberhentikan 5000 pegawainya, dan bisa memilah untuk yang bisa dipertahankan, karena jika seluruhnya pegawai tersebut diberhentikan mungkin berdampak pada ekonomi negara, dan angka pengangguran yang semakin tinggi.

Sumber: http://satriaa14.blogspot.com/2014/10/contoh-kasus-teori-organisasi-umum.html

B. KASUS KEPEMIMPINAN
KASUS KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL
Susilo Bambang Yudhoyono
           Salah satu karakter kepemimpinan SBY yang paling dominan adalah the golden middle way: politik jalan tengah. Desain presidensial yang digabungkan dengan sistem multipartai memang sebuah kombinasi ganjil, sehingga menuntut SBY melakukan konsensus dan harmoni.
           Scott Mainwaring (1993) mendeteksi tiga implikasi dari kombinasi sistem presidensial-multipartai. Pertama, tiadanya kekuatan mayoritas partai yang menguasai parlemen mengakibatkan deadlock. Realitas ini memberi peluang bagi DPR ”mengganggu” Presiden yang mendorong munculnya konflik Presiden-DPR. Kedua, dibandingkan dengan sistem dua partai, sistem multipartai rentan melahirkan polarisasi ideologis. Ketiga, koalisi permanen antarpartai lebih sulit dibentuk dalam sistem presidensialisme ketimbang parlementer.
           Pada titik inilah, konsensus dan kompromi dalam sistem presidensial dengan citarasa parlemen rentan mengarah pada model kepemimpinan transaksional. Yakni kepemimpinan yang melibatkan hubungan pemimpin dengan elit politik lainnya maupun elit dengan pemilih yang dibangun di atas pondasi pragmatisme dan pertukaran kepentingan ekonomi-politik serta umpan balik negatif (Burns 1978).
           Lihatlah hubungan elit politik dengan konstituen yang dirusak oleh transaksi material, bukan pertukaran gagasan. Lihat pula hubungan antarelit politik yang didominasi nafsu purba Laswellian: “who gets what, when, and how.” Gaya politik transaksional bertumpu pada konsesi politik. Profesionalisme dan meritokrasi tak lagi menjadi acuan. Ketegasan menjadi barang mahal karena terlalu banyak pertimbangan dan kalkulasi politik yang dijadikan konsideran.
           Model kepemimpinan transaksional ini tumbuh subur dalam sistem politik kartel di mana APBN/APBD menjadi ajang bancakan dan lisensi diperjualbelikan untuk mengikat loyalitas politik. Rakyat menjadi yatim piatu. Yatim karena pemerintah jarang hadir dalam setiap permasalahan yang dihadapi publik, tapi begitu sigap menarik pajak. Piatu karena partai-partai politik hanya menyapa pemilih menjelang pemilu.
           Rakyat dihadiahi surplus politisi, tapi defisit negarawan. Politisi-par-excellence yang bersikap negarawan selalu memikirkan apa yang diwariskan bagi bangsanya ke depan. Politisi-negarawan berani bertindak tidak populer asalkan berdampak positif bagi rakyatnya. Dalam studi kepemimpinan, model transaksional selalu dibenturkan dengan kepemimpinan transformasional. Politisi-negarawan pasti menerapkan model kepemimpinan transformasional yang punya visi masa depan dan menolak transaksi politik jangka pendek. Tichy dan Devanna (1990) menyatakan pemimpin yang menerapkan model ini akan menularkan efek transformasi pada level individu dan organisasi. Bass dan Avolio (1994), dalam buku “Improving Organizational Efectiveness through Transformasional Leadership,” kepemimpinan transformasional dicirikan oleh “The four I’s (empat huruf ‘I’)”
           Pertama, pemimpin transformasional memiliki “idealized influence,” rakyat dibuat berdecak kagum, hormat dan percaya. Tak ada elemen masyarakat, apalagi tokoh-tokoh agama dan cendekiawan, yang menuduh pemimpinnya sedang melakukan politik kebohongan. Otentisitas menjadi mantra dan rakyatnya percaya bahwa para pemimpinnya sedang tidak bersandiwara.
           Kedua, kepemimpinan transformasional mampu menggelorakan “inspirational motivation,” menyuntikkan motivasi dan asa pada rakyatnya serta mampu merealisasikan harapan menjadi kenyataan. Pemimpin tak hanya mengaum di atas podium dan tak hanya pintar berwacana, tapi juga cakap dalam bekerja. Pemimpin yang tak hanya pintar bersolek di depan kamera atau berdandan di baliho-baliho atau spanduk pada masa pemilukada.
           Ketiga, intellectual stimulation. Gaya kepemimpinan transformasional kaya ide-ide baru dan terobosan. Pemimpin tak sekadar hadir pada setiap perayaan upacara, tapi hadir dalam setiap percakapan dan persoalan yang dihadapi rakyatnya. Dia tak terjebak pada urusan business as usual dan berpikir out of the box untuk mengatasi kebuntuan. Pemimpin seharusnya tidak larut dalam kompromi politik. Pemimpin adalah leader, bukan dealer. Dimensi terakhir adalah “individualized consideration,” yang mau mendengar keluhan bawahan, bersikap layaknya manusia dan apa adanya. Dalam arti yang luas, pemimpin tidak membangun benteng pemisah dengan rakyatnya.
           Elit pemimpin kita tersandera kepemimpinan transaksional. Mereka lebih mengedepankan konstituen ketimbang konstitusi, memprioritaskan kepentingan jangka pendek dan politik barter untuk mengamankan posisi masing-masing. Saatnya kita memperbaiki jalur kaderisasi politik kita, menyiapkan supply-side politik yang bertumpu pada azas meritokrasi dan kompetensi
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

A.  Gaya Kepemimpinan
      1.   Kepemimpinan Transaksional
            Pemimpin transaksional (transactional leaders) adalah tipe pemimpin yang mengarahkan atau memotivasi para pengikutnya pada tujuan yang telah ditetapkan dengan cara memperjelas peran dan tugas mereka.
            Dalam kepemimpinan transaksional, pemimpin menentukan apa yang perlu dikerjakan bawahan untuk mencapai tujuan, mengklasifikasikan keperluan tersebut dan membantu bawahan menjadi percaya diri bahwa mereka dapat mencapai tujuan itu. Jenis pemimpin transaksional adalah pemimpin yang mempertukarkan kekuasaannya dengan posisi-posisi yang dapat menguntungkan dirinya dan kelompoknya.
      2.   Kepemimpinan Populistis
            Kepemimpinan populistis ini mampu menjadi pemimpin rakyat. Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali sikap nasionalisme.
      3.   Kepemimpinan Kharismatis dan Visioner
                Pemimpin kharismatik merupakan kekuatan energi, daya tarik yang luar biasa yang akan dikuti oleh para pengikutnya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib (supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.

      4.   Kepemimpinan Demokrasi
            Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan memberikan bimbingan kepada pengikutnya. Kepemimpinan demokratis menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin pada saat-saat dan kondisi yang tepat.
      5.   Kepemimpinan
Ø  Tipe birokrat, Gaya kepemimpinan ini biasa diterapkan dalam sebuah perusahaan dan akan efektif apabila setiap karyawan mengikuti setiap alur prosedur dan melakukan tanggung jawab rutin setiap hari. Tetap saja dalam gaya kepemimpinan ini tidak ada ruang bagi para anggota untuk melakukan inovasi karena semuanya sudah diatur dalam sebuah tatanan prosedur yang harus dipatuhi oleh setiap lapisan.
Ø  Tipe misionaris, Gaya kepemimpinan seseorang yang berikutnya adalah missionary, yang merupakan gaya kepemimpinan dimana pemimpin adalah orang yang lebih mementingkan keharmonisan dari suatu organisasi dibandingkan pelaksanaan tugas. Merupakan gaya kepemimpinan yang kurang efektif, karena kurang fokus pada tujuan, visi, dan juga misi dari suatu organisasi.
Ø  Tipe develover (pembangun), Mereka yang memiliki gaya kepemimpinan developer adalah pemimpin yang mampu untuk mempercayai orang lain dan sanggup mengembangkan bawahannya secara efektif dan optimal. Gaya kepemimpinan ini cocok bagi suatu organisasi yang ingin anggotanya ikut berkembang seiring dengan perkembangan organisasi tersebut.
Ø  Tipe benevolent autocart (otokrat yang bijak), yang bersifat lancar, tertib,ahli dalam mengorganisir dan besar rasa keterlibatan diri.
Ø  Tipe eksekutif, Executive merupakan bentuk gaya kepemimpinan seseorang yang pertama. Gaya kepemimpinan executive merupakan salah satu gaya kepemimpinan yang efektif di dalam suatu organisasi, karena mereka yang memiliki gaya kepemimpinan executive ini mampu untuk menentukan dan memperlakukan orang lain sesuai dengan bidangnya. Mereka mampu menentukan standar kerja yang tinggi, serta mampu untuk mengelola dan mengembangkan kelompoknya, serta menekankan kerjasama antar individu di dalam kelompok


B. Nama Tokoh
            Adapun beberapa tokoh yang kelompok kami analisi yaitu sebagai berikut :
1.   Hary Tanoesoedibjo
2.   Raja I Manyambungi (Todilaling)
3.   Jack Ma (Jack Yun Ma)
4.   Raja Maulana Prins Mandapar atau Mumbu Doi Godong (1571-1601 M)
5.   Bapak GUNANTO. Kepala Sekolah SMK N 3 SINGKAWANG, Kalimantan Barat

C.  Analisis berdasar Teori
      1.   Hary Tanoesoedibjo
            Pengusaha kelahiran Surabaya, 26 September 1965 ini duduk sebagai Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem. Keterlibatan Hary Tanoe sendiri didalam partai Nasdem secara nyata pada tanggal 26 Juli 2011saat deklarasi partai tersebut di Mercure Hotel,Ancol. Namun sepertinya kepemimpinan Hary Tanoe di Partai Nasdem lebih bercorak transaksional. J.M Burns mengatakan bahwa salah satu gaya kepemimpinan transaksional adalah Kepemimpinan Partai. Pertama, Hary Tanoe adalah Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem. Meskipun tidak menjadi Ketua Umum Partai Nasdem, Hary Tanoe dapat memberikan pengaruhnya lewat tugasnya sebagai Ketua Dewan Pakar Partai Nasional Demokrat.
            Kedua, bisa dilihat dari Kepemimpian Hary Tanoe di Partai Nasdem pun transaksional. Sebagai media owner Hary Tanoe, memanfaat seluruh media dan karyawannya untuk membantu Partai Nasdem.
            Sebagai pendiri MNC Group, beliau berhasil membuat MCOM dan MNC menjadi perusahaan media terdepan di Indonesia, beliau juga secara langsung mengembangkan dan mengawasi strategi perusahaan holding dan semua anak perusahaan. Beliau memegang gelar Bachelor of Commerce (Honours) dari Carleton University, Kanada (1988) dan Master of Business Administration dari Ottawa University, Kanada (1989). Selain aktif menjadi pembicara di berbagai acara media di tingkat nasional dan internasional, beliau mengajar di program pasca sarjana di beberapa universitas di bidang corporate finance, investasi dan strategi manajemen.  
            Menggambarkan kebutuhan antara Hary Tanoe dengan Partai Nasdem. Partai Nasdem membutuhkan anggota untuk mendukungnya sedangkan Hary Tanoe membutuhkan pekerja untuk perusahaannya. Dengan begitu anggota Partai Nasdem memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bekerja diperusahaan yang ditangani oleh Hary Tanoe dibandingkan dengan orang yang tidak menjadi anggota Partai Nasdem. Ini menandakan kemampuan, pengetahuan dan keterampilan menjadi prioritas nomor dua.
            Selain itu hubungan Hary Tanoe dan Partai Nasdem juga dapat dilihat bargaining politik yang dilakukannya dengan cara melakukan pertukaran antara kepentingan bisnis dan kepentingan politik. Sebagai pengusaha media tentunya Hary Tanoe mempunyai kepentingan bisnis yaitu untuk mempertahankan, mengamankan dan melebarkan usaha medianya. Sementara Partai Nasdem mempunyai kepentingan politik untuk menjadi partai pemenang pemilu 2014. Kepentingan Partai Nasdem seperti yang disampaikan oleh Armyn Gultom,
            “Menang kita, kita pasti menang. Jangka pendeknya kan lolos verifikasi KPU, jangka panjangnya menang pemilu 2014. Kalo sudah menang pemilu baru bisa melakukan perubahan”
            Kepentingan bisnis Hary Tanoe juga terlihat dari kekhawatirannya terhadap capres pemilu 2014. Ini menegaskan bahwa kepentingan Hary Tanoe adalah untuk kepentingan bisnisnya semata. Keadaan bisnisnya yang telah “nyaman” ini, jangan sampai diganggu oleh para pesaingnya. Ini tentunya terkait dengan pencalonan presiden 2014. Hary Tanoe mengharapkan agar yang menjadi presiden di 2014, bersifat adil dalam membuat peraturan bisnis atau persaingan usaha. Ini menyebabkan Partai Nasdem menjadi sangat penting. Pemilu presiden 2014, hanya di ikuti oleh calon presiden dan wakil presiden yang diusulkan oleh partai politik. Sepertinya yang tertera pada UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 pasal 6A ayat 2 yang berbunyi “Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik peserta pemilihan umum sebelum pelaksanaan pemilu”.
            Dugaan motif ini muncul setelah adanya data LSI tentang mencari calon presiden 2014. Mega Wati mungkin mengungguli calon lain seperti Prabowo dan Aburizal jika diadakan pemilihan presiden yaitu Febuari 2012 serakang. Lalu melenggang ke puturan kedua bersama Prabowo. Namun bisa saja pada putaran kedua ini Prabowo berkemungkinan memenangkannya. Sayangnya pemilihan umum presiden masih dua tahun lagi. Trend pemilih yang memilih Prabowo dan Aburizal pun mulai meningkat.
            Keberadaan Hary Tanoe sebagai Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem tentunya sangat menguntungkan partai tersebut. Pertama, dampak kepemimpinan Hary Tanoe tentunya menjadi salah sumber pendanaan partai. Sumber pendanaan yang diberikan tidaklah selalu berupa uang, lewat perusahaan media yang dipimpinnya. Dengan cara mengiklankan iklan politik Partai Nasdem. Bagaimana bisa partai baru mampu mendanai iklan partai politik yang hampir mencapai 200 slot per hari? Biaya pembuatan/produksi iklan politik tidaklah murah itu belum lagi harga pemasangan iklan partai politik pada jam-jam tertentu dengan harga yang berbeda-beda pula. Kehadiran Hary Tanoe sebagai Ketua Dewan Pakar Partai Nasdem tentunya sangat membantu partai tersebut dalam hal pengenalan dan promosi partai tersebut terhadap masyarakat.

      2.   Raja I Manyambungi (Todilaling)
            Awal mula berdirinya Kerajaan Balanipa Mandar bermula dari persekutuan ”Appe Banua Kaiyang“ (Empat Rumah Besar) yaitu : Napo, Samasundu, Mosso dan Todang Todang Keempat Banua Kaiyang tersebut sepakat mendirikan Kerajaan Balanipa di Mandar.
            Posisi kerajaan Balanipa dalam Pitu Ba`bana Binanga adalah sebagai bapak/ketua dan sekaligus sebagai pemeran pokok dalam sejarah perkembangan kerajaan-kerajaan di Pitu Ba`bana Binanga. Imanyambungi, putra Tomakaka napo sebagai raja pertama.
            Kepopuleran I Manyambungi tersebut didengar oleh pemuka-pemuka masyarakat di daerah asalnya (Mandar), diperburuk oleh adanya kekacauan di dalam negeri waktu itu. Kondisi ini dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh pemuka masyarakat Mandar untuk menghadap raja Gowa, meminta agar mengembalikan I Manyambungi ke Tanah kelahirannya (Tanah Mandar).
            Kehadiran I Manyambungi sangat diharapkan, memulihkan tanah Mandar dari kekacauan. Kembalinya I Manyambungi dari Perantauan sekaligus merupakan tonggak sejarah baru bagi kerajaan Balanipa.
            Keberhasilannya menyelesaikan perselisihan yang terjadi itu, menyebabkan ia dipilih dan diangkat menjadi pemegang kendali kekuasaan pertama di kerjaan Balanipa yang dibentuk dari pesekutuan Empat negeri besar (Appe Banua Kaiyyang) yaitu, Napo, Samasundu, Todang Todang dan Mosso, sekitar abad XV tepatnya tahun 1520 M, waktu itu agama Islam belum masuk di Sulawesi Selatan. Pusat pemerintahan Kerajaan ditetapkan di Napo sebagai Ibukota Kerajaan Balanipa suatu wilayah yang sejak lama dikenal sebagai bandar niaga.
            Di bawah pemerintahan Imanyambungi, kerajaan Balanipa Mandar berkembang menjadi besar dan mempelopori persekutuan Kerajaan Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba’bana Binanga yang wilayahnya meliputi daerah Paku sampai Suremana (Wilayah Sulawesi Barat).

Wasiat Lontar Raja Todilaling :
            Madzondong duang bongi anna matea’, mau ana’u mau appou, da muannai menjari mara’dia mua tania to nama asayangngi pa’banua. da muannai dzai’ di pe’uluang mua’ masungi pulu-pulunna, mato’dori kedzona. apa iyamo tu’u namaruppu-ruppu lita’. (Besok atau lusa manakala saya mangkat, walau dia itu putraku ataupun cucuku, janganlah hendaknya ia diangkat menjadi raja kalau tidak cinta kepada tanah air dan tidak akan membela kepentingan rakyat kecil. Jangan pula diangkat seseorang menjadi raja bila ia mempunyai tutur kata yang kasar, berbuat dan bertindak kasar. Karena orang yang seperti itulah yang akan menghancurkan negeri).
            Dalam lontar Mandar dinyatakan bahwa keberhasilan pemimpin atau raja meletakkan dasar-dasar pemerintahan yang baik ( Good Governance ) di Mandar dahulu karena telah terpenuhinya syarat-syarat bagi seorang pemimpin, yaitu tajam penglihatan, bijaksana dan cerdas dalam membuat keputusan. Pandai dan cermat berkata-kata sehingga dituruti dan ditaati; berilmu, sehat fisik, serta dalam refleksinya. Dan yang terutama selalu taat dan memperhatikan pada kontrak sosial atau Assitalliang yang dibuat bersama para hadat. Salah satu bunyi perjanjian itu adalah “ Iqo kaiyyangmoqo, andiammi mala makella-kella anu kende-kende. Iamiq apaq kecceqmang iqdai mala makella-kella anu kaiyyang. Iqo ilakayyang asayanni I la kecceq, iqo la kecceq aggaqi sitinaya Ilkayyang. Massauqmi banua” artinya “ Engkau kuasa karena kami beri kekuasaan; sudah tidak bisa lagi berlaku sewenag-wenang terhadap rakyt kecil. Kami rakyat kecil tidak dibenarkan menghalangi kebijaksanaan penguasa ( raja). Engkau penguasa, cintailah rakyatmu; engkau rakyat kecil hormatilah rajamu ( pemerintahmu) dengan begitu negri akan tentram dan damai” Tentu saja klausul “ Kami rakyat kecil tidak dibenarkan menghalangi kebijaksanaan penguasa ( raja )” adalah kalimat bersyarat yang memerlukan kondisi di mana penguasa benar-benar mencintai rakyatnya, berlaku adil dan senantiasa bekerja demi kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan negara.
            Sebagai tambahan untuk pegangan bagi yang tertarik untuk jadi pemimpin dan suka pada masalah-masalah kepemimpinan. Disamping keberanian dan kebijaksanaan, seorang pemimpin juga perlu memiliki ketenangan dan pengendalian diri yang prima. Sebab terdapat banyak aspek dalam diri kita yang butuh pengendalian diri. Untuk mengendalikan lidah saja – anggota badan yang tidak penurut itu- bisa merupakan pekerjaan yang luar biasa. Namun fakta yang menggembirakan ialah bahwa setiap kemenangang kecil atas salah satu kecendrungan ini, membuat pertempuran berikutnya makin mudah diatasi.

      3.   Jack Ma
            Jack Yun Ma, pendiri  sekaligus eksekutif  AliBaba Group, telah dikenal karena keberhasilannya di bisnis online.  Selain piawai membangun berbagai model bisnis, Jack Ma juga dikenal karena kepribadiannya yang luar biasa, baik dari gaya kepemimpinan maupun keyakinan. Sejak belajar internet pada 1995, ia ingin menghubungkan pengusaha Cina dengan belahan lain dunia. Setelah mendirikan AliBaba pada 1999, bisnis e-commerce Taobao.com memiliki kinerja mengesankan sehingga membuat  eBay menarik diri dari pasar Cina pada 2006.
            Ketika berbicara tentang kepemimpinan, kita tahu banyak orang dengan keahlian tertentu dan berpendidikan  yang melakukan revolusi di bidangnya masing-masing, seperti Bill Gates dengan Microsof, Steve Job dengan Apple.    Tetapi Jack Ma hanyalah seorang guru bahasa Inggris, bukan ahli komputer.  Ia mengguncang dasar-dasar dari teori manajemen dan sains, dengan merevolusi bisnis e-commerce di Cina.  Orang yang sederhana ini telah meninggalkan para jagoan lain dan meraih keajaiban sukses.
1.      Kharismatis dan Visioner 
      Jack Ma pendiri dan  CEO  AliBaba merupakan contoh dari pemimpin kharismatis di negara itu di mana sains jauh berada di belakang dan ekonomi sedang bergerak  melambat.  Tetapi kepemimpinannya yang visioner membawa tidak hanya revolusi e-commerce tetapi  mengagetkan dunia,  karena ia membuat Cina sejajar dengan negara-negara maju.
      Dalam dunia masa kini, di mana dinamika kastemisasi (customization), pentingnya karyawan, kemampuan daya saing, dan perubahan teknologi secara cepat  telah memarjinalkan kelanggengan bisnis dan pertumbuhan, sehingga seseorang tidak mungkin mencapai target sendirian.  Karena itu kepemimpinan dalam lingkungan seperti itu adalah  penting untuk melakukan perubahan di masyarakat.
2.      Berusaha Mati-matian
      Jack Ma, yang bukan hanya lemah di pelajaran matematika ketika masih sekolah, tapi juga gagal dua kali masuk universitas dan berjuang keras yang ketiga kalinya sebelum akhirnya bisa diterima di   Hangzhou Normal University.  Pemimpin tidak selalu mereka yang paling pintar tetapi yang mampu membangkitkan visi secara kharismatis.  Ia juga tahu orang harus terus berjuang dan menemukan peluang ketika gaya manajemen berubah, struktur berubah, sumber daya terbatas, teknologi selalu baru, manusia hanya mesin dan banyak bisnis berada di bawah kapasitasnya.
      Kepemimpinan adalah tentang memikirkan sesuatu secara cermat sehingga dapat menjadi sumber pendorong utama menuju puncak kemasyuran dan sukses.  Jack Ma terbukti mampu melakukan transformasi organisasi kecil menjadi organisasi raksasa, seperti AliBaba.com, Taobao, Tmall, eTao, Alibaba Cloud Computing, Juhuasuan, 1688.com, AliExpress.com dan Alipay.
      Pernah juga mendaftar di  Harvard University tetapi tidak berhasil.  Anehnya kini dia malah menjadi dosen tamu di beberapa universitas terkenal seperti Wharton School di University of Pennsylvania, Massachusetts Institute of Technology,  Peking University.  Dan juga di Harvard University.  
3.      Orang yang Bermoral Tinggi 
      Lelaki yang digelari “Trillion Yuan”  ini awalnya hanya seorang guru bahasa inggris di Hangzhou Teachers Institute selain juga bekerja sambilan sebagai pemandu wisata. Ia menjadi pelopor di bidang teknologi informasi yang sedang bertumbuh di Cina, dengan menjadi pemimpin dalam merancang struktur dan berperan  menginspirasi sejumlah besar orang.
      Sanjay Varma yang adalah Vice President AliBaba menyatakan bahwa sebagai pimpinan Ma tetap merendah, disegani, dan pintar, tidak ada perubahan dalam dinamika kepribadiannya.  Hal-hal ini adalah moral tinggi yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin untuk membuat karyawan tetap termotivasi, meningkatkan komitmennya terhadap organisasi, dan melambungkan semangatnya untuk meraih sukses.
4.      Menemukan Peluang 
      Untuk mengejar mimpinya, Ma menemukan peluang dengan meluncurkan direktori online pertama  berjudul  “China Pages” dan segera setelah itu tahun berikutnya memproklamirkan berdirinya  AliBaba di apartemennya di  Hangzhou dengan sumber daya yang lumayan didukung oleh 17 sahabat dan modal awal sebesar  $ 60,000,  pada saat itu belum banyak orang tahu e-commerce di Cina.   Ia betul-betul seorang pemimpin yang terjun langsung, mengandalkan tim, menginspirasi dan memberdayakan.
      Kini Ma menjadi salah satu anggota kelompok milliarder di dunia dan memiliki $ 21.9 milliar kekayaan, menurut Bloomberg Billionaires Index.   Perjalanannya mulai dari  pemandu wisata menjadi orang paling sukses di Cina tidaklah mendatar, ada banyak hambatan dan rintangan. Kualitas dan perilaku hidupnya yang istimewa misalnya suka memberi semangat, terbuka, dan melihat peluang pada setiap masalah yang dihadapi.
5.      Memperluas  Wilayah 
      Ia tidak hanya membawa perubahan radikal di bidang industri e-commerce Cina tetapi juga membuka jalan bagi munculnya perusahaan-perusahaan baru seperti perusahaan travel online, aplikasi navigasi, jasa music-streaming dan lain-lain.  Hal itu telah membuat AliBaba melampaui domain inti  dan bersaing dengan organisasi kelas dunia seperti  Google dan GE, mengindikasikan adanya mutu kepemimpinan yang memiliki arah, mencapai target dan partisipatif.
      Jack Ma tidak hanya berkali-kali mengalami kegagalan tetapi juga mengalami penolakan, bahkan dianggap keterlaluan oleh ayahnya. Dengan keberanian, keinginan besar (passion) dan semangat, ia bertukar pikiran dengan teman-teman dan koleganya dengan rangsangan intelektual, kharisma dan pengaruh idealisme yang mengubah impian tentang China Pages, AliBaba, Taobao menjadi kenyataan.
6.      Pemberian Wewenang kepada Orang Lain 
      Dengan tinggi badan hanya 5 kaki (165 cm), Ma pernah ditolak bekerja di KFC ketika perusahaan itu membuka cabang di kota kelahirannya Hangzhou di Cina bagian timur.   “Ketika KFC datang ke Cina, ke kota saya, ada 24 orang melamar pekerjaan dan ada 23 orang diterima, saya satu-satunya yang tidak,” katanya.   Sementara ia membuka kode rahasianya dan yakin dalam kepemimpinan transformasional yang paling kuat adalah jika Anda ingin berhasil, berikan wewenang kepada orang lain dan   Anda harus yakin bahwa orang ini lebih baik daripada Anda  agar kepastian sukses lebih pasti.  Salah satu rahasia sukses adalah  menginspirasi para pengikut dan percaya akan kekuatan dan potensi mereka.
      Jack Ma menjadi kekuatan pendorong, ketika perusahaan TMall yang adalah situs belanja online dan beroperasi di bawah kelompok AliBaba, menghadapi tuduhan mengkampanyekan iklan palsu di Weibo.  Lebih dari 1500 komentar negatif diposting di media sosial tersebut.  Anehnya pasca krisis, Ma dapat meningkatkan popularitas situs belanja dengan menerapkan strategi  mengejek diri sendiri karena pendekatan konvensional tidak mampu meredam kemarahan publik. Ma melalui kepribadiannya telah menginspirasi jutaan orang di Cina dengan kesiapannya mengejek diri sendiri.  
      Ia juga percaya bahwa wanita merupakan bagian penting dari masyarakat dan mereka telah memainkan peran penting dalam keberhasilannya membesarkan perusahaan. Perhatian terhadap pelanggan tidak dapat diabaikan.  Dan tentu saja sukses dan kemampuan hidup organisasi  akan tergantung pada pemimpin dan karyawan, karena itu karyawan harus diberi wewenang, didorong dan dididik.
7.      Diikat oleh Budaya dan Filantofi 
      Ma, yang dikenal gemar membaca novel Kungfu, mengadakan perjalanan dengan pelatih Tai Chi juga dikenal gaya hidup filantropisnya dan dalam hal ini ia mendapat dukungan dari orang kaya dunia seperti  Bill Gates dan  Warren Buffett.
      Ma juga menjabat sebagai ketua  US Nature Conservancy untuk urusan Cina dan pernah mengatakan bahwa ia tidak dapat menjadi dokter  tapi ia dapat memiliki pendekatan untuk menyelamatkan kehidupan melalui pengobatan, lingkungan, pendidikan dan program budaya dengan kepemimpinan bermoral tinggi dengan memiliki empati, konseling dan pengembangan.

      4.   Raja Maulana Prins
            Di bawah pimpinan Maulana Prins Mandapar,Banggai segera menjadi kerajaan baru yang mencuri perhatian. Kerajaan ini mengandalkan sektor maritim untuk menopang kehidupan ekonominya sehingga perdaganganya pun semakin maju. Sejak awal berdiri,kerajaan Banggai sudah menganut prinsip demokrasi dalam tata negaranya terutama dalam mekanisme pemilihan dan pemberhentian raja. Penetapan Raja Banggai tidak mengenal putra mahkota atau ahli waris. Dengan kata lain,pemilihan raja bukan didasarkan dari satu garis keturunan.
            Raja adalah pemegang kekuasaan tertinggi di Kerajaan Banggai meskipun setiap kebijakanya diawasi oleh Basalo Sangkap. Demi kelancaran roda pemerintahan,raja di bantu oleh Dewan Menteri atau Komisi Empat. Susunan kabinet dalam Komisi Empat terdiri dari Mayor Ngopa (Raja Muda),Kapitan Laut (Kepala Angkatan Perang),Jogugu (Menteri Dalam Negeri) dan Hukum Tua (Mahkamah Agung). Masing-masing dari elemen Komisi Empat itu memiliki sejumlah staf atau pembantu yang di pilih dan diangkat langsung oleh raja dengan persetujuan dari Basalo Sangkap.

      5.   Bapak GUNANTO. Kepala Sekolah SMK N 3 SINGKAWANG, Kalimantan Barat.
                        Ada beberapa gaya kepemimpinan dari bapak Gunanto selaku kepala sekolah di SMKN 3 SINGKAWANG. Kalimantan Barat, yaitu:
Ø  Memiliki sifat yang terbuka kepada anak-anak (siswanya) dalam program kerja serta masalah yang bersangkutan dengan sekolah itu sendiri terutama permasalahan yang memang sewajarnya patut siswa-siswanya tahu, lembut hati, ramah tamah sehingga dapat mudah berbaur dengan para siswa dengan baik.
Ø  Sigap dan tanggap dalam semua urusan dalam kerjanya sebagai Kepala Sekolah.
Ø  Cara kerja sangat luarbiasa dalam membangun sekolah seperti meningkatkan prestasi sekolah, penghijauan, dan pembangunan yang sangat cepat berkembang
Ø  Selain melaksanakan tugasnya sebagai kepala sekolah dalam mengajar beliau juga sangat disiplin, serius, dan terkadang suka bercanda. Sehinga dalam pembelajaran susasananya tidak mencekam.
Ø  Beliau merupakan seorang yang murah senyum.
Ø  Berani menyalurkan program dari luar dalam meninkatkan minat dan bakat siswa dalam bersanding dengan sekolah sekolah yang ada di kecamatan, kabupaten/kota serta provinsi di kalimantan barat.
Ø  Memahami semua yang disenangi dari siswa-siswa dalam olahraga dan perlombaan antar sekolah.
            Pemimpin itu mempunyai sifat, kebiasaan, tempramen, watak dan kepribadian sendiri yang unik yang khas sehingga tingkah laku dan gayanya akan membedakan dirinya dengan orang lain. Gaya atau style hidup pemimpin akan mewarnai prilaku dan tipe kepemimpinannya.
            WJ Reddin menyatakan dalam artikelnyan “What Kind Of Manager” (menentukan watak dan tipe pemimpin ada 3 pola dasar, yaitu: berorientasi pada tugas, berorientasi hubungan kerja dan berorientasi hasil yang efektif).
Berdasarkan teori dapat disimpulkan bahwa gaya serta tipe kepemimpinan bapak Gunanto selaku Kepala Sekolah SMK N 3 SINGKAWANG, Kalimantan Barat. Antaranya:
Ø  Memiliki tipe birokrat, dalam kepatuhannya terhadap norma-norma, cermat dan disiplin.
Ø  Memiliki tipe misionaris, dalam keterbukaannya, ramah, murah senyum, dan ringan tangan dalam membantu meningkatkan kualitas sekolah.
Ø  Memiliki tipe develover (pembangun), karena beliau kreatif, dinamis, inovatif, melimpahkan wewenang dengan baik, menaruh kepercayaan pada bawahan atau anak didiknya.
Ø  Memiliki tipe benevolent autocart (otokrat yang bijak), yang bersifat lancar, tertib,ahli dalam mengorganisir dan besar rasa keterlibatan diri.
Ø  memiliki tipe eksekutif, karena bermutu tinggi, dapat memberikan motivasi yang baik, berpandanggan jauh, tekun.
D. Sumber Berita

Asdy, H. Ahmad. 2000. Mandar Dalam Kenangan. Makassar: Yayasan Maha Putra
Mandar.
Idham, Saprillah. 2013. Malaqbiq: identitas orang Mandar. Arti Bumi Intaran
Melayu Online.com
http://chinawhisper.com/independent.co.uk
http://www.intipesan.com/jack-ma-memimpin-dengan-visi-dan-moral-yang-tinggi/
http://www.kompasiana.com/roziqinmatlap/mencari-pemimpin negarawan_552f99d46ea8345b768b458a
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Labels

Analisis Kasus Antropobiologi Antropologi Budaya Asesmen Kepribadian Asesmen: Observasi dan Wawancara Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Cerita Rakyat Cerpen Filosofi Filsafat Grafologi HRD Ilmu Kesehatan Mental & Psikopatologi Intervensi Dasar Kelompok dan Komunitas Intervensi Dasar Organisasi Jurnal Ketamansiswaan Kewarganegaraan Kode Etik Psikologi Kuliner Metode Penelitian Kualitatif Metode Penelitian Kuantitatif Parenting Pend. Agama Islam Pendidikan Pancasila Pengembangan Skala Psikologi Pengembangan Tes Prestasi Penyakit Kulit Perilaku Konsumen Psikodiagnostika Psikologi Psikologi Abnormal Psikologi Analitis Psikologi Eksperimen Psikologi Emosi Psikologi Faal Psikologi Forensik Psikologi Industri dan Organisasi Psikologi Kepemimpinan Psikologi Kepribadian Psikologi Kesukaran Belajar Psikologi Kewirausahaan Psikologi Klinis Psikologi Kognitif Psikologi Komunikasi Psikologi Konseling Psikologi Orhius Psikologi Pelatihan dan Pengembangan Psikologi Pendidikan Psikologi Perkembangan Psikologi Seni Psikologi Sosial Psikologi Teknologi dan Informasi Psikologi Transpersonal Psikologi Ulayat (Indigenous Psychology) Psikologi Umum Psikometri Puisi Review Jurnal Sosiologi Statistika Statistika Inferensial Tes Psikologi Tips & Trik Umum

Popular Posts

  • Modul Interpretasi-Tes Grafis (DAP-BAUM-HTP-Wartegg)
  • Pandangan Teoritis Tentang Tingkah Laku Abnormal
  • KRIMINALITAS
  • Tipe Tipe Komunikasi
  • Mengahiri Konseling (TERMINASI)

Time

Translate

About me

Anak pertama dari empat bersaudara, dilahirkan 23 tahun lalu di Kabupaten Polewali Mandar pada tanggal 04 April 1996 yang akhirnya memiliki dua suku yaitu suku Mandar dan Jawa.

Punya hobi bermain game online, menulis dan memasak. Suka traveling walau kantong tipis. Bercita-cita jadi dokter hewan dan psikolog. Si Pleghmatis yang kadang Koleris. Si cuek yang menyukai romantis. Si tukang nangis yang suka marah-marah. Si nekat yang takut sendirian. Si cadel yang susah untuk ngucapin p atau f dan juga r.

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum da...
  • ►  2019 (251)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Maret (8)
    • ►  Februari (241)
Diberdayakan oleh Blogger.
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by BeautyTemplates