facebook twitter instagram

~ Beartopia ~

  • Home
  • Psychology
  • Joylada
    • Sweat & Tears
    • Freerunning Estafet
    • Pangeran Kuda Putih VS Mr. Cat
LAPORAN PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS
1.      IDENTITAS SUBJEK/KLIEN
A.    Klien
a.       Nama                              : P NM
b.      Nama pangilan                : P
c.       Tempat/tanggal.lahir       :
d.      Pendidikan                     : Mahasiswa
e.       Pekerjaan                        :  -
f.       Alamat                            :
g.      Tanggal pemeriksaan      : 30 mei 2015

B.     Orang tua (Ayah)
a.       Nama                            :
b.      Nama pangilan              :
c.       Tempat/tanggal.lahir     :
d.      Pendidikan                   :
e.       Pekerjaan                      :
f.       Alamat                          :
g.      Tanggal pemeriksaan    :  30 mei 2015

Orang tua (Ibu)
a.       Nama                            :
b.      Nama pangilan              :
c.       Tempat/tanggal.lahir     :
d.      Pendidikan                   :
e.       Pekerjaan                      :
f.       Alamat                          :
g.       Tanggal pemeriksaan   :

2.      TUJUAN PEMERIKSAAN
a.      Tujuan pemeriksaan            
 Untuk mengetahui apakah klien pernah mengalami permasalahan yang di alami sejak kecil hingga dewasa.

b.      Alasan/tujuan perujukan    
 Karena klien kadang terlihat sangat aktif tapi kadang sangat pendiam. Alasan pertama saya ingin menjadikan dia sebagai klien saya karena klien pernah  mengalami apa yang saya alami yaitu kami sama-sama pernah di buli oleh teman-teman kami sendiri.

3.      INFORMASI KHUSUS  yang berkaitan/relevan dengan tujuan pemeriksaan

a.       Riwayat perkembangan                             
Klien adalah anak kedua dari 4 bersaudara. Klien adalah anak perempuan yang tomboy. Sejak kecil klien mengatakan ia diperlakukan sangat baik oleh keluarganya, ia sangat di perhatikan oleh kedua orang tuanya. Keadaan ekonomi klien sangat stabil dalam artian klien merasa kalau keadaan ekonomi keluarganya dari ia kecil sangat sederhana. Ia pernah bercerita bahwa ayahnya seorang pendeta yang selalu berpidah tugas. Dan karena alasan pekerjaan ayahnya yang selalu di pindah tugas ke beberapa daerah, kata klien mereka pernah di tempatkan pada sebuah rumah yang katanya sebenarnya tidak layak tinggal.



b.      Latar belakang pendidikan 
Klien masuk dalam dunia pendidikan dari umur 6 ½ tahun.12 ½ masuk SMP. 15 ½ masuk SMA. Ketika mau masuk perkuliahan ia terpaksa istirahat setahun untuk operasi.
                       
c.       Riwayat pekerjaan/pengalaman kerja       
            Klien mengatakan bahwa ia belum pernah bekerja. Jadi ia belum bisa memberitahukan pengalaman kerjanya.         

d.      Riwayat kesehatan                                       
Pernah sakit dari kecil. Klien mengatakan ia pernah Terkena tumor dibagian leher, dan baru berhasil di angkat tumornya itu ketika tamat SMA kira-kira ia baru di operasi pada tahun lalu.

e.       Latar belakang keluarga     
Ayah klien lulusan S2 pendeta, ibunya lulusan SMA, abangnya lulusan SMK, klien sudah kuliah, adik klien SMP dan SD. Klien mengatakan bahwa latar belakang keluarganya adalah keluarga yang romantis, tentram,aman dan damai serta keluarga klien adalah keluarga yang harmonis. memiliki sifat keras,tapi ada batasnya. Keluarga klien memiliki peraturan yang sangat keras yaitu tidak boleh pulang terlambat ke rumah, apalagi jika tidak mengatakan izin pada orang tua klien.
Klien mengatakan bahwa ia sangat dekat dengan keluarga ibu dibanding ayah. Sebab kata klien keluarga dari ayah tinggal jauh dari keluarganya.

4.      HASIL PENGAMATAN/OBSERVASI

a.      Penampilan fisik                                           
Klien adalah anak yang bisa di katakan tomboy. Tidak terlalu memperhatikan penampilan. Kadang mau berpenampilan cantik di depan banyak orang tetapi kadang ingin berpenampilan biasa saja

b.      Pola perilaku secara umum                         
Suka bergaul dengan siapa saja. Sangat percaya diri dalam segala hal. Lebih suka bercanda tawa ria dengan teman-teman dibanding hanya duduk sendiri ataupun sibuk dengan Hpnya sendiri. Tetapi terkadang ia akan sangat pendiam ketika banyak orang yang membicarakannya dari belakang. Klien ini sangat tertutup soal masalah yang ia hadapi. Klien hanya akan menceritakan kisah-kisah sedihnya kepada teman-teman dekatnya termasuk saya. Adapun kalau saya merayu klien agar ia dapat menceritakan masalahnya dengan saya.


c.       Pola reaksi(kemampuan komunikasi verbal maupun non-vervbalnya)                         
Kemampuan komunikasinya bisa verbal dan non verbal sebab kalau sifat kerasnya keluar ia biasa langsung mengunakan loe,gue dan bahasa-bahasa non verbal lainnya. Dapat di mengerti karena orang-orang medan memiliki watak yang sangat keras terhadap orang lain yang menjaili klien.

d.      Penyimpangan yang nampak (misalnya tics, mennrism)                                                 
Selalu mengigit bibir jika saya mengajukan beberapa pertanyaan yang agak sulit di mengerti olehnya. Selalu melihat keatas jika pertanyaan itu malas klien jawab. Sampai-sampai kadang ia mengangap bahwa pertanyaan yang saya berikan sangatlah tidak penting bagi dirinya.

5.      HASIL TEST PSIKOLOGI
Berdasarkan hasil tes atau assesment yang telah
                                    Berikan lebih dari 90% klien lebih aktif dibandingkan berdiam diri.

6.      INTERPRETASI
Dari hasil wawancara dan beberapa pertanyaan yang saya ajukan, ada beberapa hal yang klien masih ragu untuk menjawab. Terbukti dari bebrapa pertanyaan yang saya ajukan kepadanya ia masih saja susah menjawab. Masih banyak hal yang klien pendam. Masih mengingat pembulian yang dilakukan teman-teman kepadanya. Selalu ingin menangis ketiak mengingat kata pembulian.
Klien memiliki sifat keras kepala, cepat marah/ emosional, optimis,gembira, cepat sedih jika di judge, cepat merasa susah, masa bodoh, sangat berani, mudah sirik dengan apa yang dimiliki orang lain, curigaan dan kadang sangat penakut.Klien sudah bisa hidup mandiri.
Kalau ada yang susah ia kerjakan sendiri lansung mencari bantuan orang lain, ia juga orang yang tidak dapat mengambil keputusan sendiri dan yang pasti suka berkumpul dengan banyak orang. Klien adalah orang yang suka berpetualang, klien adalah seorang yang konstruktif. Selalu mengeluh dengan keadaan tubuhnya.
Dari segi kehidupan, klien mengangap bahwa ia merasa hidupnya sangat menyenagkan setelah selesai operasi pengangkatan tumor pada lehernya. Klien merasa lebih PEDE.


7.      IDENTITAS PEMERIKSA.
a.       Nama                             :
b.      Nama pangilan              :
c.       Tempat/tanggal.lahir     :
d.      Pendidikan                    :
e.       Nim                               :
f.       Pekerjaan                       :
g.      Alamat                          :
h.      Tanggal pemeriksaan     : 30 mei 2015
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
ASESMEN dalam PSIKOLOGI KLINIS
M. Fakhrurrozi, S.Psi

APA ITU ASESMEN?
“Proses mengumpulkan informasi yang biasanya digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan yang nantinya akan dikomunikasikan kepada pihak-pihak terkait oleh asesor” (Nietzel dkk,1998).

Kita pada dasarnya seringkali melakukan asesmen. Misalnya ketika bertemu seseorang, saat itu kita akan berusaha untuk mengumpulkan informasi, memproses dan menginterpretasikannya. Informasi tersebut dapat berupa latar belakang, sikap, tingkah laku atau karakteristik yang dimiliki orang tersebut. Kemudian informasi tersebut dihubungkan dengan pengalaman dan harapan yang kita miliki sehingga kita akan mendapatkan kesan dari orang tersebut yang selanjutnya kita jadikan dasar untuk memutuskan cara kita bersikap terhadapnya.

PROSES ASESMEN KLINIS

Inti asesmen adalah mengumpulkan informasi yang akan digunakan untuk mengenali dan menyelesaikan masalah menjadi lebih efektif.



I.   PLANNING DATA COLLECTION PROCEDURES

·         Apa yang ingin kita ketahui ?

Usaha-usaha atau penekanan asesmen yang dilakukan disesuaikan dengan pendekatan atau teori yang akan digunakan. Penekanan asesmen berkaitan dengan dinamika kepribadian, latar belakang lingkungan sosial dan keluarga, pola interaksi dengan orang lain, persepsi terhadap diri dan realita atau riwayat secara genetis dan fisiologi.

Tabel 1. Tingkat asesmen dan data yang berkaitan


TINGKAT ASESMEN

JENIS DATA
1.   Somatis
Golongan darah, pola respon somatis terhadap stres, fungsi hati, karakteristik genetis, riwayat penyakit, dsb
2.   Fisik
Berat/tinggi badan, jenis kelamin, warna kulit, bentuk tubuh, tipe rambut, dsb
3.   Demografis
Nama, umur, tempat/tanggal lahir, alamat, nomor telepon, pekerjaan, pendidikan, penghasilan, status perkawinan, jumlah anak, dsb
4.  Overt behavior
Kecepatan membaca, koordinasi mata-tangan, kemampuan conversation, ketrampilan bekerja, kebiasaan merokok, dsb
5.   Kognitif/intelektual
Respon terhadap tes intelegensi, daya pikir, respon terhadap tes persepsi, dsb
6.   Emosi/afeksi
Perasaan, respon terhadap tes kepribadian, emosi saat bercerita, dsb
7.   Lingkungan
Lokasi dan karakteristik tempat tinggal, deskripsi kehidupan pernikahan, karakteristik pekerjaan, perilaku anggota keluarga dan teman, nilai-nilai budaya dan tradisi, kondisi sosial ekonomi, lokasi geografis, dsb

 

PEDOMAN STUDI KASUS :

  1. Identifikasi data, meliputi : nama, jenis kelamin, pekerjaan, penghasilan, status perkawinan, alamat, tempat tanggal lahir, agama, pendidikan, suku bangsa.
  2. Alasan kedatangan dan keluhan, harapan-harapan klien.
  3. Situasi saat ini, meliputi : di tempat tinggal, kegiatan harian, perubahan dalam hidup yang terjadi dalam satu bulan, dsb.
  4. Keluarga, meliputi : deskripsi orang tua, saudara, figur lain dalam keluarga yang dekat dengan klien (significant other), peran dalam keluarga, dsb.
  5. Ingatan awal, mendeskripsikan tentang kejadian dan situasi pada awal kehidupannya.
  6. Kelahiran dan perkembangan, meliputi : usia saat bisa berjalan dan berbicara, permasalahan dengan anak lain, pengaruh dari pengalaman masa kecil, dsb.
  7. Kondisi fisik dan kesehatan, meliputi : penyakit sejak kecil, penggunaan obat dokter atau obat terlarang yang berturut-turut, merokok, alkohol, kebiasaan makan atau olahraga, dsb.
  8. Pendidikan, meliputi : riwayat pendidikan, bidang pendidikan yang diminati, prestasi, bidang yang dirasa sulit, dsb.
  9. Pekerjaan, meliputi : alasan berhenti atau pindah kerja, sikap dalam menghadapi pekerjaan, dsb.
  10. Minat dan hobi, meliputi : kesenangan, ekspresi diri, hobi, dsb.
  11. Perkembangan seksual, meliputi : aktivitas seksual, ketepatan dalam pemuasan kebutuhan seksual, dsb.
  12. Data perkawinan dan keluarga, meliputi : alasan menikah, kehidupan perkawinan dalam budayanya, masalah selama menikah, kebiasaan dalam rumah tangga, dsb.
  13. Dukungan sosial, minat sosial dan komunikasi dengan orang lain, meliputi : tingkat frekuensi untuk berhubungan dengan orang lain, kontribusi selama berinteraksi, kesediaan menolong orang lain, dsb.
  14. Self description, meliputi : kekuatan dan kelemahan, daya imajinasi, kreativitas, nilai-nilai dan ide.
  15. Pilihan dalam hidup, meliputi : keputusan untuk berubah, kejadian penting, dsb.
  16. Tujuan dan masa depan, meliputi : harapan pada 5 – 10 tahun yang akan datang, hal-hal yang perlu disiapkan untuk itu, kemampuan untuk menetapkan tujuan, daya realistis berhubungan dengan waktu, dsb.
  17. Hal-hal lain dapat dilihat dari riwayat atau latar belakang klien.

Pedoman tersebut harus selalu disesuaikan dengan pendekatan yang akan digunakan :
·         Psikodinamika lebih memfokuskan pada pertanyaan seputar motif bawah sadar, fungsi ego, perkembangan pada awal kehidupan (5 tahun pertama) dan berbagai macam defense mechanism.
·         Kognitif-behavior memfokuskan pada skill, pola berpikir yang biasa digunakan, berbagai stimulus yang mendahului serta permasalahan perilaku yang menyertainya.
·         Fenomenologi cenderung mengikuti outline asesmen dan melihat bahwa serangkaian asesmen merupakan kolaborasi untuk memahami klien dalam hal bagaimana klien melihat atau mempersepsi dunia.

TUJUAN ASESMEN KLINIS
       Ada tiga macam yaitu klasifikasi diagnostik, deskripsi dan prediksi.
1.       Klasifikasi diagnostik
Maksud dari klasifikasi (penegakan) diagnostik yang tepat antara lain :
·         Untuk menentukan jenis treatment yang tepat. Suatu treatment sangat bergantung pada bagaimana pemahaman klinisi terhadap kondisi klien termasuk jenis gangguannya (vermande, van den Bercken, & De Bruyn, 1996).
·         Untuk keperluan penelitian. Penelitian tentang berbagai penyebab suatu gangguan sangat bergantung kepada validitas dan reliabilitas diagnostik yang ditegakkan.
·         Memungkingkan klinisi untuk mendiskusikan gangguan dengan cara efektif bersama profesional yang lain (Sartorius et.al, 1996).

Diagnostic System : DSM-IV

Teknik pengklasifikasian gangguan mental sudah dilakukan sejak tahun 1900-an. Sedangkan secara formal baru pada tahun 1952 ketika APA (American Psychiatric Association) menerbitkan sistem klasifikasi diagnostik yang pertama kali, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. Sistem ini kemudian terkenal dengan nama DSM I dan berlaku hingga tahun 1968, ketika WHO mengeluarkan International Classification of Diseases (ICD). DSM I kemudian direvisi dan disamakan dengan ICD, kemudian terbit DSM II. DSM I dan II menyeragamkan terminologi untuk mendeskripsikan dan mendiagnosa perilaku abnormal, tetapi tidak menjelaskan tentang aturan sebagai pedoman dalam memutuskan suatu diagnostik. Di dalamnya tidak terdapat suatu kriteria yang jelas bagi tiap gangguan sehingga agak sulit untuk mengklasifikasikan diagnostik. Pada tahun 1980 DSM II mengalami perubahan menjadi DSM III yang diikuti pada tahun 1987 dengan edisi revisi sehingga namanya menjadi DSM III-R. Dalam DSM III ini, sudah terdapat suatu kriteria operasional untuk masing-masing label diagnostik. Kriteria ini meliputi simtom utama dan simtom spesifik serta durasi simtom muncul. Disini juga digunakan pendekatan multiaxial, dimana klien dideskripsikan ke dalam lima dimensi (axis), yaitu :
a.       Axis I    : 16 gangguan mental major
b.       Axis II   :  Berbagai problem perkembangan dan gangguan kepribadian
  1. Axis III  : Gangguan fisik atau kondisi-kondisi yang mungkin berhubungan dengan  gangguan mental
  2. Axis IV :Stressor psikososial (lingkungan) yang mungkin memberi kontribusi terhadap gangguan pada Axis I dan II
e.       Axis V  : Rating terhadap fungsi psikologis, sosial dan pekerjaan dalam satu tahun    terakhir

DSM III-R pun kemudian dikritik karena beberapa kriteria diagnostiknya masih terlalu samar dan masih membuka peluang untuk muncul bias dalam penggunaannya. Dan Axis II, IV dan V mempunyai kekurangan dalam pengukurannya. Akhirnya pada tahun1988, APA membentuk tim untuk membuat DSM IV. Di dalamnya tetap menggunakan pendekatan multiaxial seperti pada DSM III-R dan Axis I hanya dapat di tegakkan jika terdapat jumlah kriteria minimum dari daftar simtom yang disebutkan. Pada DSM IV ini terdapat beberapa modifikasi dalam terminologi sebelumnya dan skema rating yang digunakan pada beberapa axis. Sekarang ini telah diterbitkan DSM IV-TR (Text Revised). Sampai saat ini DSM IV dan DSM IV-TR digunakan sebagai pedoman klinisi dan profesional terkait untuk menentukan diagnostik.
Multiaxial DSM IV :
a.    Axis I   : Clinical Disorders, Other Conditions That May Be a Focus of Clinical Attentions
b.    Axis II  : Personality Disorders, Mental Retardation
c.    Axis III : General Medical Conditions
d.    Axis IV : Psychosocial and Environtmental Problems
e.    Axis V  : Global Assessment of Functioning (GAF)

2.    Deskripsi
Para klinisi beranggapan bahwa untuk memahami content dari perilaku klien secara utuh maka harus mempertimbangkan juga tentang context sosial, budaya dan fisik klien. Hal itu menyebabkan  asesmen diharapkan dapat mendeskripsikan kepribadian seseorang secara lebih utuh dengan melihat pada person-environtment interactions. Dalam fungsinya sebagai sarana untuk melakukan deskripsi terhadap kepribadian seseorang secara utuh, di dalam asesmen harus terdapat antara lain : motivasi klien, fungsi intrapsikis, respon terhadap tes, pengalaman subjektif, pola interaksi, kebutuhan (needs) dan perilaku. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif tersebut memudahkan klinisi untuk mengukur perilaku pra treatment, merencanakan jenis treatment dan mengevaluasi perubahan perilaku pasca treatment.

3.    Prediksi
Tujuan asesmen yang ketiga adalah untuk memprediksi perilaku seseorang. Misalnya klinisi diminta oleh perusahaan, kantor pemerintah atau militer untuk menyeleksi seseorang yang tepat bagi suatu posisi kerja tertentu. Dalam kasus tersebut, klinisi akan melakukan asesmen dengan mengumpulkan dan menguji data deskriptif yang kemudian digunakan sebagai dasar untuk melakukan prediksi dan seleksi.
Klinisi kadang dihadapkan pada situasi untuk memprediksi hal-hal yang berbahaya, misalnya pertanyaan seperti “Apakah si A akan bunuh diri ?”, “Apakah si B tidak akan menyakiti orang lain setelah keluar dari RS?”. Pada saat itu klinisi harus menentukan jawaban “ya” atau “tidak”. Prediksi klinisi tentang  “berbahaya” atau “tidak berbahaya” dapat dievaluasi dengan empat kemungkinan jawaban.
a.       True positive, jika prediksi klinisi berbahaya dan ternyata klien menunjukkan perilaku berbahaya.
b.       True negative, jika prediksi klinisi tidak berbahaya dan ternyata klien menunjukkan perilaku yang tidak berbahaya.
c.       False negative, jika prediksi klinisi tidak berbahaya tetapi klien menunjukkan perilaku berbahaya.
d.       False positive, jika prediksi klinisi berbahaya tetapi klien menunjukkan perilaku tidak berbahaya.

II.  COLLECTING ASSESSMENT DATA
·          Bagaimana seharusnya kita mencari tahu tentang hal itu ?

SUMBER ASESMEN DATA
Ada empat macam yaitu : interview, tes, observasi dan life record.
1.   Interview
Interview merupakan dasar dalam asesmen dan merupakan sumber yang sangat luas. Ada beberapa kelebihan interview antara lain:
a.       Merupakan hal biasa dalam interaksi sosial sehingga memungkinkan untuk mengumpulkan sampel tentang perilaku verbal atau non verbal individu bersama-sama.
b.       Tidak membutuhkan peralatan atau perlengkapan khusus dan dapat dilakukan dimanapun juga.
c.       Mempunyai tingkat fleksibilitas yang tinggi. Klinisi bebas untuk melakukan inquiry (pendalaman) terhadap topik pembicaraan yang mungkin dapat membantu proses asesmen.
Tetapi interview dapat terdistorsi oleh karakteristik dan pertanyaan interviewer, karakteristik klien dan oleh situasi pada saat interview berlangsung.

2.   Tes
Seperti interview, tes juga memberikan sampel perilaku individu, hanya saja dalam tes stimulus yang direspon klien lebih terstandardisasikan daripada interview. Bentuk tes yang sudah standar tersebut membantu untuk mengurangi bias yang mungkin muncul selama proses asesmen berlangsung. Respon yang diberikan biasanya dapat diubah dalam bentuk skor dan dibuat analisis kuantitatif. Hal itu membantu klinisi untuk memahami klien. Skor yang didapat kemudian diinterpretasi sesuai dengan norma yang ada.

3.       Observasi
Tujuan observasi adalah untuk mengetahui lebih jauh di luar apa yang dikatakan klien. Banyak yang mempertimbangkan bahwa observasi langsung mempunyai tingkat validitas yang tertinggi dalam asesmen. Hal itu berhubungan dengan kelebihan observasi antara lain:
a.       Observasi dilakukan secara langsung dan mempunyai kemampuan untuk menghindari permasalahan yang muncul selama interview dan tes seperti  masalah memori, jenis respon, motivasi dan bias situasional.
b.       Relevansinya terhadap perilaku yang menjadi topik utama. Misalnya perilaku agresif anak dapat diobservasi sebagaimana perilaku yang ditunjukkan dalam lingkungan bermain dimana masalah itu telah muncul.
c.       Observasi dapat mengases perilaku dalam konteks sosialnya. Misalnya untuk memahami seorang pasien yang kelihatan depresi setelah dikunjungi keluarganya, akan lebih bermakna dengan mengamati secara langsung daripada bertanya, “Apakah Anda pernah depresi?”.
d.       Dapat mendeskripsikan perilaku secara khusus dan detail. Misalnya untuk mengetahui tingkat gairah seksual seseorang dapat diobservasi dengan banyaknya cairan vagina yang keluar atau observasi melalui bantuan kamera.

4.       Life record
Asesmen yang dilakukan melalui data-data yang dimiliki seseorang baik berupa ijazah sekolah, arsip pekerjaan, catatan medis, tabungan, buku harian, surat, album foto, catatan kepolisian, penghargaan, dsb. Banyak hal dapat dipelajari dari life record tersebut. Pendekatan ini tidak meminta klien untuk memberi respon yang lebih banyak seperti melalui interview, tes atau observasi. Selama proses ini, data dapat lebih terhindar dari distorsi memori, jenis respon, motivasi atau faktor situasional. Contohnya, klinisi ingin mendapatkan informasi tentang riwayat pendidikan klien. Data tentang transkrip nilai selama sekolah mungkin dapat lebih memberikan informasi yang akurat tentang hal itu daripada bertanya ,”Bagaimana saudara di sekolah?”. Buku harian yang ditulis selama periode kehidupan seseorang juga dapat memberikan informasi tentang perasaan, harapan, perilaku atau detail suatu situasi yang mana hal itu mungkin terdistorsi karena lupa selama interview. Dengan merangkum informasi yang di dapat tentang pikiran dan tingkah laku klien selama periode kehidupan yang panjang, life records memberikan suatu sarana bagi klinisi untuk memahami klien dengan lebih baik.

III.  PROCESSING ASSESSMENT DATA
·         Bagaimana seharusnya data-data tersebut dikombinasikan ?
·         Bagaimana asesor dapat meminimalkan bias selama interpretasi data ?
         Didasarkan pada teori apa yang akan digunakan : psikoanalisa, behavioral atau fenomenologi.

Setelah data terkumpul, langkah selanjutnya dalam asesmen adalah menentukan arti dari data tersebut. Jika informasi tersebut sekiranya berguna dalam pancapaian tujuan asesmen, maka informasi itu akan dipindahkan dari data kasar menjadi format interpretatif. Langkah tersebut biasanya disebut pemrosesan data asesmen atau clinical judgment.
Klinisi cenderung melihat data asesmen melalui tiga cara yaitu : sebagai sampel, korelasi atau tanda (sign). Contoh : Seorang laki-laki menelan 20 tablet obat penenang sebelum tidur tadi malam di sebuah hotel, tapi berhasil diselamatkan oleh petugas kebersihan yang akhirnya membawanya ke RS.
1.       Data  dilihat sebagai sampel dari perilaku klien. Kemungkinan judgment :
·         Klien mempunyai cara potensial untuk melakukan pembunuhan secara medis
·         Klien tidak ingin diselamatkan sebab tidak ada seorangpun yang tahu tentang usaha bunuh diri tersebut sebelum hal itu terjadi.
·         Dalam situasi yang sama, klien mungkin akan mencoba bunuh diri lagi.

Disini dapat dilihat, bahwa data berupa usaha bunuh diri dilihat sebagai contoh dari apa yang dilakukan klien dalam situasi seperti itu. Tidak ada usaha untuk mengetahui mengapa dia mencoba bunuh diri. Jika dilihat sebagai sampel, akan didapat kesimpulan tingkat rendah. Teori yang mendasarinya adalah behavioral.

2.   Data dilihat sebagai korelasi dengan aspek lain dalam hidup klien. Kemungkinan judgment :
·         Klien sepertinya seorang lelaki setengah baya yang masih single atau bercerai dan mengalami kesepian.
·         Klien saat itu mungkin mengalami depresi.
·         Klien kurang mendapatkan dukungan emosi dari teman dan keluarganya.

Ada kombinasi antara : 1). Fakta tentang perilaku klien. 2). Pengetahuan klinisi tentang apa yang sekiranya dapat dikorelasikan dengan perilaku klien. Disini kesimpulan yang diambil berada pada tingkat yang lebih tinggi. Kesimpulannya didasarkan pada data-data pendukung yang ada di luar data asli seperti hubungan antara bunuh diri, usia, jenis kelamin, dukungan sosial, dan depresi. Semakin kuat pemahaman terhadap hubungan antar variabel, maka kesimpulan yang di dapat semakin akurat. Pendekatan ini bisa didasarkan pada beragam teori.

3.   Data dilihat sebagai tanda (sign) yang lain, untuk mengetahui karakteristik kilen yang masih kurang jelas. Kemungkinan judgment :
·         Dorongan agresif klien berubah menyerang diri sendiri.
·         Perilaku klien merefleksikan adanya konflik intrapsikis.
·         Perilaku minum obat merupakan manifestasi adanya kebutuhan untuk ditolong yang tidak disadarinya.

Kesimpulan yang didapat berada pada tingkat paling tinggi. Teori yang mendasari pendekatan ini adalah psikoanalisa atau fenomenologi.

IV.  COMMUNICATING ASSESSMENT DATA
·         Siapa yang akan diberi laporan asesmen dan tujuannya apa ?
·         Bagaimanakah asesmen akan mempengaruhi klien yang di ases ?

Hasil dari asesmen biasanya akan ditulis menjadi sebuah laporan asesmen. Ada tiga kriteria yang harus dipenuhi suatu laporan asesmen yaitu : jelas, relevan dengan tujuan dan berguna.
1.       Jelas
Kriteria pertama yang harus dipenuhi adalah laporan itu harus jelas. Tanpa kriteria ini, relevansi dan kegunaan laporan tidak dapat dievaluasi. Ketidakjelasan laporan psikologis merupakan suatu masalah karena kesalahan interpretasi dapat menyebabkan kesalahan pengambilan keputusan.
2.       Relevan dengan tujuan
Laporan asesmen harus relevan dengan tujuan yang sudah ditetapkan pada awal asesmen. Jika tujuan awalnya adalah untuk mengklasifikasikan perilaku klien maka informasi yang relevan dengan hal itu harus lebih ditekankan.
3.       Berguna
Laporan yang ditulis diharapkan dapat memberikan sesuatu informasi tambahan yang penting tentang klien. Kadang terdapat juga laporan yang mempunyai validitas tambahan yang rendah. Misalnya klinisi menyimpulkan bahwa klien mempunyai kecenderungan agresifitas tinggi, tapi data kepolisian mencatat bahwa klien tersebut telah berulang kali ditahan karena kasus kekerasan. Informasi yang diberikan klinisi tidak memberikan suatu hal penting lainnya dari klien.

OUTLINE ASSESSMENT DATA
1.       Psikoanalisa
I.    Konflik
A.      Persepsi diri
B.      Tujuan
C.     Frustrasi
D.     Hubungan interpersonal
E.      Persepsi lingkungan
F.      Dorongan, dinamika
G.     Kontrol emosi
II.    Nilai stimulus sosial
A.      Kemampuan kognitif
B.      Faktor konatif
C.     Tujuan
D.     Peran sosial
III.   Fungsi kognitif
A.      Penurunan
B.      Psikopatologi
IV.   Defenses
A.    Represi
B.    Rasionalisasi
C.   Regresi
D.   Fantasi
E.    Dsb

2.       Fenomenologi ; pendekatan subjektif dan cenderung mengikuti format umum asesmen.
I.        Klien dari sudut pandang sendiri
II.    Klien seperti yang direfleksikan dalam tes
III.   Klien seperti yang dilihat klinisi

3.   Cognitive-Behavioral
I.        Deskripsi tentang penampilan fisik dan perilaku selama asesmen
II.    Permasalahan
A.      Masalah saat ini
B.      Latar belakang masalah
C.     Situasi tertentu yang menentukan masalah
D.     Variabel yang relevan
1.       Aspek fisiologis
2.       Pengaruh medis
3.       Aspek kognitif yang menentukan masalah
E.      Dimensi masalah
1.       Durasi
2.       Frekuensi
3.       Keseriusan masalah

F.    Konsekuensi masalah
1.       Positif
2.       Negatif
III.   Masalah yang lain (diobservasi oleh asesor, tidak dinyatakan oleh klien)
IV.  Aset individu
V.      Target perubahan
VI.  Treatment yang direkomendasikan
VII.  Motivasi klien untuk treatment
VIII. Prognosis
IX.   Prioritas treatment
X.    Harapan klien 
A.      Penyelesaian masalah yang spesifik
B.      Pada treatment secara umum
XI.  Komentar lain


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Labels

Analisis Kasus Antropobiologi Antropologi Budaya Asesmen Kepribadian Asesmen: Observasi dan Wawancara Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Cerita Rakyat Cerpen Filosofi Filsafat Grafologi HRD Ilmu Kesehatan Mental & Psikopatologi Intervensi Dasar Kelompok dan Komunitas Intervensi Dasar Organisasi Jurnal Ketamansiswaan Kewarganegaraan Kode Etik Psikologi Kuliner Metode Penelitian Kualitatif Metode Penelitian Kuantitatif Parenting Pend. Agama Islam Pendidikan Pancasila Pengembangan Skala Psikologi Pengembangan Tes Prestasi Penyakit Kulit Perilaku Konsumen Psikodiagnostika Psikologi Psikologi Abnormal Psikologi Analitis Psikologi Eksperimen Psikologi Emosi Psikologi Faal Psikologi Forensik Psikologi Industri dan Organisasi Psikologi Kepemimpinan Psikologi Kepribadian Psikologi Kesukaran Belajar Psikologi Kewirausahaan Psikologi Klinis Psikologi Kognitif Psikologi Komunikasi Psikologi Konseling Psikologi Orhius Psikologi Pelatihan dan Pengembangan Psikologi Pendidikan Psikologi Perkembangan Psikologi Seni Psikologi Sosial Psikologi Teknologi dan Informasi Psikologi Transpersonal Psikologi Ulayat (Indigenous Psychology) Psikologi Umum Psikometri Puisi Review Jurnal Sosiologi Statistika Statistika Inferensial Tes Psikologi Tips & Trik Umum

Popular Posts

  • Modul Interpretasi-Tes Grafis (DAP-BAUM-HTP-Wartegg)
  • KRIMINALITAS
  • Pandangan Teoritis Tentang Tingkah Laku Abnormal
  • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask
    Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask
  • ILMU KALAM

Time

Translate

About me

Anak pertama dari empat bersaudara, dilahirkan 23 tahun lalu di Kabupaten Polewali Mandar pada tanggal 04 April 1996 yang akhirnya memiliki dua suku yaitu suku Mandar dan Jawa.

Punya hobi bermain game online, menulis dan memasak. Suka traveling walau kantong tipis. Bercita-cita jadi dokter hewan dan psikolog. Si Pleghmatis yang kadang Koleris. Si cuek yang menyukai romantis. Si tukang nangis yang suka marah-marah. Si nekat yang takut sendirian. Si cadel yang susah untuk ngucapin p atau f dan juga r.

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum da...
  • ►  2019 (251)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Maret (8)
    • ►  Februari (241)
Diberdayakan oleh Blogger.
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by BeautyTemplates