facebook twitter instagram

~ Beartopia ~

  • Home
  • Psychology
  • Joylada
    • Sweat & Tears
    • Freerunning Estafet
    • Pangeran Kuda Putih VS Mr. Cat

A.     PENGERTIAN DEWASA AWAL
Dewasa awal adalah peralihan dari masa remaja. Masa remaja yang ditandai dengan pencarian identitas diri, pada masa awal dewasa, identitas diri ini didapat secara sedikit-demi sedikit sesui dengan umur kronologis dan mental age-nya.
Berbagai masalah juga muncul dengan bertambahnya umur pada masa dewasa awal, dewasa awal adalah masa peralihan dari ketergntungan kemasa mandiri, baik dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri dan pandangan tentang masa depan sudah realistis.
Erickson( dalam Monkas, Knoers & Haditono 2001) mengatakan bahwa seseorang yang digolonkan dalam usia dewasa awal berada dalam tahap hubungan hangat, dekat dan komunikatif dengan atau melibatkan kontak seksual. Bili gagal dalam bentuk keintiman maka ia akan mengalami apa yang disebut isolasi ( merasa tersisihkan dari orang lain, kesepian, menyalahkan diri karena berbeda dengan orang lain).
Hurlock (1990) mengatakan bahwa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai kira-kira 40 tahun, saat perubahan fisik dan psikologis yang menyertai berkurangnya kemampuan reproduksi.
Pada penelitain menyebutkan bahwa salah satu tugas perkembangan pada masa dewasa awal (18-40 tahun)  adalah mencari pasangan hidup (havighust dalam moks, 2001: 290), yang selanjutnya akan diteruskan pada proses pembentukan dan membina keluarga . pada akhir usia 20 tahun pemlihan struktur hidup menjadi semakin penting. Pada usia antara 28-38 tahun pemilihan struktur kehidupan ini menjadi lebih tetap dan stabil. Dalam fase-fase kemantapan ( 33-40 tahun ) orang dengan kemantangannya mampu menemukan tempatnya masyarakat dan berusaha untuk memajukan karier sebaik-baiknya. Pekerjaan dan kehidupan keluarga memmbentuk struktur peran yang memunculan aspek-aspek keperibadian yang diperlukan dalam aspek tersebut (Levision dalam monks, 2001: 296) lebih lengkapnya lagi mengenai  batasan masa dewasa awal akan di uraikan pad bagian ini .
Secara hukum seseorang dikatakan dewasabila dia sudah menginjak usia 21 tahun  (meski belum menikah) atau sudah menikah (meskipun belum berusia 21 tahun ). Di indonesia batas kedewasan adalah 21 tahun. Hal ini berarti  bahwa usia seseorang sudah dianggap dewasa  dan selanjutnya sudah dianggap sudah mempunyai tanggung jawab perbutan-perbuatanya. (Monks, 2001 : 291) dikatakan oleh Hurlock ( 1990) bahwa seseoang dikatakan dewasa bila telah memiliki kekuatan tubuh secara maksimal, siap berproduksi, dan telah diharapkan telah memiliki kesiapan kognitip, afektif, dan psikomotor, serta dapat diharapkan memainkan peranya bersama dengan individu-individu lain dalam masyarakat.
Setiap kebudaan dapat membuat perbedaan usia seseorang dapat dikatakan dewasa secara resmi, yang pada umumnya didasarkan pada perubahan-perubahan fisik dan psikologi tertentu. Dalam hal ini Hurlock (1990: 246) membagi masa dewasa menjadi tiga periode, yaitu :
  Masa dewasa awal ( 18-40 tahun)
Pada masa ini perubahan-perubahan yang tampak antara lain perubahan dalam hal penampilan, fungs-fungsi tubuh, minat, sikap, tinhkah laku sosial.

B.     ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN
              Secara umum, mereka yang tergolong dewasa muda ( young ) ialah mereka yang berusia 20-40 tahun. Menurut seorang ahli psikologi perkembangan, Santrock  (1999)termsuk masa transisi, baik secara fisik (physically trantition) transisi secara itelektual (cognitive trantition), serta transisi peran sosial (social role trantition).
1.    Aspek perkembangan fisik
Dari pertumbuhan fisik, menurut santrock ( 1999) deketahui bahwa dewasa muda sedabng mengalami peralihan dari masa remaja untuk memasuki masa tua. Pada masa ini, seorang individu tidak lagi disebut masa tanggung ( akhil balik), tetapi sudah tergolong sebaagai seorang pribadi yang benar-benar dewasa (maturity). Ia tidak diperlakukan sebagai seorang anak remaja, tetapi sebagaimana layaknya orang dewasa lainnya.penampilan fsiknya benar-benar matang sehingga siap melakukan tugas-tugas seperti orang dewasa lainya, misalnya bekerja, menikah dan mempunyai anak. Ia dapat bertindak secara bertanggungjawab untuk dirinya ataupun orang lain( termasuk keluarganya). Segala tindanya sudah dikenakan aturan-aturan hukum yang berlaku, artinya bila terjadi pelanggaran akibat dari tindakannya akan memperoleh sangsi hukum ( misalnya denda, terkena hukuman pidana atau perdata). Masa ini ditandi pula dengan adanya perubahan fisik, misalnya tumbuh bulu-bulu halus, perubahan suara, menstruasi, dan kemampuan reproduksi. Dengan demikian aspek-aspek meliputi beberapa hal yaitu:
  Kekutan dan energi
Selepas dari bangku pendidikan tinggi, seseorang dewasa muda berusaha menyalurkan seluruh potensinya, untuk menembangkan dirinya melalui jalur karier. Kehidupan karir sering  kali menyita perhatian dan energi sebagai seorang individu. Hal ini karena mereka sedang merintis dan membangun kehidupan ekonomi agar benar-benar mandiri dari oang tua. Selain itu, mereka memiliki energi yang tergolong luar biasa, seolah-olah mempunyai kekutan eksra bila asyik dengan kerjaanya.
  Ketekunan
Untuk dapat mencapai kemapanan ekonomi (economically established), seseorang harus memiliki kemampuan kerja yang disertai ketekunan. Ketika menemukan posisi yang sesuai dengan minat, bakat, dan latarbelakang pendidikannya. Mereka akan tekun melakukan tanggung jawab pekerjaanya dengan baik. Pada mereka yang membujang apabila pekerjaan tidak sesui dengan kariernya maka ia akan mencari pekerjaan yang lain. Sedangkan bagi mereka yang sudah menikah akan terus mengembangkan karirnya walaupun tidak sesui dengan bidang kriernya karena takut mengalami kegagalan.
  Motivasi
Maksud dari motivasi disini adalah dorongan yang berasal dari keadaran diri untuk dapat meraih keberhasilan dalam suatu pekerjaan. Dengaan kata lain, motivasi yang dimaksud adalah motivasi internal. Orang yang memiliki motivasi internal, biasanya ditandai dengan usaha keras tanpa dipengarahi lingkungan eksternal, pada seseorang akan bekerja secra tekun sampi benar-benar mencapai suatu tujuan yang diharapkan, tanpa putus asa walaupaun memperoleh hambatan atau rintangan dari ligkungan eksternal.
2.      Aspek perkembangan kognitif
Masa perkembangan dewasa muda (young adulthood)ditandai dengan keinginan mengaktualisasikan segala ide dan pemikiran yang dimatangkan selama mengikuti pendidikan tinggi (universitas/akademi). Mereka bersemangat untuk meraih tingkat kehidupan ekonomi yang tinggi( mapan). Ketika memasuki masa dewasa muda. Biasanya indiviu telah mencapai pengusaan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang matang. Dengan modal itu, seseorang individu siap untuk menerapkan  keahlian tersebut kedalam dunia pekerjaan. Denadn begitu individu mampu memecahkan masalah secara sistematik dan mampu mengembangkan daya inisiatif-kreatifnya sehingga ia memperoleh pengalaman-pengalaman baru. Dengan pengalaman tersebut, akan akan mematangkan kulitas mentalnya makn baik.
1.      Tipe-tipe intelektual pada masa dewasa awal
Sementar itu, setelah melakukan beberapa penelitian jangka panjang, para ahli
(seperti Baltes dan Baltes, Baltes dan Schaien, Willis dan Baltes), menimpulkan ada beberapa tipe intelektual, yaitu intelegensi kristal ( csiztalized intelligence). Flesiksibilitas kognitif (cognitve flexibility), fleksibilitas visio-motor (visuomotor flexibility), dan visualisasi (visualazation), (Turner dan Helms, 1995).
  Visualisasi, yaitu kemampuan individu muntuk melakukan proses visual. Misalnya, bagaimana memahami gambar-gambar yang sederhana sampai yang lebih kompleks.
  Fleksibilitas kognitif, adalah kemampuan individu memasuki dan menyesuakan diri dari pemikiran yang satu kepemikiran yang lain.
  Fleksibilitas visuamotor, adalah kemampuan untuk menghadapi sesuatu masalah dari yang termudah kehal yang lebih sulit, yang memerlukan aspek kemampuan visual/ motorik ( penglihatan, pengamatan, dan keterampilan tangan).
  Intelegensi kristal, adalah fungsi keterampilan mental yang dapat digunakan individu itu, yang dipengaruhi berbagai pengalaman yang diperoleh melalui proses belajar dalam dunia pendidikan.

3.    Aspek Perkembangan Psikososial
Sebagian besar golongan dewasa muda telah menyelesaikan pendidikan sampaai taraf universitas dan kemudian mereka segera memasuki jenjang karier dalam pekerjaanya. Selain bekerja, mereka akan memasuki kehidupan pernikahan, pembentukan eluarga baru, memelihara anak-anak dan tetap harus memperhatikan orang tua yang semakin tua. Selain itu, dewasa muda mulai memebentuk keluaga denagn pasangan kehidupanya yang telah dibina sejak  masa remaja/masa sebelumya. Havighurst (turner dan helms, 1995) mengemukakan tugas-tugas, perkembngan dewasa muda, di antaranya:
  Mencari dan menemukan calon pasangaan hidup. Setelaah melewati masa remaja, golongan dewasa muda semakin memiliki kematangan fosiologis (seksual) sehingga mereka siap tugaas reproduksi, yaitu mampu melakukan hubungn seksual dengan lawan jenisnya, asalkan memenuhi persyartan yang syaah (perkawinaan resmi).
  Pembina kehidupan rumah tangga. Papalia, olds,dan feldman(1998;2001) menyatakan bahwa golongan dewasa sekitar antra 21-40 tahun. Dari sini mereka men-persiapkan dan membutuhksn diri bahwa mereka sudah mandiri secara ekonomi, artinya sudah tidak tergantung lagi pada orang tua,sikap mandiri ini merupakan langkah positif bagi mereka karena sekaligus dijadikan sebagai persiapan untuk memasuki kehidupan rumah tangga yang baru.
  Menjadi warga negara yang bertanggungjawab. Warga negara yang baik adalah dambaan setiap orang yang ingin hidup tenang, damai, dan bahagia, ditengah-tengah masyarakat. Warga negara yang baik adalah warganegra yang taat dan patuh pada aturan perundang-undangan yang berlaku.
  Meniti karier dalan rangka menetapkan ekonomi rumah tangga. Usia menelesaikan pendidikan formal ditinggkat SMU, akadeemi atau universitas, umumnya dewasa muda memasuki dunia kerja, guna menerapkan ilmu dan keahlianya. Dengan mencapai prestasi kerja yang baik, mereka akan mampu membei kehidupan rumah tangga dengan sebaik-baiknya agar mencapai kebaikan hidup dan dapat mentesuiakan dri dan bekerja sama dengan pasangan hidup masing-masing.
4.    Kesehatan
 Masa dewasa awal adalah masa dimana seseorang mencapai puncak kemampuan fisik dengan kondisi yang paling sehat. Namun pada masa kemampuanfisik individu mulai menurun. Kekuatan dan kesehatan otot mulai menurun sekitar 30-an. Pada masa ini beberapa individu berhenti berpikir tentang gaya hidup pribadi akan mempengaruhi kesehatan hidup mereka sealnjutnya pada kehidupan dewasa dalam setudi longitudinal, kesehatan fisik  diusia 30 tahun dapat memperidiksi kepuasan hidup pda usia 70 tahun yang mana banyak terjadi pada laki-laki daripada perempuan. Pada masa awal dewasa, sistem indea individu mengalami sedikit perubahan, tetapi lensa mata kehilangan elastsitasnya dan menjadi kurang mampu mengubah bentuk dan fokus pada benda-benda yang berjarak dekat. Pendengaran mencapai puncak pada masa rmaja dan tetap konstan pada permulaan dewasa wal, tetapi mulai mengalami penurunan pada masa dewasa awal. Pada pertangahan sampai menjelang 20-an, jaringan lemak tubuh bertambah. Kondisi kesehatan dewasa muda dapat ditingkatkan denagn mengurangi gaya hidup yang merusak kesehatan. Menurut Hurlock, puncak efiensi fisik biasanya tercapai pada usia empat puluhan. Oleh karna itu, pada masa dewasa muda lebih mampu menghadapi dan mengatasi masalah secara fisik sehingga penyesuaian fisik berjalan dengan baik. Pada masa ini individu sudah menyadari adanya kekurangan fisik pad dirinya namun juga menyadari bahwa ia tidak dapat menghapus kekuranganya tapi masih mampu untuk memeperbaiki penampilan, hal ini menimbulkan minat yang yang menyakut pada diet, olahraga dan aspek kecantikan. Minat akan penampilan ini akan bekurang menjelang usia 30-an, karena dirasa makin kuatnya ketegangan dalaam pekerjaan dan rumah tangga.


C.      CIRI –CIRI MASA DEWASA AWAL
Hurlock (1996), menguraikan secara ringkas ciri-ciri dewasa yang menonjol dalam masa-masa dewasa awal sebagai berikut:
1.      Masa dewasa dini sebagai masa pengaturan masa
Masa dewasa awl merupakan masa pengaturan. Pda masa ini individu menerima tanggung jawab sebagai orang dewasa. Yang berarti seorang pria mulai membaentuk bidang pekerjaan yang ditangani sebagai karirnya, dan wanita diharapkan mulai menerima tanggungjawab sebagai ibi dan pengurus rumah tangga.
2.      Masa dewasa dini sebagai usia produktif
Orang tua merupakan salah satu peran yang paling penting dalam hidup orang dewasa . orang yang kawin berperan sebagai orang tua waktu saat ia berusia duapuluh atau tigapuluh tahun.
3.      Masa dewasa dini sebagai masa bermasalah
Dalam tahun-tahun awal masa dewasa banyak masalah baru yang harus dihadapi seseorang. Masalah-masalah baru ini dari segi utamanya berbeda dengan dari masalah yang sudah dialami sebelumnya.
4.      Masalah dewasa dini sebagai masalah ketegangan emosional.
Pada masa ini banyak individu sudah mampu memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi secara baik sehingga lebih stabil dan lebih tenang.
5.      Masa dewasa sebagai masa terasingan sosial
Keterasingan diintensikan dengan adanya semangat bersaing dan hasrat kuat untuk maju dalam karir, sehingga keramahtamahan masa remaja diganti dengan persaingan dalam masyarakat dewasa.
6.      Masa dewasa dini sebagai masa komitmen
Setekah menjadi orang dewasa, individu akan mengalami perubahan, dimana mereka akan memiliki tanggungjawab sendiri dan komitmen-komitmen sendiri.
7.      Masa dewasa dini sering merupakan masa ketergantungan
Meskipun telah mencapai status dewasa, banyak individu yang masih tergantung pada orang-orang tertentu dalam jangka waktu yang berbeda-beda. Ketergantungan ini mungkin pada orang yang membiayai pendidikan.
8.      Masa dewasa dini sebagai masa perubahan nilai
Perubahan karena adanya pengalaman dan hubungan sosal yang luas dan nilai-nilai itu dapat dilihat dari kacamata orang dewasa. Perubahan nilai ini disebabkan karena beberapa alsan yaitu, individu ingin diterima oleh anggota kelompok orang dewasa, individu menyadari bahwa kelompok sosial berpedoman pada nilai-nilai konvensional dalam hal keyakinan dan perilaku.
9.      Masa dewasa dini masa penyesuain diri dengan dengan cara hidup baru.
Masa individu banyak mengalami perubahan dimana gaya hidup baru paling menonjol dibidang perkawinan dan peran orang tua.
10.  Masa dewasa dini sebagai masa kreatif.
Orang yang dewasa tidak terikat lagi oleh ketentuan dan aturan oang tua maupaun guru –gurunya sehingga terbebas dari belenggu ini bebas untuk berbuat apa yang mereka inginkan bentuk kreatifitas ini tergantung dengan minat dan kemampuan individual.

D.    TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN  AWAL DEWASA
Optimalisasi perkembangan dewasa awal mengacu pada tugas-tugas perkembngab dewasa awal menurut R.J Havighurt ( Op Cit,1953:31-32), telah mengemukakan rumusan tugas-tugas perkembangan dalam masa dewasa awal sebagai berikut:
1.      Memilih teman bergaul( sebagai calon suami istri)
Setelah melewati masa remaja, golongan dewasa muda semakin memiliki kematangan fisiologis ( seksual), sehingga mereka siap melakukan tugas reproduksi,yaitu mampu melakukan hubungan seksual denagn lawan jenisnya. Mereka kan berupaya mencari calon teman hidup yang cocok dijadikan pasangan dalam perkawinan atau membentuk kehidupan rumah tangga  berikutnya. Mereka akan menentukan kiteria usia, pekerjaan, atau suku baangsa tertentu, sebagai persyaratan  pasanagan hidup.
2.      Belajar hidup bersama suami istri
Dari pernikahannya, dia akan saling menerima dan memahami pasangan masing-masing, saling menerima kekurangan dan saling membantu membangun rumah tangga. Terkadang terdapat batu sandungan yang tidak bisa dilewati,sehingga berakibat pada perceraian. Ini terjadi karena kuranganya kesiapan atau ketidak dewasaan dalam menanggapi masalah yang dihapi bersama.
3.      Mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga
Masa dewasa yang memiliki waktu sekitar 20 tahun (20-40) dianggap sebagai rentang yang cukup panjang. Terlepas dari panjang atau pendek rentang waktu tersebut, golongsn dewasa muda berusia di atas 25 tahun, umumnya telah menyelesaikan pendidikan minimal setingkat SLTA/SMU,Akademik, universitas. Selain itu, sebagian besar diri mereka yang telah memasuki dunia pekerjaan guna meraih karier tertinggi. Dari sini, mereka mempersiapakan dan membukukan diri bahwa mereka sudah mandiri secara ekonomis, artinya sudah tidak tergantung lagi pada orang tua. Sikap mandiri ini merupakan sikap positif bagi mereka karena sekaligus dijadikan sebagai persiapan untuk memasuki kehidupan rumah tangga yang baru. Dan belajar mengasuh anak-anak.
4.      Mengelola rumah tangga
Setelah menjalani pernikahan, dia akan berusaha mengelola rumah tangganya. Dia akan berusahaa membentuk, membina,dan mencapai kebahgian hidup. Merak harus dapat menyesuaikan diri dan bekerjasama dangan pasaangan hidup. Mereka  harus dapat menyesuiakan diri dan bekerja sama dengan paasaangan maasing-masing.merekaa juga harus melahirakan, membesarkan, mendidik, dan membina anak-anak dalaam kelurga. Selain itu, tetap menjalani hubungan baik denagn kedua orang tua ataupun saudara-saudaranya yang lain.
5.      Mulai bekerja dalaam suatu jabaatan.
Usai menyelesaikan pendidikan formal setingkat SMU, akademi atau universitas, umumnya dewas muda memasuki dunia kerja, guna menerapkan ilmu dan keahlianya. Sesui minat dan bakat yang dimiliki, serta memberi jaminan keuangan masa depan yang baik. Bila merasa cocok dengan karier tersebut, mereka akan merasa puas dengan pekerjaan dan tempat kerja. Sebaaliknya, bila tidak atau belum cocok antara minat /bakat dengan jenis pekerjaan, mereka akan behenti dan mencari jenis pekerjaan yang sesuai denagn selera. Masa dewasa muda adalah masa untuk mencapai puncak prestasi. Dengan semangat yang menyala-nyala dan penuh idealisme, mereka bersaing dengan teman sebaya ( atau kelompok yang lebih tua) untuk menunjukkan prestasi kerja.
6.      Mulai bertanggungjawab sebagai wargaa negara secara layak
Warganegara yang baik adalah dambaan baagi setiap orang yang ingin hdup tenang, damai, dan bahagia ditengah-tengah masyarakat.warganegara yang baik adalah warganegara yang taat dan patuh pada tata aturan perundang-undangan yang berlaku.
7.      Memperoleh kelompok sosial yang seirama dengan nilai-nilai pahamnya.
Masa dewasa awal ditandai juga dengan membentuk kelompok-kelompok sesui dengan nilai-nilai yang dianutnya. Salaah satu contohny adalah membentuk ikaatan sesui dengaan profesi dan keahlian.

E.     MASALAH PERKEMBANGAN DEWASA AWAL
Denagn perkembngan usia, semakin bertambah pula masalah-masalah yang menghampiri. Dewasa awal adalah masa transisi, dari remaja yng hura-hura kemasa yang menuntut tanggung jawab. Tidak bisa dipungkiri bahwa banya orang dewasa awal mengalami masalah-masalah dalam perkembangannya. Masalah-masalah itu antara lain:
1.      Penentuan identitas diri  ideal vs kekaburan identitas.
2.      Kemandiriaan vs ketidak mandirian.
3.      Sukses meniti jenjang pendidikan dan karier vs kegagalan menempuh jenjang pendidikan dan karier.
4.      Menikah vs tidak menikah (lambat menikah)
5.      Hubungan sosial yang sehat vs menarik diri.

Dalam menjalani masa dewasa awal, ada beberapa masalah yang menjadi penghambat perkembngan. Khususnya dalam masa awal dewasa, diantara penghambat yang sangat penting sehingga menyukarkan penguasaan tugas-tugas perkembangan, diantaranya:
  Latihan yang yang tidak berkesinambungan (discontinuities); sebagai salah satu penghambat pengusaan tugas-tugas dewasa awal, berhubungan erat dengan pengalaman-pengalaman belajar dan latihan masa lalu.
  Pelindungan yang berlibihan (over protectiveness); bersangkutan dngan pola asuh orangtua yang pernah dialami dalam masa kanak-kanak.
  Perpanjnagan pengaruh-pengruh pee-group (prolongation of peer-group influences); satu diantara penghambat bagi orang dewasa awal dalam menguasai tugas-tugas perkembangan. Disini akan terlihat pengaruh kelompok-kelompok, kushus bagi perkembangan dewasa awal.
  Inspirasi-inspirasi yang tidak realistic (unrealistic aspiration); kesukaran-kesukaran dewasa awal, dapat ditimbulkan oleh oleh konsep-konsep yang tidak realistis dalam benak dewasa awal ( yang baru meninggalkan masa remaja ) tentang apa yang di harapkan dengan apa yang didapat capai.


http://perkembngandewasawal.blogspot.co.id/
http://www.psychologymania.com/2011/09/periodesisasi-perkembangan-masa-dewasa.html.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
DETERMINAN KEPEMIMPINAN

Abstraksi        

Maksud dari penelitian ini adalah untuk mencari determinan yang menentukan kepemimpinan.Penelitian dilakukan di 13 bandara dan kantor pusat pengelola yang terdiri dari 84 unit kerja dalam berbagai tingkat mencakup berbagai macam kegiatan dengan jumlah sampel sebesar 3.048 responden dari populasi 4.150 pegawai. Hasil temuan dalam penelitian kepemimpinan menurunkan 22 hipotesa yang berdampak pada kepemimpinan. Dari 22 variabel independen atau variabel bebas terdapat 16 variabel yang berdampak positif pada kepemimpinan dan berdampak balik serta langsung berakumulasi. Ke 16 variabel itu adalah pembawa perubahan, komunikasi, kepemimpinan dalam pekerjaan, jejaring,pengembang orang lain, pengaruh, kerja kelompok, keragaman, pemakaian bahasa daerah, komitmen, kedisiplinan,keteladanan, kepamrihan kerja, keoptimisan, tindakan saling mengasihi, dan kekonsistenan. Hanya 1 variabel bebas yang berdampak pada kepemimpinan secara positif tapi tidak berdampak berbalik, yaitu dalam penggunaan piranti lunak selain MS Office, sedangkan 5 variabel independen yang lain berdampak negatif pada kepemimpinan dan tidakberdampak balik dan dengan sendirinya tidak akumulatif, yaitu variabel kebahagiaan, ketekunan, keefisienan, kesopansantunan dalam melayani, dan norma yang berlaku.





A.    Judul                                                           : Determinan Kepemimpinan
B.     Jurnal vol ,halaman                                  :  Makara,Sosial Humaniora,Vol.7,No.2.

C.     Penulis                                                         :  Bob WawoRuntu

D.    Tanggal                                                       :  Desember 2003

E.     Tujuan                                                     : Jadi tulisan ini murni melihat kepemimpinan dari  
perspektif nilai-nilai orang Indonesia dengan organisasi Indonesia, dalam konteks budaya Indonesia. Tulisan yangberdasarkan penelitian kepemimpinan ini inginmenjawab determinan-determinan yang menentukankepemimpinan dan kepemimpinan itu sendirimenentukan variabel tertentu. Ada banyak penelitiandan tulisan tentang kepemimpinan yang melahirkanbegitu banyak definisi, model, dan teori kepemimpinandi dunia ini. Selanjutnya dalam makalah ini akan dipaparkan berbagai teori, dari berbagai pakarkepemimpinan untuk dapat melihat perspektif lebih dalam dan luas ke depan tentang kepemimpinan. Penelitian dan tulisan ini tidak mengkorfirmasikan suatuteori apa pun melainkan merupakan penelitian eksploratif yang dapat menambah sumbangan pada teori dan temuan yang telah ada tentang sebuah model kepemimpinan di salah satu BUMN di Indonesia Walaupun demikian perlu diuraikan secara singkatberbagai teori tentang kepemimpinan yang menyebar di ilmu manajemen dan organisasi.

F.      Subjek Penelitian                                           : Daftar pertanyaan diedarkan kepada semua                                    pegawai yang populasinya adalah 4.150.

G.    Metode Penelitian                                          : Metodologi penelitian mengenai kepemimpinan               
yang diuraikan di sini membahas mengenai studi kedalaman, instrumen pengukuran, survei, sampel, serta metode analisis data.

H.    Defenisi Operasional Variabel Penelitian  : Studi kedalaman dilakukan pertama-tama melalui
pengamatan, wawancara, dan diskusi kelompok secara terarah dengan beberapa pimpinan dari berbagai tingkat atau eselon, serta staf pelaksana di beberapa unit kerjandi 13 bandara dan kantor pusatnya. Semua bandara ini terletak di Indonesia Tengah dan Timur. Para pejabat yang diwawancarai memiliki pengalaman paling kurang 2 atau 3 tahun di pekerjaannya. Temuan dari studi kedalaman mencakup 147 elemen nilai kerja atau variabel; 146 variabel diperlakukan sebagai variable bebas dan variabel kepemimpinan sebagai variable terikat.  Berdasarkan studi kedalaman ini ditemukan 147 elemen nilai kerja sebagai variabel yang harus diukur kebenarannya melalui survei yang lebih luas dan dalam. Alat ukur yang dipakai sebagai instrumen penelitian berupa daftar pertanyaan dengan pernyataan positif. Semua elemen kerja yang berupa 147 variabel termasuk variabel kepemimpinan diukur dengan skala Likert atau skala ordinal, skala 1 sampai dengan skala 5. Daftar pertanyaan diedarkan kepada semua pegawai yang populasinya adalah 4.150. Cara ini adalah pendekatan sensus di semua unit kerja di 13 bandara dan kantor pusatnya. Data penelitian ini diambil dari penelitian atau hasil survei WawoRuntu 2002 yang belum menjawab elemen nnilai kerja kepemimpinan dan faktor kausalitasnya. Jumlah daftar pertanyaan yang dikembalikan adalah 3.048 dari 4.150. Jadi besar sampel yang diperoleh adalah 73%. Daftar pertanyaan yang dikembalikan jauh di atas 50% dan yang tidak dikembalikan, kosong, atau tidak berlaku besarnya 27%, berarti jauh di bawah 50%. Oleh karena itu, ukuran sampel yang terkumpul sangat besar dan dapat diandalkan sebagai bahan kajian. Semua variable dikaji secara deskriptif untuk menguji kembali data secara benar. Kepemimpinan adalah variabel terikat (dependent variable) dan 146 variabel lain adalah variabel bebas (independent variable). Untuk analisis data dipakai regresi ganda dengan cara step wise. Jadi kepemimpinan sebagai fungsi dari 146 variabel yang lain. Variabel yang mempengaruhi yang diambil hanya yang signifikan = 0,05 atau -2 = t = +2.

I.       Teknik Analisis Data                                                 : Semua variabel dikaji secara deskriptif 
untuk menguji kembali data secara benar. Kepemimpinan adalah variabel terikat (dependent variable) dan 146 variabel lain adalah variabel bebas (independent variable). Untuk analisis data dipakai regresi ganda dengan cara step wise. Jadi kepemimpinan sebagai fungsi dari 146 variabel yang lain. Variabel yang mempengaruhi yang diambil hanya yang signifikan ≤ 0,05 atau -2 ≥ t ≥ +2.  Terbukti hanya 22 variabel independen yang signifikan terhadap kepemimpinan. Variabel ini kemudian diuji. apakah kepemimpinan berdampak balik pada variabel independen yang signifikan dan memiliki pengaruh akumulatif. Semua variabel yang berdampak signifikan secara bergiliran menjadi variabel dependen dan secararegresi ganda dengan pendekatan step wise diuji dampaknya masing-masing, variabel dependen dengan 146 variabel yang lain dan termasuk kepemimpinan di tingkat pengujian dikembalikan sebagai variabel bebas dan tidak terikat. Semua variabel yang berdampak atausaling berbalik dampak memakai koefisien ßeta. Koefisien ini memakai z-score atau skor yang telah distandardisir yang berdasarkan skala ordinal telah ditransformasi ke skala rasio. Artinya skala ini telah memiliki nol mutlak, 0 adalah rata-rata hitungnya dari skor mentah yang ordinal telah menjadi skala rasio yang kontinu angkanya karena memiliki nol mutlak. Melalui perhitungan z-score, angka positif dari z-score adalah angka di atas rata-rata dan yang negatif berada di bawah rata-rata skor mentah dari skala ordinal. Jadi semua varibel telah memiliki skala pengukuran standar yang menjadi skala rasio dengan satuan pengukuran yang sama yang dapat diperbandingkan dan dapat dipadu dalam perhitungan. Ini adalah salah satu cara untuk meningkatkan skala pengukuran dan dapat dipakai statistik parametrik.

J.       Hasil  Penelitian                                                      : Penelitian ini akan menjawab pertanyaan:
 Apakah faktor-faktor yang menjelaskan kepemimpinan? Faktorfaktor signifikan hanya ada 22 faktordari 146, yang menjelaskan kepemimpinan memandu kelompok dan orang lain. Terbukti dari Tabel bahwa tidak semua dari 22 elemen kerja berperilaku penentu positif terhadap kepemimpinan,ada 5 elemen kerja yang cenderung memberi dampak negatif pada kepemimpinan yang memandu kelompok dan orang lain. Hasil temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa masih terbuka peluang untuk melakukan penelitian yang  sama dengan variabel yang sama dan mencari elemenkerja lain sebagai variabel yang belum teramati danteruji dalam penelitian ini, karena dalam penelitian inivariable bebasnya hanya menjelaskan 51% variable terikat kepemimpinan (R2 = 0,5 14). Selanjutnya, terbukti dari penelitian ini bahwa 49% belum menjawabatau belum menjelaskan dampak faktor-faktor di luar vaniabel independen kepemimpinan. Variabel penentu berdampak positif artinya bahwa kepemimpinan dengan variable penentunya berjalan searah atau salingmemperkuat atau saling memperlemah kepemimpinan.Pada dampak negatif, variable-variabel penentu cenderung bertolak belakang dengan variablekepemimpinan. Variabel tersebut saling bertentangan arah; artinya makin kuat variable penentu, cenderung makin melemahkan kepemimpinan.

K.    Kekuatan penelitian                                                 :  Faktor yang berdampak positif atau        
berjalan searah dan berakumulasi dengan kepemimpinan memandu   kelompok dan orang lain terlihat dari koefisien standar ßeta positif dalam tabel 1, yaitu pembawa perubahan,  komunikasi, kepemimpinan dalam pekerjaan, jejaring, pengembang orang lain, pengaruh, kerja kelompok, keragaman, pemakaian bahasa daerah, komitmen, kedisiplinan, penggunaan piranti lunak selain MS Office, keteladanan, kepamrihan kerja, keoptimisan, tindakan saling mengasihi, dan kekonsistenan.

L.      Kelemahan  Penelitan                                             :  Pada dampak negatif, variable-variabel
penentu cenderung bertolak belakang dengan variable kepemimpinan. Variabel tersebut saling bertentangan makin melemahkan kepemimpinan, tetapi dampak negative pada kepemimpinan tidak berbalik dampak. Variabel yang menentukan dan ditentukan kepemimpinan terlihat dalam Tabel 1.
 


Share
Tweet
Pin
Share
1 komentar
Older Posts

Labels

Analisis Kasus Antropobiologi Antropologi Budaya Asesmen Kepribadian Asesmen: Observasi dan Wawancara Bahasa Indonesia Bahasa Inggris Cerita Rakyat Cerpen Filosofi Filsafat Grafologi HRD Ilmu Kesehatan Mental & Psikopatologi Intervensi Dasar Kelompok dan Komunitas Intervensi Dasar Organisasi Jurnal Ketamansiswaan Kewarganegaraan Kode Etik Psikologi Kuliner Metode Penelitian Kualitatif Metode Penelitian Kuantitatif Parenting Pend. Agama Islam Pendidikan Pancasila Pengembangan Skala Psikologi Pengembangan Tes Prestasi Penyakit Kulit Perilaku Konsumen Psikodiagnostika Psikologi Psikologi Abnormal Psikologi Analitis Psikologi Eksperimen Psikologi Emosi Psikologi Faal Psikologi Forensik Psikologi Industri dan Organisasi Psikologi Kepemimpinan Psikologi Kepribadian Psikologi Kesukaran Belajar Psikologi Kewirausahaan Psikologi Klinis Psikologi Kognitif Psikologi Komunikasi Psikologi Konseling Psikologi Orhius Psikologi Pelatihan dan Pengembangan Psikologi Pendidikan Psikologi Perkembangan Psikologi Seni Psikologi Sosial Psikologi Teknologi dan Informasi Psikologi Transpersonal Psikologi Ulayat (Indigenous Psychology) Psikologi Umum Psikometri Puisi Review Jurnal Sosiologi Statistika Statistika Inferensial Tes Psikologi Tips & Trik Umum

Popular Posts

  • Modul Interpretasi-Tes Grafis (DAP-BAUM-HTP-Wartegg)
  • KRIMINALITAS
  • Pandangan Teoritis Tentang Tingkah Laku Abnormal
  • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask
    Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum dan Triple Glow Serum Mask
  • ILMU KALAM

Time

Translate

About me

Anak pertama dari empat bersaudara, dilahirkan 23 tahun lalu di Kabupaten Polewali Mandar pada tanggal 04 April 1996 yang akhirnya memiliki dua suku yaitu suku Mandar dan Jawa.

Punya hobi bermain game online, menulis dan memasak. Suka traveling walau kantong tipis. Bercita-cita jadi dokter hewan dan psikolog. Si Pleghmatis yang kadang Koleris. Si cuek yang menyukai romantis. Si tukang nangis yang suka marah-marah. Si nekat yang takut sendirian. Si cadel yang susah untuk ngucapin p atau f dan juga r.

Blog Archive

  • ▼  2022 (1)
    • ▼  Maret (1)
      • Serum Pencerah Wajah Terbaik: Triple Glow Serum da...
  • ►  2019 (251)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  Maret (8)
    • ►  Februari (241)
Diberdayakan oleh Blogger.
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by BeautyTemplates