facebook twitter instagram

~ Beartopia ~

  • Home
  • Psychology
  • Joylada
    • Sweat & Tears
    • Freerunning Estafet
    • Pangeran Kuda Putih VS Mr. Cat
Media dan Kekerasan : Pengaruh Tayangan Kekerasan di Televisi terhadap Perubahan Perilaku Anak

Drs. Dede Mulkan, M.Si.
Televisi merupakan sarana komunikasi utama di sebagian besar
masyarakat kita, tidak terkecuali di masyarakat barat. Tidak ada media lain
yang dapat menandingin televisi dalam hal volume teks budaya pop yang
diproduksinya dan banyaknya penonton.
Tayangan Televisi harus di atur karena mempengaruhi sikap dan
perilaku khalayak khususnya bagi yang belum memiliki referensi yang kuat,
yakni anak-anak dan remaja. Terlebih karena televisi bersifat audio visual
sinematografis yang memiliki dampak besar terhadap perilaku khalayaknya
seperti pengaruh jarum suntik terhadap manusia.
Tayangan-tayangan di televisi saat ini mempunyai kecendrungan
mengabaikan ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan. Hal ini terlihat dari
ditonjolkannya eksploitasi sex, kekerasan, budaya konsumerisme dan
hedonisme. Bahkan pada masa remaja normal, semakin banyak kekerasan
yang mereka lihat, semakin berkurang aktifitas berfikir, belajar, melakukan
pertimbangan, dan kontrol emosi pada otak. Pada sisi lain, berbagai bentuk
tayangan yang memuat adegan kekerasan seks dan tema dewasa lainnya akan
terus bertambah intensitasnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Media memang akan selalu bersinggungan dengan hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari manusia. Diantara dimensi-dimensi tersebut, kekerasan mungkin yang menjadi salah satu sorotan. Hal tersebut dikarenakan dampak yang timbul bukan hanya suatu perilaku agresif dan kasar tetapi sudah mencapai tahap kriminal yang menyebabkan korban. Pelaku maupun korban juga bukan hanya pada level usia dewasa tetapi sudah memasuki level anak-anak. Sebesar apa pengaruh media terkait konten kekerasan tersebut hingga mampu begitu kuat mempengaruhi khalayak? Beberapa model kajian dampak media yang ada mencoba menjelaskan fenomena tersebut. Beberapa diantaranya ialah berasal dari teori kognitif (cognitive theory) dan teori fisiologis (physiologies theory) yang keduanya tergabung dalam teori efek perilaku (theories of behavioral effects)

Teori Kognitif (Cognitive Theory)

Teori ini menjelaskan dampak dari konten kekerasan dalam media pada tahap kognitif manusia atau proses tersebut dipandang dari segi kognitif manusia. Menurutnya, sisi agresif manusia tumbuh melebihi aktivitas mental yang secara umum merupakan hasil dari atau respon dari konten kekerasan dalam media. Respon yang didapat bukan hanya pengaruh dari mental secara langsung, tetapi ada suatu proses kognitif yang terlibat di sana. Teori ini bersandar pada tiga tipe aktivitas mental sebagai dasar perilaku agresif seperti, pembelajaran (learning), pembentukan sikap (attitude formation) dan priming.

Pendekatan kognitif yang dominan berkaitan dengan konten kekerasan media dan perilaku agresif ialah berdasar pada pembelajaran (learning). Learning merupakan suatu proses kondisi yang melibatkan petentangan mental dan usaha. Hal tersebut bukan merupakan hasil dari terpaan pasif konten media, dalam artian terhadapat rentang waktu atau durasi konsumsi media yang konstan. Learning juga merupakan efek relatif jangka panjang, atau dengan kata lain asumsi pendekatan ini yang mengatakan bahwa dampak dari mempelajari kekerasan dalam media agak dapat diterima.

Bandura menyatakan bahwa manusia belajar tidak hanya melalui pengalaman mereka secara langsung, namun juga dengan mengamati orang lain. Media dalam hal ini banyak memberikan kesempatan dalam menyediakan materi pengalaman tersebut. Dua kunci dari perilaku belajar ini ialah relevan dan adaptif. Melalui dua hal ini, seseorang akan lebih mudah belajar. Relevan berarti berhubungan dengan kehidupan seseorang dan adaptif berarti hal-hal yang mampu menolong mereka dalam kehidupan mereka sendiri. Implikasinya ialah, ketika seseorang melihat konten kekerasan media sebagai suatu hal yang memang pernah terjadi dengan orang lain (relevan) maka mereka akan menyesuaikan diri dengan hal tersebut dan cenderung mengadaptasinya ketika dianggap mampu memecahkan masalah hidup mereka.

Media seringkali menggambarkan kekerasan sebagai suatu tindakan yang atraktif, keberhasilan dan karakter yang dihargai, baik sebagai pembela kejahatan atau lainnya. Kekerasan menjadi sesuatu yang menggugah dan menarik perhatian, hal tersebutlah yang membuat kekerasan banyak dipelajari atau ditiru. Media visual banyak menawarkan gambar-gambar yang merangsang kecenderungan penonton mempelajari kekerasan secara sosial.


Information-Processing Model

Model yang merupakan perkembangan dari social learning ini menyatakan bahwa sikap agresif seseorang tidak hanya muncul ketika terpaan media begitu kuat. Model ini menyatakan bahwa atribut media juga mempunyai peran penting dalam memunculkan sikap agresif. Atribut tersebut ialah script media atau naskah atau bahasa verbal yang digunakan. Huesmann menyatakan bahwa proses encoding script yang diverbalisasikan media yang terus menerus diulang (rehearsal) mampu mengkultivasi dan akhirnya dipelajari sebagai suatu tindakan sosial. Menurut Huesmann, seorang anak yang kasar cenderung tidak populer dan jarang menghabiskan waktu dengan teman maupun keluarga. Sikap introvert ini memaksa anak berteman dengan TV dan akhirnya berinteraksi melalui naskah-naskah yang ada hingga dipelajari sebagai suatu tindakan sosial.

Priming by Aggressive Media Cues

Model ini beranggapan bahwa dalam tayangan kekerasan dalam media terdapat simbol-simbol tertentu yang mampu mempengaruhi perilaku seseorang. Priming merupakan aktivasi otomatis dari skema yang telah ada pada tanda yang menyolok dalam lingkungan. Priming yang dibuat oleh media dengan konten kekerasan memungkinkan munculnya tanda-tanda tertentu yang menjadi “top of mind” bagi penontonnya. Hal tersebut tentu akan diingat dan memungkinkan untuk mempengaruhi bagaimana orang berpikir, merasakan dan bertindak. Dengan kata lain tanda agresif dalam media mampu merangsang pikiran-pikiran agresif seseorang yang akan berdampak pada reaksinya terhadap suatu seting sosial.

Masih berhubungan dengan model sebelumnya, dimana script dalam media memerankan variable utama. Namun, script di sini lebih spesifik mengacu pada satu tanda yang mencolok yang kemudian menjadi referensi seseorang dalam bertindak agresif. Sebagai contoh, dalam film kekerasan umumnya menggunakan senjata dalam scriptnya, dan hal tersebut dapat menjadi tanda yang berpotensi mengaktifkan sikap agresif di dunia nyata. Hal tersebut juga tidak terlepas dari gambaran media yang tidak pernah menunjukkan bahwa menggunakan kekerasan akan langsung mendapatkan hukuman. Objek spesifik yang sangat mencolok akan menjadi sebuah tanda agresi.

Masyarakat mungkin secara sadar mengaktifkan script yang bersifat agresif dalam kendali proses mental sebagai solusi dalam dunia nyata. Ataupun, tanda mencolok media memungkinkan script agresif utama mempengaruhi bagaimana seseorang merespon dalam waktu yang singkat.


Teori Fisiologis (Physiological Theories)
Kunci dari pendekatan ini adalah bagaimana respon khalayak secara fisiologis terhadap konten kekerasan media. Arousal atau suatu rangsangan yang mampu mempengaruhi perilaku agresif seseorang, misalnya. Setidaknya terdapat tiga mekanisme dalam model ini. Pertama ialah penonton dimungkinkan berperilaku lebih intensif daripada ketika tidak terstimulan. Kedua penonton menjadi sangat terstimulan dalam konteks kekerasan dalam media, arousal mungkin diberi label sebagai ketakutan, kemarahan atau permusuhan. Jadi dalam jangka waktu yang singkat setelah terpaan konten kekerasan media. Arousal tidak secara langsung menginspirasi, tetapi menguatkan melalui beberapa variable.

Secara umum, banyak metode yang digunakan dalam menggambarkan dampak dari konten kekerasan dalam media. Beberapa meneliti dari segi medianya, beberapa lagi meneliti dari sisi khalayaknya. Secara langsung maupun tidak, kekerasan dalam media ternyata mampu merangsang sisi agresif manusia yang kemudian menjadi referensi mereka dalam menentukan sikap sosial. Kekerasan menjadi tontonan yang menjual karena hal itu tabu secara sosial, manusia mampu mendapatkannya dalam bentuk yang menyenangkan di media yang secara tidak sadar membentuk pola mental mereka. Hal tersebut tentu tidak berdiri sendiri. Lingkungan dan keadaan personal seseorang juga mempengaruhi, namun yang menjadi pertanyaan ialah seberapa jauh media memberi tambahan pembenaran atas suatu kekerasan yang mungkin banyak terjadi dalam lingkungan seseorang.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
KONSEP DASAR INTERNET……..

*  Internet adalah sebuah sistem,   merupakan jaringan dari   berbagai jaringan komputer di   seluruh dunia.

*  Media
penghubung jaringan   antara lain; kabel, gelombang   radio, cahaya (serat optic).

Internet merupakan singkatan dari interconnected networking yang berarti jaringan komputer yang saling terhubung antara satu komputer dengan komputer yang lain yang membentuk sebuah jaringan komputer di seluruh dunia, sehingga dapat saling berinteraksi, berkomunikasi, saling bertukar informasi atau tukar menukar data.

Perkembangan Internet ……..

Perkembangan teknologi dalam bidang internet hingga saat ini dianggap sebagai sesuatu yang baik dan salah satu perwujudan hal yang bersifat demokratis.
Kemajuan internet yang kian pesat berkaitan dengan kecepatan akses, bisnis, rasa sosial, dan berita menjadi perhatian publik.

—Internet sebagai suatu medium komunikasi dalam kemampuanynya untuk meyediakan pemakai untuk menggunakan arus-arus nonverbal dan informasi lisan dengan menggunakan media sebagai mediasinya.
—Arus verbal dan non verbal

Manfaat/dampak positif penggunaan internet…

1.Menambah wawasan dan pengetahuan dari seluruh dunia.
2.Mendapatkan banyak ide yang baru.
3.Sarana komunikasi ‘secara terbatas’

—Dampak negatif penggunaan Internet….

1.Cybercrime/kejahatan
2.Pornografi
3.Violence and gore
4.Penipuan
5.Carding
6.Perjudian
 
—Layanan internet……

1.E-mail (Electronic Mail)
2.FTP (file transfer protocol)
3.Telnet (telecomunication network)
4.Newsgroup
5.Gopher
6.Milis (mailing list)
7.Chatting
8.VoP (voice over internet protocol)
—
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Labels

Analisis Kasus Antropobiologi Antropologi Budaya Asesmen Kepribadian Asesmen: Observasi dan Wawancara Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Cerita Rakyat Cerpen Filosofi Filsafat Grafologi HRD Ilmu Kesehatan Mental & Psikopatologi Intervensi Dasar Kelompok dan Komunitas Intervensi Dasar Organisasi Jurnal Ketamansiswaan Kewarganegaraan Kode Etik Psikologi Kuliner Metode Penelitian Kualitatif Metode Penelitian Kuantitatif Parenting Pend. Agama Islam Pendidikan Pancasila Pengembangan Skala Psikologi Pengembangan Tes Prestasi Penyakit Kulit Perilaku Konsumen Psikodiagnostika Psikologi Psikologi Abnormal Psikologi Analitis Psikologi Eksperimen Psikologi Emosi Psikologi Faal Psikologi Forensik Psikologi Industri dan Organisasi Psikologi Kepemimpinan Psikologi Kepribadian Psikologi Kesukaran Belajar Psikologi Kewirausahaan Psikologi Klinis Psikologi Kognitif Psikologi Komunikasi Psikologi Konseling Psikologi Orhius Psikologi Pelatihan dan Pengembangan Psikologi Pendidikan Psikologi Perkembangan Psikologi Seni Psikologi Sosial Psikologi Teknologi dan Informasi Psikologi Transpersonal Psikologi Ulayat (Indigenous Psychology) Psikologi Umum Psikometri Puisi Review Jurnal Sosiologi Statistika Statistika Inferensial Tes Psikologi Tips & Trik Umum

Popular Posts

  • Modul Interpretasi-Tes Grafis (DAP-BAUM-HTP-Wartegg)
  • KRIMINALITAS
  • Pandangan Teoritis Tentang Tingkah Laku Abnormal
  • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask
    Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask
  • ILMU KALAM

Time

Translate

About me

Anak pertama dari empat bersaudara, dilahirkan 23 tahun lalu di Kabupaten Polewali Mandar pada tanggal 04 April 1996 yang akhirnya memiliki dua suku yaitu suku Mandar dan Jawa.

Punya hobi bermain game online, menulis dan memasak. Suka traveling walau kantong tipis. Bercita-cita jadi dokter hewan dan psikolog. Si Pleghmatis yang kadang Koleris. Si cuek yang menyukai romantis. Si tukang nangis yang suka marah-marah. Si nekat yang takut sendirian. Si cadel yang susah untuk ngucapin p atau f dan juga r.

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum da...
  • ►  2019 (251)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Maret (8)
    • ►  Februari (241)
Diberdayakan oleh Blogger.
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by BeautyTemplates