facebook twitter instagram

~ Beartopia ~

  • Home
  • Psychology
  • Joylada
    • Sweat & Tears
    • Freerunning Estafet
    • Pangeran Kuda Putih VS Mr. Cat

PROSOSIAL DAN ALTRUISME


A.    Pengertian
Prososial dan altruisme merupakan tindakan untuk menolong orang lain. Menurut Sears, Freedman, & Peplau (dalam Muhammad Anas, 2007) menjelaskan bahwa altruisme ialah tindakan suka rela yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan apapun. Apakah suatu tindakan altruistik atau tidak tergantung pada niat atau tujuan si penolong.
Perilaku prososial mencakup kategori yang lebih luas, meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain,tanpa memperdulikan motif-motif si penolong. Beberapa jenis perilaku prososial bukan merupakan perilaku altruistik. Prilaku prososial berkisar dari tindakan altruistik yang tidak mementingkan diri sendiri atau tanpa pamrih sampai tindakan yang menolong yang sepenuhnya dimotivasi oleh kepentinan diri sendiri  (Sears, Freedman, & Peplau, dalam Muhammad Anas, 2007).
Prilaku prososial pada umumnya bermanfaat bagi masyarakat, menunjukan tanggung jawab sosial dan keadilan sosial. Norma tanggung jawab sosial menentukan bahwa seharusnya kita membantu orang lain yang bergantung pada kita. Norma timbalbalik menyatakan bahwa kita harus menolong orang yang menolong kita. Menurut penelitian Berkowitz dan wilke & Lanzetta (dalam Muhammad Anas, 2007) menunjukan bahwa orang lebih cinderung membantu orang yang telah membantu mereka.
Manusia umumnya membentuk pula norma keadilan sosial, yang memuat aturan tentang keadilan da pembagian sumber daya secara adil. Salah satu prinsip keadilan ialah kesamaan, yakni orang yang mengambil andil yang sama harus pula menerima ganjaran yang sama pula.
Tanggung jawab sosial, timbal-balikan, dan keadilan sosial merupakn hal yang umum dalam masyarakat. Norma-norma tersebut merupakan dasar budaya prilaku prososial. Melalui proses sosialisasi, individu mempelajari aturan ini dan menampilkan perilaku sesuai dengan pedoman prilaku prososial.

B.     Belajar Menolong
Dalam masa perkembangan, anak mempelajari norma masyarakat tentang tindakan menolong. Di rumah, sekolah, dan dalam masyaraka, orang dewasa mengajarkan pada anak bahwa mereka harus menolong orang lain. Orang belajar menolong melalui penguatan, efek ganjaran dan hukuman terhadap tindakan menolong, dan peniruan, meniru orang lain yang memberikan pertolongan.
Menurut Sears, Feedman & Peplau (dalam Muhammad Anas, 2007), anak akan membantu dan memberikan lebih banyak bila mereka mendapat ganjaran karena melakukan perilaku prososial. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rushton & Campbell (dalam Muhammad Anas, 2007), menemukan bahwa peniruan juga merupakan penyebab kuat timbulnya perilaku prososial pada oraang dewasa.
Orang belajar norma-norma tentang siapa yang perlu ditolong, dan mengembangkan kebiasaan untuk menolong. Perilaku prososial sejak masa kanak-kanak sangat tergantung pada ganjaran eksternal dan persetujuan sosial . bagi orang dewasa, menolong dapat menjadi nilai yang diinternalisasi, tidak tergantung pada dukungan eksternal. Tindakannya hanya sesuai dengan standar kemampuan diri dan akan merasa senag bilamelakukan tindakan yang baik.

C.    Memutuskan Untuk Menolong
      Kecenderungan biologis, norma sosial dan pengalaman belajar merupakan hal yang umum yang dapat mempengaruhi pemberiaan pertolongan. Tetapi orang yang paling altruis sekalipun tidak akan selalu menawarkan bantuan. Dalam kondisi tertentu, keputusan untuk menolong melibatkan proses kognisi sosial kompleks dan pengambilan keputusan yang rasional. Menurut M.Anas (dalam Muhammad Anas, 2007) ada empat langkah seseorang dalam mengambil keputusan. Pertama, orang harus memperhatikan bahwa sesuatu sedang berlangsung dan memutuskan apakah pertolongan dibutuhkan atau tidak. Kedua, bila pertolongan dibutuhkan, mungkin orang itu masih mempertimbangkan sejauh mana tanggungjawabnya untuk bertindak. Ketiga,  orang mungkin menilai ganjaran dan kerugian bila membantu atau tidak. Keempat, orang harus memutuskan jenis pertolongan apa yang dibutuhkan, dan bagaimana memberikannya.
1.      Mempersepsi Kebutuhan
Interprestasi atau defenisi tentang situasi merupakan faktor yang penting untuk memastikan apakah kita akan memberikan pertolongan atau tidak. Menurut Shotland dan Huston (Sears, Freedman, & Peplau, dalam Muhammad Anas, 2007) ada lima karakteristik utamayang mengarahkan persepsibahwa suatu kejadian merupakan keadaan darurat, yaitu:
a.       Sesuatu terjadi secara tiba-tiba dan tak terduga
b.      Ada ancaman bahaya yang jelas terhadap korban.
c.       Tindakan yang membahayakan korban cinderungmeningkat bila tidak ada campur tangan seseorang.
d.      Korban tidak berdaya da membutuhkan bantuan orang lain.
e.       Ada beberapa kemungkinan cara camputr tangan yang efektif.
2.      Memikul Tanggung Jawab
Berdasarkan hasil eksperimen yang dilakukan, hanya 20 persen orang yang ikut campur tangan dengan mengejar pencuri dan menuntut penjelasan. Namun, ketika sebuah tanggung jawab telah ditetapkan, maka 95 persen orang akan bertindak menghalangi pencuri. Orang yang merasa mempunyai tanggung jawab pribadi akan lebih cenderung melakukan tindakan prososial.
3.      kompetensi
Faktor lain yang mempengaruhi tanggung jawab yang dipersepsi adalah kompetensi. Kita akan merasa lebih mempunyai kewajiban yang lebih besar untuk turut campur tangan dalm situasi dimana kita mempunyai kecakapan untuk membantu secara efektif. Seseorang yang mempunyai pengalaman atau pernah memperoleh latihan formal yang berkaitan dengan  sesuatu, maka 90 persen orang tersebut akan bertindak untuk menolong, sedangkan yang tidak pernah mengalaminya maka hanya 58 persen yang akan berusah untuk menolong.
4.      Mempertimbangkan Untung dan Rugi
Menurut teori insentif, orang selalu mempertimbangkan kemungkinan untung dan rugi suatu tindakan tertentu, termaksuk dalam menolong orang lain. Oleh karena itu, orang akan bertindak secara prososial bila yang dipersepsi berupa keuntungan (ganjaran kerugian) karena memberikan pertolongan melebihi keuntungan yang diperoleh karena tidak menolong.
Kerugian bila tidak memberikan pertolongan , diantaranya: akan timbul rasa bersalah karena tidak menolong, orang lain menganggap kita bukan penolong dan akan merasa tidak enak karena mempunyai pandangan buruk tentang diri pribadi kita, atau bahkan merasa bahwa kita bukanlah orang baik akibat ketidakmapuan dalam menolong orang lain. Kesemua faktor ini akan sangat mempengaruhi orang-orang dalam memutuskan memberikan pertolongan atau tidak.
Di lain pihak, keuntungan yang diperoleh karena memberikan pertlongan, merupakan insentif positif. Semakin baik persepsi tentang manfaat tindakan yang dilakukan, maka semakin besar pula kecenderungan untuk membantu. Semakin pantas  seseorang untuk ditolong, semakin besar pertolongan yang diberikan, dan semakin besar kesediaan untuk menolong orang tersebut.

D.    Faktor yang Berkaitan Prososial
Unsur terakhir dalam keputusan untuk menolong adalah jenis bantuan apa yang akan diberikan,dan kemudian melakukan tindakan. Sesorang yang sedang menolong akan melakukan  tindakan langsung atau  mencari bantuan dari orang lain tergantung pada berbagai faktor, seperti misalnya jenis bantuan yang dibutuhkan dan keahlian atau ukuran tubuh si penolong. Dalam keadaan darurat, seringkali keputusan diambil dalm keadaan tertekan, terdesak, bahkan kadang-kadang membahayakan diri. Hal yang sangat disayangkan, tidak jarang penolong yang berniat baik tidak bisa memberikan bantuan atau bahkan melakukan tindakan yang salah.
Analisis lain tetang berbagai unsur dalam pengambilan keputusan untuk menolong menyoroti sejumlah alasan orang dalam memberikan pertolongan. Mungkin mereka tidak memperhatikan timbulnya masalah, atau salah menginterprestasikan situasi sebagai masalah yang sepele. Mereka mungkin menyadari tentang adanya suatu kebutuhan, tetapi tidak merasa mempunyai tanggung jawab pribadi untuk menolong. Mereka yakin bahwa kerugian yang timbul karena memberikan pertolongan terlalu besar. Atau bahkan mereka mungkin ingin menolong, tetapi tidak mampu, dan bahkan ragu-ragu, dan terjebak dalam kebimbangan.
1.      Karakteristik Situasi
a)      Bystanders
Faktor utama utama dan pertama dalam perilaku menolong ialah adanya orang lain yang kebetulan berada bersama kita ditempat kejadian (Bystanders). Semakin banyak orang lain, semakin kecil kecenderungan untuk menolong. Sebalikna orang yang sendirian cinderung lebih bersedia menolong. Dalam rangka mencari penjelasan mengapa orang di tempat ramai cinderung kurang mau menolong di banding dengan orang di tempat sepi. Menurut La Vine (dalam Muhammad Anas, 2007) menjelaskan bahwa gejala inisebagai kejenuhan mental yang lebih banyak dialami penduduk kota besar daripada penduduk desa kecil.
b)      Menolong, jika orang lain juga menolong
Sesuai dengan prinsip timbal balik dalam teori norma sosial, yang menjelaskan bahwa seseorang akan lebih cinderung menolong orang lain jika adanya seseorang yang menolong orang lorang tersebut.
c)      Desakan Waktu
Biasanya orang yang sibuk dan tergesa-gesa cinderung untuk tidak menolong, sedangkan orang yang santai lebih besar kemungkinannya untuk memberi pertolongan kepada yang memerlukannya.
d)     Kemampuan yang dimiliki
Kalau orang merasa mampu, ia akan cinderung menolong, sedangkan kalau rtidak merasa mampu ia tidak akan membantu.
2.      Karakteristik Penolong
a)      Perasaan
Perasaan dalam diri seseorang dapat mempengaruhi perilaku menolong. Kurang adaanya konsistensi dalam hal pengaruh perasaan yang negatif terhadapap prilaku menolong akan mengakibatkan anak-anak menjadi terhambat dan pada orang dewasa mendorong perilakumenolong. Menurut Cialdini dan Kenrick (dalam Muhammad Anas, 2007), hal ini disebabkan oleh orang dewasa sudah dapat merasakan manfaat dari perilaku menolongdan mengurangi perasaan negatif, sedangkan pada anak-anak belum ada kemampuan seperti itu. Akan tetapi, jika perasaaan negatif itu terlalu mendalam, dampaknya pada orang dewasa adalah menghambat perilaku menolong. Orang yang depresi akut seperti itu biasanya terlalu tercekam dengan dirinya sendiri sehingga tidak mau memikirkan orang lain (Sear, Feedman & Peplau, dalam Muhammad Anas, 2007)
Sebaliknya, perasaan yang positif menunjukan hubungan yang lebih positif menunmjukan hubungan yang lebih konsisiten dengan perilaku menolong. Hal ini berlaku baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Walaupun demikian, emosi positifpun kadang-kadang tidak memicu perilaku menolong. Oleh karena itu, emosi positif masih perlu dikaitkan lagi dengan situasi di luar diri agar dapat memicu perilaku menolong lain (Sear, Feedman & Peplau, dalam Muhammad Anas, 2007) yaitu:
1)      Kondisi tidak terlalu bahaya (Rosenhan, Salovey & Hargis, dalam Muhammad Anas, 2007)
2)      Lebih banyak manfaat daripada kerugiannya (Cunningham, Steinberg & Grev, dalam Muhammad Anas, 2007)
3)      Ada yang mendorong untuk berperilaku menolong (Cunningham, dkk. dalam Muhammad Anas, 2007)
b)      Faktor Sifat (trait)
Kemungkinan sikap menolong ialah karena adanya sifat atau trait menolong (agentic disposition) yang sudah tertanam dalam kepribadian orang yang bersangkutan. Teori ini kurang mendapat dukungan dalam psikologi sosial, tetapi cukup banyak bukti empiris yang dikemukakan dikalangan psikologi kepribadian. Menurut Hampson (Sarwono, dalam Muhammad Anas, 2007) berargumentasi bahwa selalu ada orang yang berbeda dari orang lainnya dalam hal perilaku menolong, yang dapat dibuktikan dan dilihat oleh kerabat dan teman-teman dekatnya. Bierhoff, Klien, dan Kramp (dalam Muhammad Anas, 2007), menyatakan bahwa orang-orang yang perasa dan berempati tinggi dengan sendirinya lebih memikirkan orang lain dan karenanya lebih menolong. Demikian juga orang yang mempunyai pemantauan diri (self monitoring) yang tinggi akan cinderung lebih menolong karena dengan menjadi penolong ia mendapat penghargaan sosial yang tinggi. Kepribadian dalam hal jenis kelamin juga berpengaruh pada perilaku menolong. Laki-laki lebih penolong dalam situasi gawat darurat, sedangkan perempuan lebih penolong dalam situasi yang lebih aman.
c)      Agama
Faktor agama juga dapat berpengaruh perilaku menolong. Menurut Gallup (dalam Muhammad Anas, 2007)  yang didukung oleh penelitian lain menyatakan bahwa kadar keagamaan dapat meramalkan perilaku menolong untuk kegiatan berjangka panjang. Akan tetapi, menurut penelitian Sappington dan Baker (dalam Muhammad Anas, 2007) yang berpengaruh pada perilaku menolong bukanlah seberapa kuatnya ketaatan beragama itu sendiri, melainkan bagaimana kepercayaan atau keyakinan orang yang bersangkutan tentang pentingnya menolong yang lemah seperti yang diajarkan oleh agamanya.
d)      Tahap Moral
Menurut Boedihargo (Sarwono, dalam Muhammad Anas, 2007) Walaupun secara teoritis ada hubungan antara tahapan perkembangan moral dan perilaku menolong, namun dalam penelitian, hal ini belum ditemukan bukti-bukti yang mendukungnya.
e)      Orientasi Seksual
 Menurut Salais & Fischer  (Sarwono, dalam Muhammad Anas, 2007), Homoseksual ternyata lebih penolong daripada heteroseksual.
f)        Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Goldberg (Sarwono, dalam Muhammad Anas, 2007) di Boston dan Cambridge, dari data penyumbang diperoleh kesimpulan bahwa laki-laki lebih banyak menyumbang (menolong) daripada perempuan.
3.      Karakteristik yang Ditolong
a)      Jenis Kelamin
Menurut peneliatan di Amerika  Serikat (Sears, Feedman & Peplau, dalam Muhammad Anas, 2007), wanita lebih banyak ditolong daripada laki-laki. Labih khusus lagi, kalau penolongnya laki-laki, maka wanitalah yang lebih banyak ditolong. Akan tetapi kalau penolongnya wanita, maka laki-laki dan wanita sama banyak mendapat pertolongan.
b)      Kesamaan
Menurut sarwono (dalam Muhammad Anas, 2007) kesamaan antara penolong dan yang ditolong meningkatkan perilaku menolong. Seseorang yang memiliki banyak kesamaan dengan si penolong, akan lebih banyak kemungkinan untuk ditolong dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki kesamaan sama sekali.
c)      Tanggung jawab korban
Kalau ada orang terkapar dan butuh pertolongan, orang akan lebih cinderung memberi pertolongan kalau korban berpakian rapi dan luka-luka daripada kalau korban berbaju lusuh dan berbau alkhol, karena orang akan menganggapnya sebagai kesalahan sendiri (atribusi internal) sehingga tidak perlu diberi pertolongan.
d)      Menarik
Faktor pada diri yang ditolong juga besar pengaruhnya pada perilaku menolong. Perilaku menolong tersebut dipengaruhi seberapa besar rasa tertarik penolong terhadap yang ditolong. Semakin suka penolong kepada yang ditolong, semakin besar kecenderungannya untuk ditolong.
E.     Meningkatkan Perilaku Menolong
Meningkatkan perilaku menolong secara teoritis juga dapat diusahakan walaupun dalam kenyataannya belum ditemukan suatu cara yang paling ampuh. Menurut Muhammad Anas (dalam Muhammad Anas, 2007) secara umum perilaku menolong dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu:
1)      Menguranngi Kendala
a)      Mengurangi keraguan atau ketidakjelasan (ambiguitas) dan meningkatkan tanggung jawab
b)      Meningkatkan rasa tanggung jawab dapat dipancing dengan ajakan secara pribadi. Seseorang biasanya dapat melakukan perilaku menolong dan sekaligus merasa bertanggung jawab untuk melakukan perilaku tersebutjika mereka diminta/diajak secara personal.
c)      Meningkatkan rasa bersalah, melalui mengingatkan tentang kesalahannya, sehingga orang tersebut lebih mau menolong untuk menebus kesalahannya.
d)     Memanipulasi gengsi atau harga diri seseorang.
2)      Memasyarakatkan Altruisme
Menurut Sarwono (dalam Muhammad Anas, 2007) yang menutip beberapa pendapat ahli, ada beberapa cara untuk memasyarakatkan altruisme, yaitu:
a)      Mengajarkan inklusi moral, yaitu bahwa orang lain adalah golongan kita juga. Namun dilain pihak perlu diupayakan menghindari eksklusi moral karena merupakan sumber diskriminasi, bahkan memberi peluang untuk membunuh (Tyler & Lind, dalam Muhammad Anas, 2007). Altruisme dapat diajarkan pada lingkungan keluarga, sekolah dan kalngan teman (Satub, dalam Muhammad Anas, 2007), dan lewat televisi (Hearold, dalam Muhammad Anas, 2007).
b)      Memberikan atribusi “menolong” pada perilaku altruis seseorang yang membantu orang lain, kemudian diberi ucapan “terimah kasih atas pertolongan Anda”, hal ini akan membuat penolong merasa bahwa perilakunya benar-benar telah membantu orang lain, sehingga cinderung mengulanginya pada kesempatan lain. Kepuasan semacam ini tidak terdapat jika perilaki menolong itu diberi imbalan uang (Batson dkk, dalam Muhammad Anas, 2007).
c)      Memberi pelajaran tentang altruisme. Orang yang tahu bahwa keberadaan orang lain akan menghambat perilaku menolong, akan tetapi menolong walaupun ditempat itu banyak orang lain. Sebaliknya, orang yang tidak tahu akan berlalu begitu saja (Beaman dkk,dalam Muhammad Anas, 2007).

                                                                                           

DAFTAR PUSTAKA

Anas, Muhammad. 2007. Pengantar Psikologi Sosial. Badan Penerbit UNM. Makassar.

http://abdulhasim00.blogspot.co.id/2012/11/prososial-dan-altruisme.html

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

PERILAKU PROSOSIAL 
Baron & Byrne (2003) menjelaskan perilaku prososial sebagai segala tindakan apa pun yang menguntungkan orang lain. Secara umum, istilah ini diaplikasikan pada tindakan yang tidak menyediakan keuntungan langsung pada orang yang melakukan tindakan tersebut, dan bahkan mungkin mengandung derajat resiko tertentu. Dayakisni & Yuniardi (2004) mendefinisikan perilaku prososial merupakan kesediaan orang-orang untuk membantu atau menolong orang lain yang ada dalam kondisi distress (menderita) atau mengalami kesulitan. Faturochman (2006) juga menyatakan perilaku prososial sebagai perilaku yang memiliki konsekuensi positif pada orang lain.
Staub (Basti, 2007) mendefinisikan perilaku prososial sebagai suatu perilaku yang memiliki konsekuensi sosial positif secara fisik maupun secara psikologis, dilakukan secara sukarela dan menguntungkan orang lain. Wrightsman dan Daux (Basti, 2007) mempertegas pendapat ini dengan mengatakan bahwa perilaku prososial merupakan tindakan yang mempunyai akibat sosial secara positif, yang ditujukan bagi kesejahteraan orang lain baik secara fisik maupun secara psikologis, dan perilaku tersebut merupakan perilaku yang lebih banyak memberikan keuntungan pada orang lain daripada dirinya sendiri.
Sears, Freedman, dan Peplau (1985) menjelaskan perilaku prososial meliputi segala bentuk tindakan yang dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperdulikan motif-motif si penolong. Menurut Rushton (Sears, Freedman, dan Peplau, 1985) perilaku prososial berkisar dari tindakan altruisme yang tidak mementingkan diri sendiri atau tanpa pamrih sampai tindakan menolong yang sepenuhnya dimotivasi oleh kepentingan diri sendiri.
William (Dayakisni & Hudaniah, 2006) membatasi perilaku prososial sebagai perilaku yang memiliki intensi untuk mengubah keadaan fisik atau psikologis penerima bantuan dari kurang baik menjadi lebih baik, dalam arti secara material maupun psikologis. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa perilaku prososial bertujuan untuk membantu meningkatkan well being orang lain. Dayakisni & Hudaniah, (2006) menyimpulkan perilaku prososial adalah segala bentuk perilaku yang memberikan konsekuensi positif bagi si penerima, baik dalam bentuk materi, fisik ataupun psikologis tetapi tidak memiliki keuntungan yang jelas bagi pemiliknya. Bentuk yang paling jelas dari prososial adalah perilaku menolong (Faturochman, 2006).
Brigham (Dayakisni & Hudaniah, 2006) menyatakan bahwa perilaku prososial mempunyai maksud untuk menyokong kesejahteraan orang lain, dengan demikian kedermawanan, persahabatan, kerjasama, menolong, menyelamatkan, dan pengorbanan merupakan bentuk-bentuk perilaku prososial. Menurut Staub (Dayakisni & Hudaniah, 2006) ada tiga indikator yang menjadi tindakan prososial, yaitu:
a. Tindakan itu berakhir pada dirinya dan tidak menuntut keuntungan pada pihak pelaku.
b. Tindakan itu dilahirkan secara sukarela.
c. Tindakan itu menghasilkan kebaikan.
Tahap-tahap dalam Perilaku Prososial
Ketika seseorang memberi pertolongan, maka hal itu didahului oleh adanya proses psikologis hingga pada keputusan menolong. Latane & Darley (Baron & Byrne, 2003; Faturochman, 2006) menemukan bahwa respons individu dalam situasi darurat meliputi lima langkah penting, yang dapat menimbulkan perilaku prososial atau tindakan berdiam diri saja. Tahap-tahap yang telah teruji bebeapa kali dan sampai saat ini masih banyak digunakan meliputi:
a. Menyadari adanya keadaan darurat, atau tahap perhatian.
Untuk sampai pada perhatian terkadang sering terganggu oleh adanya hal-hal lain seperti kesibukan, ketergesaan, mendesaknya kepentingan lain dan sebagainya (Faturochman, 2006).
b. Menginterpretasikan keadaan sebagai keadaan darurat.
Bila pemerhati menginterpretasi suatu kejadian sebagai sesuatu yang membuat orang membutuhkan pertolongan, maka kemungkinan besar akan diinterpretasikan sebagai korban yang perlu pertolongan.
c. Mengasumsikan bahwa adalah tanggung jawabnya untuk menolong.
Ketika individu memberi perhatian kepada beberapa kejadian eksternal dan menginterpretasikannya sebagai suatu situasi darurat, perilaku prososial akan dilakukan hanya jika orang tersebut mengambil tanggung jawab untuk menolong (Baron & Byrne, 2003). Apabila tidak muncul asumsi ini, maka korban akan dibiarkan saja, tanpa memberikan pertolongan (Faturochman, 2006). Baumeister dkk. (Baron & Byrne, 2003) menemukan ketika tanggung jawab tidak jelas, orang cenderung mengasumsikan bahwa siapa pun dengan peran pemimpin seharusnya bertanggung jawab.
d. Mengetahui apa yang harus dilakukan.
Bahkan individu yang sudah mengasumsikan adanya tanggung jawab, tidak ada hal berarti yang dapat dilakukan kecuali orang tersebut tahu bagaimana ia dapat menolong.
e. Mengambil keputusan untuk menolong.
Meskipun sudah sampai ke tahap dimana individu merasa bertanggung jawab memberi pertolongan pada korban, masih ada kemungkinan ia memutuskan tidak memberi pertolongan. Berbagai kekhawatiran bisa timbul yang menghambat terlaksananya pemberian pertolongan (Faturochman, 2006). Pertolongan pada tahap akhir ini dapat dihambat oleh rasa takut (sering kali merupakan rasa takut yang realistis) terhadap adanya konsekuensi negatif yang potensial (Baron & Byrne, 2003).
Menurut Staub (Dayakisni & Hudaniah, 2006) terdapat beberapa faktor yang mendasari seseorang untuk bertindak prososial, yaitu;
a. Self-gain: harapan seseorang untuk memperoleh atau menghindari kehilangan sesuatu, misalnya ingin mendapatkan pengakuan, pujian atau takut dikucilkan.
b. Personal values and norms: adanya nilai-nilai dan norma sosial yang diinternalisasikan oleh individu selama mengalami sosialisasi dan sebagian nilai-nilai serta norma tersebut berkaitan dengan tindakan prososial, seperti berkewajiban menegakkan kebenaran dan keadilan serta adanya norma timbal balik.
c. Empathy: kemampuan seseorang untuk ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang lain.
Menurut Sears, Freedman & Peplau (1985) menerangkan bahwa perilaku prososial dipengaruhi oleh karakteristik situasi, karakteristik penolong, dan karakteristik orang yang membutuhkan pertolongan.
a. Situasi; meliputi kehadiran orang lain, sifat lingkungan, fisik, dan tekanan keterbatasan waktu.
b. Penolong; meliputi karakteristik kepribadian, suasana hati, distres diri dan rasa empatik.
c. Orang yang membutuhkan pertolongan; meliputi adanya kecenderungan untuk menolong orang yang kita sukai, dan menolong orang yang pantas ditolong.
Sedangkan menurut Faturochman (2006) faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian pertolongan adalah:
a. Situasi sosial.
Adanya korelasi negatif antara pemberian pertolongan dengan jumlah pemerhati, makin banyak orang yang melihat suatu kejadian yang memerlukan pertolongan makin kecil munculnya dorongan untuk menolong.
b. Biaya menolong.
Dengan keputusan memberi pertolongan berarti akan ada cost tertentu yang harus dikeluarkan untuk menolong. Pengeluaran untuk menolong bisa berupa materi (biaya, barang), tetapi yang lebih sering adalah pengeluaran psikologis (memberi perhatian, ikut sedih dan lainnya).
c. Karakteristik orang-orang yang terlibat.
Kesamaan antara penolong dengan korban. Makin banyak kesamaan antara kedua belah pihak, makin besar peluang untuk munculnya pemberian pertolongan. Ada kecenderungan orang lebih senang memberi pertolongan pada orang yang disukai. Di samping hubungan yang tidak langsung tersebut, ada kecenderungan bahwa orang lebih suka memberi pertolongan pada orang yang memiliki daya tarik tinggi karena ada tujuan tertentu di balik pemberian pertolongan tersebut.
d. Mediator internal.
Mood. Ada kecenderungan bahwa orang yang baru melihat kesedihan lebih sedikit memberi bantuan daripada orang yang habis melihat hal-hal yang menyenangkan. Penelitian yang dilakukan Myers (Faturochman, 2006) menunjukkan adanya pengaruh mood terhadap perilaku membantu. Hal itu sesuai dengan penjelasan Forgas maupun Isen & Baron (Baron & Byrne, 2003), disebabkan adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara afek (suasana hati kita saat ini) dan kognisi (cara kita memproses, menyimpan, mengingat, dan menggunakan informasi sosial).
Empati. Ada hubungan antara besarnya empati dengan kecenderungan menolong. Hubungan antara empati dengan perilaku menolong secara konsisten ditemukan pada semua kelompok umur.
Arousal. Ketika melihat suatu kejadian yang membutuhkan pertolongan orang dihadapkan pada dilema menolong atau tidak menolong. Salah satu pertimbangan yang menjadi pertimbangan untuk menolong atau tidak menolong adalah biaya untuk menolong dibanding biaya tidak menolong. Pertimbangan ini meliputi situasi saat terjadinya peristiwa, karakteristik orang-orang yang ada di sekitar, karakteristik korban, dan kedekatan hubungan antar korban dengan penolong.
e. Latar belakang kepribadian.
Individu yang mempunyai orientasi sosial yang tinggi cenderung lebih mudah memberi pertolongan, demikian juga orang yang memiliki tanggung jawab sosial tinggi.

http://infopsikologiku.blogspot.co.id/2008/09/perilaku-prososial.html

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Secara garis besar ada dua hal yang mempengaruhi tindakan perilaku prososial, yakni:
1.      Pengaruh faktor situasional
·         Bystander (kehadiran orang lain)
Kehadiran orang lain atau Bystander diartikan sebagai orang-orang yang berada di sekitar  tempat kejadian mempunyai peran yang sangat dalam mempengaruhi seseorang saat memutuskan antara menolong atau tidak ketika dihadapkan pada keadaan darurat (Mashoedi, 2009). Dalam beberapa penelitian mendukung dari pernyataan diatas, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Darley dan Latane, dan selanjutnya Latane dan Rodin (dalam Dayaskini,  2009) menunjukkan hasil bahwa orang yang melihat kejadian darurat akan lebih suka memberi  pertolongan  apabila mereka sendirian daripada bersama orang lain.
·         Atribusi terhadap korban
Menurut Weiner (dalam Mashoedi, 2009) seseorang akan termotivasi untuk memberi bantuan pada orang lain bila ia mengasumsikan bahwa ketidakberuntungan korban adalah diluar kendali. Dalam beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor kausal penting adalah kontrol personal: kita lebih cenderung membantu seseorang jika kita percaya bahwa penyebab masalah itu berada di luar kontrol orang tersebut,  atribusi juga mempengaruhi reaksi emosional kita terhadap orang yang membutuhkan  (Taylor, 2009). Sebagai contoh, misalnya seseorang akan terdorong memberi bantuan secara materi kepada korban bencana alam, daripada membantu orang yang kalah dalam berjudi.
·         Nilai-nilai dan norma sosial
Menurut Staub (dalam Dayaskini, 2009), faktor yang mendasari seseorang untuk bertindak prososial adalah adanya nilai-nilai dan norma yang diinternalisasikan oleh individu selama mengalami sosialisasi dan sebagian nilai-nilai serta norma tersebut berkaitan dengan tindakan prososial, misalnya berkewajiban menegakkan kebenaran dan keadilan serta adanya norma timbal balik. Nilai dan norma yang tersebut dapat diperoleh dari melalui lingkungan sosial, termasuk halnya melalui tayangan tontonan tayangan televisi.
Masih Menurut Staub (dalam Dayaskini, 2009) terdapat beberapa faktor yang mendasari seseorang untuk bertindak prososial, yaitu:
1.      Self Gain, Diartikan sebagai harapan seseorang untuk mendapatkan atau menghindari kehilangan sesuatu, misalnya ingin mendapatkan pengakuan, pujian atau takut dikucilkan.
2.      Personal Values and Norms, Yaitu adanya nilai-nilai dan norma sosial yang di internalisasikan oleh individu selama mengalami sosialisasi dan sebagian nilai-nilai serta norma tersebut berkaitan dengan tindakan prososial, seperti berkewajiban menegakkan kebenaran dan keadilan serta adanya norma timbal balik.
3.      Empathy, adalah kemampuan untuk ikut merasakan perasaan atau pengalaman orang lain. Kemampuan untuk empati ini erat kaitannya dengan pengambilalihan peran. Jadi prasyarat untuk melakukan empati, individu harus memiliki kemampuan untuk melakukan pengambilan keputusan.
·         Model-model prososial
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa menurut teori belajar sosial, bahwa tingkah laku prososial dapat mendorong seseorang untuk memunculkan tindakan menolong kepada orang lain.  Disamping model prososial dalam dunia nyata, model-model yang menolong dalam media juga berkontribusi pada pembentukan norma sosial  yang mendukung tingkah laku prososial (Baron & Byrne, 2005).
1.      Pengaruh faktor dari dalam diri
·         Mood (Suasana Hati)
Perilaku menolong  dipengaruhi oleh suasana hati. Orang yang suasana hatinya gembira akan lebih suka menolong, sedangkan dalam suasana hati sedih, orang akan kurang suka memberikan pertolongan (Berkowitz & William  dalam Dayaskini, 2009). Amato (dalam Baron & Byrne, 2005) menambahkan ketika anda berada dalam suasana hati yang buruk serta anda sedang memusatkan perhatian pada diri sendiri dan pada masalah-masalah anda sendiri, anda lebih cenderung untuk tidak menolong seseorang yang membutuhkan. dengan kata lain, emosi positif akan meningkatkan tingkah laku menolong, sedangkan emosi negatif –misalnya, sedang sedih—  kemungkinan untuk menolong orang lain sangat kecil.
·         Gender
Peran gender juga mempengaruhi  seseorang dalam  kecenderungan  untuk menolong. Peranan gender  terhadap kecenderungan seseorang untuk menolong sangat bergantung pada situasi dan bentuk pertolongan yang dibutuhkan (Mashoedi, 2009).  Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pria lebih mungkin daripada wanita untuk menawarkan bantuan dalam situasi darurat yang memerlukan pertolongan yang berbahaya (Dayaskini, 2009). Akan tetapi, wanita mampu mengekpresikan tingkat empati yang lebih tinggi daripada pria, hal ini disebabkan baik oleh perbedaan genetis atau perbedaan pengalaman sosialisasi (Trobst, Collins, & Embree, dalam Baron & Byrne, 2005). wanita juga cenderung lebih merawat anak-anaknya daripada pria dan merawat orang tua dalam kehidupan sehari-hari (Michener & Delamater, dalam Dayaskini, 2009).
Daftar Pustaka: https://jerryderiskanamanya.wordpress.com/2015/01/31/daftar-pustaka-prilaku-prososial/


https://jerryderiskanamanya.wordpress.com/2015/01/31/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-perilaku-prososial/

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

Labels

Analisis Kasus Antropobiologi Antropologi Budaya Asesmen Kepribadian Asesmen: Observasi dan Wawancara Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Cerita Rakyat Cerpen Filosofi Filsafat Grafologi HRD Ilmu Kesehatan Mental & Psikopatologi Intervensi Dasar Kelompok dan Komunitas Intervensi Dasar Organisasi Jurnal Ketamansiswaan Kewarganegaraan Kode Etik Psikologi Kuliner Metode Penelitian Kualitatif Metode Penelitian Kuantitatif Parenting Pend. Agama Islam Pendidikan Pancasila Pengembangan Skala Psikologi Pengembangan Tes Prestasi Penyakit Kulit Perilaku Konsumen Psikodiagnostika Psikologi Psikologi Abnormal Psikologi Analitis Psikologi Eksperimen Psikologi Emosi Psikologi Faal Psikologi Forensik Psikologi Industri dan Organisasi Psikologi Kepemimpinan Psikologi Kepribadian Psikologi Kesukaran Belajar Psikologi Kewirausahaan Psikologi Klinis Psikologi Kognitif Psikologi Komunikasi Psikologi Konseling Psikologi Orhius Psikologi Pelatihan dan Pengembangan Psikologi Pendidikan Psikologi Perkembangan Psikologi Seni Psikologi Sosial Psikologi Teknologi dan Informasi Psikologi Transpersonal Psikologi Ulayat (Indigenous Psychology) Psikologi Umum Psikometri Puisi Review Jurnal Sosiologi Statistika Statistika Inferensial Tes Psikologi Tips & Trik Umum

Popular Posts

  • Modul Interpretasi-Tes Grafis (DAP-BAUM-HTP-Wartegg)
  • KRIMINALITAS
  • Pandangan Teoritis Tentang Tingkah Laku Abnormal
  • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask
    Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask
  • ILMU KALAM

Time

Translate

About me

Anak pertama dari empat bersaudara, dilahirkan 23 tahun lalu di Kabupaten Polewali Mandar pada tanggal 04 April 1996 yang akhirnya memiliki dua suku yaitu suku Mandar dan Jawa.

Punya hobi bermain game online, menulis dan memasak. Suka traveling walau kantong tipis. Bercita-cita jadi dokter hewan dan psikolog. Si Pleghmatis yang kadang Koleris. Si cuek yang menyukai romantis. Si tukang nangis yang suka marah-marah. Si nekat yang takut sendirian. Si cadel yang susah untuk ngucapin p atau f dan juga r.

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum da...
  • ►  2019 (251)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Maret (8)
    • ►  Februari (241)
Diberdayakan oleh Blogger.
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by BeautyTemplates